Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Buat Apa Kerja Keras untuk Pekerjaan yang Tidak Kita Suka?

Audian Laili oleh Audian Laili
6 Februari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dengan kerja keras kita memang bisa mendapatkan hal yang bikin bahagia. Namun dengan kerja keras juga, kita mendapatkan ketidakbahagiaan.

Bagi banyak orang, terlalu menenggelamkan diri dalam pekerjaan bukan dianggap sebagai masalah yang berarti. Dalam budaya kita, bekerja keras memang memiliki nilai yang besar. Mungkin ada skema dalam masyarakat yang menjadikan rutinitas semacam itu adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan, sebagai makhluk hidup yang bertanggung jawab akan masa depan.

Seolah-olah, tidak masalah jika kita bekerja setiap hari. Tidak mengenal waktu, tidak mengenal hari libur. Toh, bagaimana pun juga kita harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bukankah kita butuh uang untuk bertahan hidup? Namun, apakah betul peran uang ini sebegitu pentingnya untuk menentukan kebahagiaan kita? Apakah banyak uang memang betul-betul jaminan bahwa kita tidak akan merasakan hampa—karena bisa membeli apapun yang kita mau?

Lagian, bukankah segala kerja keras ini dilakukan juga untuk mendapatkan kenyamanan di masa tua nanti? Kerja keras ini adalah tabungan kita, supaya kita segera mencapai posisi yang nyaman tanpa perlu bekerja lagi. Pertanyaannya, pertama, kapan kita akan merasa cukup dan akan menemukan posisi nyaman yang kita harapkan? Kedua, apakah kita yakin hasil kerja keras tersebut juga kita sendiri yang bakal merasakannya?

Ya, mohon maaf nih, jangan sampai kita terlalu berambisi untuk menemukan sebuah kebahagiaan besar—untuk jangka waktu yang masih sangat jauuuuuh di depan. Namun kita lupa untuk menikmati kebahagiaan-kebahagiaan kecil dan sederhana yang harusnya juga kita rasakan dalam perjalanan panjang—dan tekadang melelahkan—tersebut.

Memang betul, dalam perjalanan hidup pada umumnya, kita harus bekerja keras di usia muda untuk dapat menikmatinya dengan khusyuk di masa tua nanti. Namun, bukankah setiap perjalanan seseorang tidak sama? Bagaimana jika kita terlalu bekerja keras dan tidak merasakan kebahagiaan apapun? Yang ada…

…justru kita perlahan sedang menimbun berbagai macam penyakit yang bisa mengancam kita, KAPAN SAJA. Ya, bagaimana tidak? Perasaan tidak bahagia menyebabkan kekebalan tubuh kita tidak bekerja dengan baik. Jadi, kalau—maaf naudzubillah—kerja keras kita lah yang ternyata diam-diam menggerogoti kesehatan kita dan membuat kita mati perlahan, bagaimana?

Begini, kita bangun dengan sebuah alarm yang berbunyi dengan keras. Membuat kaget dan terlunjak. Lalu memaksa kita cepat-cepat untuk mempersiapkan diri berangkat bekerja. Bekerja sehariaaaaaan. Tidak masalah jika pekerjaan tersebut adalah aktivitas yang kita cintai dan dapat memberikan rasa bahagia di dada. Namun, jika aktivitas tersebut adalah sebuah pekerjaan yang tidak kita suka dan malah menyiksa, bagaimana?

Apalagi kita tidak lagi merasakan nikmatnya bekerja, namun justru merasa kewalahan dan keteteran dengan pekerjaan yang semakin menumpuk dan tidak ada habisnya. Kita merasa selama ini bekerja dengan begitu kerasnya, hasilnya ya gitu-gitu aja. Nggak ada perkembangan apapun yang bisa bikin diri sendiri menjadi puas dan bahagia. Yang kita rasakan hanya mentok pada letih, lelah, lesu, lunglai, dan lemah. Oh, apakah kita sakit anemia?

