Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Cerita KKN yang Lebih Seram Dibanding Kisah KKN di Desa Penari

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
31 Agustus 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kisah horor KKN di Desa Penari mungkin dianggap sudah begitu seram. Padahal tanpa perlu urusan dengan makhluk halus, cerita KKN kadang sudah seram banget.

Cerita KKN memang akrab dengan kisah-kisah seram. Tak perlu melulu cerita horor gaib betulan kayak kisah “KKN di Desa Penari” yang lagi viral itu. Ada banyak hal-hal yang cukup seram sebenarnya tanpa melibatkan unsur-unsur makhluk halus.

Dalam beberapa hal, kisah seram seperti KKN di Desa Penari itu sebenarnya tidak lebih menakutkan ketimbang kamu tiba-tiba ditodong untuk membantu proyek pembangunan gapura desa atau ngaspal jalan.

Masih mending kalau cuma dimintai tolong untuk bikin proposal mencari donatur, lha kalau nggak dapat donatur lalu jatuhnya kamu malah jadi harus patungan dengan teman sesama KKN buat nyumbang dana kan ya remook to?

Selain itu masih ada banyak kejadian seram lain. Saking seremnya, bahkan sampai menyangkut langsung ke kampus si mahasiswa yang lagi KKN tersebut. Kejadian seperti ini benar-benar dialami teman saya. Sebut saja namanya Iswara, mahasiswa jurusan seni rupa di salah satu kampus negeri di Yogyakarta.

Kebetulan Iswara KKN di sebuah daerah terpencil yang memang banyak gentho-nya (baca: preman). Karena salah salah satu indikator program mahasiswa yang sedang KKN adalah berusaha membaur dengan warga sekitar, maka Iswara menawarkan jasa bikin tato gratis di posko KKN. Tujuannya jelas, biar bisa akrab dengan gentho-gentho kampung.

Tak disangka, peminat program tato gratis (yang tentu saja tidak masuk di laporan KKN) ini banyak banget. Saking banyaknya, Iswara jadi kebanjiran orderan. Meski begitu, Iswara tidak masalah sama sekali. Toh, dia juga suka nggambar. Dan jadi punya banyak kenalan gentho-gentho kampung. Ya kan juga lumayan untuk bekingan.

Masalahnya, permintaan tato gentho-gentho kampung ini makin lama makin aneh dan makin rumit. Bahkan di beberapa gambar tato ada yang sangat detail sehingga memerlukan waktu berhari-hari. Mana yang antre banyak lagi. Akhirnya, agar semua “merasa” kebagian ditato, Iswara berinisiatif mencicil tato permintaan gentho-gentho kampung ini.

Saking banyaknya yang antre dan saking banyaknya yang ingin tato, Iswara sampai kewalahan. Sampai akhirnya ketika program KKN di desa tersebut sudah selesai jadwalnya, ada beberapa gentho yang tatonya belum selesai digambar.

Saya jadi membayangkan, bagaimana perasaan para gentho kampung ini ketika tahu Iswara si mahasiswa jurusan seni rupa ini kabur begitu saja dari desanya, padahal gambar di tubuhnya belum selesai.

Awalnya, Iswara mengira itu bukan masalah besar. Apalagi tato bikinannya juga nggak bisa dibilang sebagai tato yang bagus. Masalahnya, suatu hari kampusnya mendadak didatangi oleh gerombolan gentho kampung. Kampus geger. Dipikir mau ada tawuran atau kerusuhan besar karena tiba-tiba kampus disusupi preman-preman berwajah sangar.

Setelah diselidiki oleh pihak kampus, ternyata gerombolan preman yang masuk kampus ini cuma mau nagih urusan penyelesaian gambar tato yang dibikin Iswara di tubuh mereka.

“Enak aja, badan saya udah ditato belum selesai kok main kabur-kabur aja. Ini gambar naga baru garisnya doang. Dikira cacing kremi gimana?”

