Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Cara Orang Jogja Menikmati Kuliner Malioboro dengan Murah

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
27 Mei 2021
A A
rerasan-malioboro-plang-jalan-aksara-jawa-mojok
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kuliner Malioboro mungkin terasa mahal bagi wisatawan luar Jogja, kecuali kamu tahu trik-trik ala orang Jogja kayak di bawah ini.

Viral seorang wisatawan yang mengeluhkan harga pecel lele di sekitaran Jalan Malioboro begitu mahal tiba-tiba bikin banyak orang kelabakan.

Jogja yang dikenal dengan kuliner murah-murah termasuk UMR-nya jadi runtuh seketika reputasinya. Ini apa-apaan pecel lele di deket Jalan Malioboro harganya sampai 37 ribu per porsi tanpa lalapan dan sambel?

mungkin mbaknya cuma salah satu aja yg ngomongin soal harga yg ga masuk akal..
padahal kenyataannya bwanyak mungkin dan gak mau speak up..
karena, percumaaa tidakk adaa yg menindakk lanjutiii.. ?pic.twitter.com/wUB8eTMl05

— txtdarijogja (@txtfromjogja) May 26, 2021

Oleh sebab itu, sebagai media yang tumbuh kembang sejak kromosom di Jogja, Mojok merasa perlu untuk memberi rekomendasi buat kamu-kamu-kamu yang mau main di Jogja, tertama di Jalan Malioboro, untuk bisa tetep menikmati kuliner Malioboro dengan murah.

Kuliner Malioboro memang terasa mahal, kecuali kamu tahu trik-trik ala orang Jogja kayak di bawah ini.

Menikmati kuliner Malioboro nggak harus malam hari

Oke, saya tahu, wisata kuliner di Malioboro itu enaknya emang malem-malem. Nggak gerah, warung lesehan ada di mana-mana, dan suasananya seru. Tapi sebenarnya, kamu bisa menikmati kuliner Malioboro saat pagi atau siang hari.

Pecel Senggol di depan pintu masuk Pasar Beringharjo bisa kamu coba kalau kamu ingin merasakan vibe kuliner Malioboro tapi nggak bikin kantong jebol.

Soal harga memang sedikit mahal dari pecel pada umumnya, tapi kan ini Pasar Beringharho yang legendaris itu. Ya nggak apa-apa lah lebih mahal 2-3 ribu untuk menikmati pecel senggol ini. Rasanya juga nggak mengecewakan kok. Worth it lah.

Atau kalau kamu nggak suka pecel, kamu bisa menikmati bakso atau mie ayam di dalem Pasar Beringharjo. Syaratnya satu: ya kamu datang pagi atau siang, jangan malem. Soalnya kalau malem pasarnya tutup.

Siang-siang tapi mau makan kucingan atau angkringan? Bisa. Kamu bisa mampir di mana saja. Sejauh pengalaman saya, angkringan di Malioboro yang buka siang itu nggak mahal-mahal amat kok.

Cuman syaratnya, kamu perlu paham membedakan angkringan murah dan angkringan mahal dalam khasanah kuliner Malioboro.

Sepengamatan saya, angkringan yang beneran pakai gerobak angkringan tanpa ada lesehannya cenderung lebih murah, ketimbang angkringan yang cuma pakai gerobak angkringan untuk properti atau hiasan doang, terus yang beli pada lesehan semua.

Kuliner Malioboro itu ya jajan, bukan makan

Jalan Malioboro itu tempat wisata, bukan tempat makan. Itu pola pikir yang sering dipakai orang Jogja kalau lagi main ke Jalan Malioboro. Makanya, mindset kuliner Malioboro itu sebenarnya nggak ada di kepala orang yang lahir ceprot di Jogja.

Iklan

Kalau mau makan enak dan worth it, ya jangan kuliner Malioboro, tapi kuliner Jogja, keliling Jogja. Ada sate klatak di Selatan, soto Pak Soleh, atau bakmi jawa di Gunung Kidul. Itu yang sebenar-benarnya wisata kuliner, bukan yang cuma berhenti di kuliner Malioboro.

Oke deh, mungkin kamu pikir makan di Malioboro itu asyik, seru, dan lumayan buat dokumentasi video yang layak diunggah di media sosial. Saran saya, kalau masih ingin kuliner Malioboro dan budjet nggak banyak, mending beli jajan-jajan pasar aja.

Sekadar beli cilok, cireng, gorengan, atau kopi keliling. Selisihnya emang masih ada, sedikit mahal, tapi harganya nggak kelewat jauh ketimbang kamu beli makan berat kayak pecel lele atau nasi goreng.

Bawa bekal

Sebagai orang Jogja, saya seumur-umur baru sekali wisata kuliner Malioboro. Alasannya simpel, sejak kecil lesehan Jalan Malioboro itu dikenal ngeri kalau matok harga. Ini cerita rakyat yang sudah dimengerti oleh orang Jogja sejak bertahun-tahun silam.

Buat kamu, wisatawan dari luar Jogja, mungkin kamu berpikir… “Halah, berapa sih paling habisnya,” jangan salah, matok harganya bisa sampai 3-5 kali dari ekspetasimu dan betul-betul mengejutkan kayak video yang viral belakangan itu.

Pengalaman pertama dan terakhir saya ketika nemenin orang yang sok-sokan begitu sih dia habis 70 ribuan untuk tiga porsi makan pecel lele (minum air es) dan itu pun ketika masih tahun 2005. Kalau dikonversi harga sekarang bisa lebih dari seratusan ribu itu.

Oke, saya tahu, Pemda Jogja dan Paguyupan Lesehan Malam Malioboro sendiri sudah melakukan perbaikan beberapa tahun ke belakang soal harga ini, tapi reputasi harga mahal untuk kuliner Malioboro itu masih melekat—terutama untuk orang-orang Jogja sendiri.

Jadi kebanyakn orang Jogja kalau mau jalan-jalan di Jalan Malioboro itu malah sering bawa bekal jajan sendiri. Bisa beli jajanan dulu di Pasar Kranggan (dekat Tugu Yogyakarta) atau minimarket sekitar Malioboro. Lalu ke Malioboro cuma buat cari tempat buat nongkrong doang.

Atau kalau mau lebih irit tapi tetep bisa kenyang, kamu bisa bawa nasi plus lauk dari rumah, bawa tiker, kalau perlu bawa tenda sekalian, bawa banner. Terus ikut jualan deh.

BACA JUGA Harga Makanan yang Mahal di Malioboro Tidak untuk Diwajarkan, Apalagi Diromantisasi atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 27 Mei 2021 oleh

Tags: beringharjojalan malioboroKuliner Jogjakuliner malioboroPasarpecel leleTugu Yogyakartawisatawisata kuliner
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa MOJOK.CO
Kilas

“Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa

29 Maret 2026
5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co
Pojokan

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Gagal kerja di Jakarta sebagai musisi. MOJOK.CO

Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung

11 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.