Setelah seharian berkutat dengan aktivitas yang menjadi rutinitas tersebut, kita pengin langsung pulang, rebahan di kasur empuk, dan memejamkan mata. Apalagi jika sebelumnya memilih lembur, lembur, dan lembur untuk mendapatkan semakin banyak pundi-pundi tabungan. Tentu saja, aktivitas lain sekadar untuk bercengkrama dengan keluarga, teman, atau orang dekat, tidak ada dalam agenda. Kita malah merasa bersalah jika menggunakan waktu untuk untuk orang-orang tersayang ini.

Apalagi mengalokasikan waktu untuk melakukan aktivitas yang kita gemari. Atau pun memilih me time, ber-quality time dengan diri sendiri dengan perawatan diri atau sekadar maraton nonton film di akhir pekan. Sayangnya, pada hari libur pun kita masih saja kepikiran dengan pekerjaan-pekerjaan tidak menyenangkan yang belum selesai di minggu itu atau yang sedang menanti di awal minggu. Membuat kita tidak sanggup untuk: menikmati libur dengan tuma’ninah dan sepenuhnya.

Coba saja bayangkan, jika kondisi tubuh kita sudah diforsir habis-habisan dengan rutinitas tidak ada habisnya. Namun jiwa kita juga tidak mendapatkan asupan energi kebahagiaan? Apa yang kira-kira terjadi dengan kondisi semacam itu?

Sungguh, Sayang, ini semua sama saja mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Kita menjadi manusia yang sama sekali tidak memikirkan diri kita sendiri. Tidak menyayanginya dan memperlakukannya dengan semena-mena, seenaknya, dan ngawur.

Kita sangat butuh untuk membatasi diri untuk mengerjakan segala tuntutan. Kita tidak bisa melakukan semua daftar pekerjaan dan segala tanggung jawab yang dibebankan pada kita, hari itu juga! Kita harus bisa mengontrol diri kita sendiri, untuk memberi batasan diri. Bagaimana pun juga, memberikan batasan sangat berguna supaya kita bisa bekerja dengan lebih baik lagi. Lelah, hanya akan mengacaukan segalanya, Sayang….

Iklan

Dipaksa macam apapun, kita tidak akan bisa membahagiakan semua orang. Kita tidak bisa selalu membahagiakan bos-bos si pemilik modal—bahkan ketika kita telah berusaha mengeluarkan segala daya upaya yang kita bisa. Oleh karena itu, kita lebih baik fokus saja untuk mencapai kebahagiaan diri kita terlebih dahulu.

Kita perlu egois dan tak peduli dengan aturan yang ada, karena itu adalah kebutuhan.

Terakhir diperbarui pada 6 Februari 2019 oleh

Tags: Bahagiakerja kerassayang diri sendiri
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO
Urban

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri MOJOK.CO
Urban

Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga

11 Maret 2026
bahagia mojok.co
Uneg-uneg

Benarkah Bahagia Itu Pilihan?

11 Desember 2022
cita-cita mojok.co
Uneg-uneg

Perlukah Mewujudkan Cita-Cita agar Dapat Bahagia?

13 November 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik Lebaran dengan travel mobil

Niat Ingin Lebih Cepat Naik Travel Malah Bikin Trauma, Sopir Tak Tahu Aturan dan Penumpang Tidak Tahu Diri

12 Maret 2026
gojek instant.MOJOK.CO

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Ogah mudik apalagi kumpul keluarga saat Lebaran. MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa

9 Maret 2026
Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
Sarjana Ekonomi pilih berjualan ayam penyet

Sarjana Ekonomi Pilih Berjualan Ayam Penyet, Sempat Diremehkan Banyak Orang, tetapi Bisa Untung 3x Lipat UMR dan Kalahkan Gaji Pekerja Kantoran

9 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.