Konon, gara-gara kejadian ini, pihak kampus negeri ternama di Yogyakarta ini akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan program KKN sampai sekarang. Hadeh. Bukannya Kuliah Kerja Nyata, malah cari perkara. Ya jelas seram kalau tiba-tiba kampusmu digeruduk satu batalion preman kampung. Nggak kalah seram lah sama cerita horor KKN di Desa Penari.

Iklan

Tapi bukan cuma itu saja kisah seram dari KKN di kampus tersebut. Ada satu lagi. Dan ini dialami oleh salah satu mahasiswa Prodi Seni Media Rekam Jurusan Televisi, sebut saja namanya Doni.

Yah, seperti yang kita tahu bersama, program-program KKN selalu disesuaikan dengan jurusan si mahasiswa. Hanya saja kadang nama jurusan dengan harapan warga masyarakat di tempat KKN sering salah kaprah.

Baru minggu pertama Doni KKN, tiba-tiba dia sudah didatangi oleh seorang warga yang ingin meminta bantuan. Tentu saja Doni merasa bangga. Baru saja satu minggu, kemampuannya sudah diakui oleh warga sekitar.

Mungkin dalam bayangan Doni, ada warga yang ingin meminta bantuan untuk berbagi ilmu merekam aktivitas warga desa agar menarik. Kan lumayan kalau dibikinkan video soal promosi desa tersebut sebagai desa wisata.

Sampai kemudian terjadi dialog goblok dan lebih seram dari cerita KKN di Desa Penari ini.

“Ada apa ya, Pak?” tanya Doni senyam-senyum.

“Begini, Mas. Kami ada masalah besar ini. Dan cuma sama sampeyan saja masalah ini bisa diselesaikan di kampung kami,” kata si bapak.

Semakin berbunga-bunga lah dada Doni. Merasa kemampuannya tiada banding, tiada tanding.

“Iya, Pak. Apa yang bisa saya bantu?” tanya Doni lagi percaya diri.

Tiba-tiba si bapak ini keluar dari ruang tamu. Lalu dari teras mengusung satu televisi tabung segede gaban dan menaruhnya begitu saja di hadapan Doni.

“Ini, Mas. Tipi saya rusak. Kalau dibawa ke kota untuk diperbaiki kan jauh sekali. Bawanya juga susah. Lha ini kan mumpung sampeyan dari jurusan televisi jadi saya minta tolong ini diservis ya, Mas?”

……

…

“Ta, tapipaaaak.”

BACA JUGA Ringkasan Cerita KKN di Desa Penari buat Para Pemalas dan Penakut atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 31 Agustus 2019 oleh

Tags: KKNKKN di desa penari
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Mahasiswa KKN di desa
Catatan

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Mahasiswa KKN.MOJOK.CO
Kampus

KKN Bikin Warga Muak Kalau Program Kerja Template dan Kelakuan Mahasiswanya Tak Beretika

17 Oktober 2025
KKN UMY Tidak Hanya Bisa Bikin Papan Nama MOJOK.CO
Esai

Mahasiswa UMY Atasi Sampah di Laut Wakatobi dengan Stove Rocket, Bukti KKN Tidak Hanya Bikin Papan Nama

6 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Uang recehan di dasbor motor Honda Genio ibu jadi berkah dan penyelamat bagi anak-anaknya dan orang-orang di lampu merah MOJOK.CO

Kebiasaan Ibu Taruh Uang Receh di Dasbor Motor: Jadi Berkah dan Penyelamat bagi Anaknya serta Orang-orang di Lampu Merah

9 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Fitur "Pilih Kursi" di KAI Access terasa percuma karena penumpang di kereta api ekonomi tidak tahu diri MOJOK.CO

Fitur “Pilih Kursi” KAI Access Terasa Percuma, Mau Duduk Nyaman di Kursi Incaran tapi Malah Makin Kesal

8 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.