Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Berani-Beraninya Polisi Arab Saudi Periksa Habib Rizieq Soal Bendera Tauhid

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
7 November 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kepolisian Arab Saudi kok berani betul periksa Habib Rizieq Shihab soal bendera tauhid. Memang mereka nggak bisa ya belajar dari Kepolisian Republik Indonesia?

Diperiksanya Imam Besar umat muslim se-Indonesia, Habib Rizieq oleh kepolisian Arab Saudi karena ada bendera kalimat tauhid di depan tempat tinggalnya benar-benar mengejutkan bagi kami. Jelas dong, bagaimana mungkin, orang sesuci beliau sampai dicurigai oleh negara suci seperti Saudi hanya karena memasang bendera suci kalimat tauhid?

Ini jelas-jelas ada konspirasi terselubung yang ingin mengadu domba antara kami dengan Arab Saudi negara rujukan kami dalam berperilaku dan beragama.

Ya kan nggak masuk akal sekali ketika umat muslim di Indonesia yang mengagungkan bendera kalimat tauhid—diwujudkan dengan kemarahan ketika ada oknum Banser membakar bendera tersebut. Hati kami begitu geram bendera tauhid itu dibakar meski pakai alasan karena ingin dihindarkan dari perlakukan yang menghinakan kalimat tauhid di dalamnya. Kalau bagi kami nggak masalah kalau bendera itu diinjak, diduduki, diletakkan di lantai, bahkan sampai masuk kamar mandi, asal tidak dibakar.

Kami ini benar-benar tidak mengerti kok bisa-bisanya kepolisian Saudi mempermasalahkan bendera tersebut di pasang di depan rumah. Kok bisa sih hati mereka begitu takut bener sama bendera tauhid?

Bukankah bendera mereka sendiri juga ada kalimat tauhidnya? Kan ini cuma masalah warna latar belakang saja. Saudi pakai warna hijau dengan tambahan gambar pedang di bawahnya, sedangkan bendera yang mereka permasalahkan itu cuma karena latar belakangnya hitam.

Memangnya bedanya di mana? Itu kan sama-sama kalimat tauhid. Urusan warna atau ukuran atau dipasang di mana kan nggak masalah seharusnya. Mau itu dikira bendera Hizbut Tahrir atau ISIS ya nggak boleh dong dimasalahin.

Itu kan bendera merupakan kalimat syahadat, yang sangat agung bagi kami. Mau itu dipasang sebagai identitas kelompok apa pun ya itu bendera Islam—bendera kami. Dan sebagai negara asal dari agama Islam, harusnya Saudi lebih paham itu dong.

Apalagi kalau alasannya cuma soal sikap paranoid, karena pemerintahan Saudi curiga ada motif politik dari pemasangan bendera itu di tempat tinggal Habib Rizieq. Idih, nggak usah sok-sokan pakai alasan demi urusan stabilitas politik negara. Memang kenapa begitu takutnya sih dengan kalimat tauhid beda warna begitu?

Soalnya setahu kami, cuma setan yang takut sama bendera kalimat tauhid. Kan nggak mungkin banget polisi-polisi itu setan, wong mereka umat muslim kaffah karena orang Arab asli gitu loh. Auto-kaffah gitu lah.

Apa Pak Polisi itu kalau mati nggak mau pakai keranda yang ada tulisan kalimat tauhid juga? Apa mereka mau di keranda mereka nanti pakai penutup kain yang bertuliskan “Saudi Harga Mati”? Kan nggak mungkin banget?

Mereka kan pasti umat muslim yang kaffah banget, nggak mungkin dong mereka mau dibilang sebagai Islam Nusantara yang sesat itu. Ha jelas nggak mungkin banget.

Hal-hal seperti ini pasti ada konspirasi-konspirasi Wahyudi nih yang mau mengadu domba kami dengan Arab Saudi. Yah, cara-cara PeKa-I begitu lah. Kami hafal betul modus-modus begini.

Sampai sekarang kami tak habis pikir. Bagaimana mungkin mereka bisa mencurigai Imam Besar kami, Habib Rizieq sampai harus repot mendatangi untuk menjelaskan bahwa bendera itu bukan beliau yang pasang—tapi orang lain.

Iklan

Barangkali ini efek domino saja. Soalnya kan kemarin Imam Besar Habib Rizieq menyerukan untuk memasang bendera tauhid di rumah kami masing-masing. Melalui akun twitternya, Habib Rizieq meminta kepada simpatisan Front Pembela Islam dan alumni 212 untuk berani memasang bendera kalimat tauhid di mana pun kami berada.

Ini adalah respons ketersinggungan kami karena ada bendera tauhid yang dibakar di Garut oleh oknum Banser beberapa waktu silam. Ya nggak mungkin dong, sebagai uswatun hasanah bagi umatnya Habib Rizieq tidak pasang bendera ketika meminta umatnya pasang bendera.

Kalau kemudian diakui itu yang pasang orang lain, ya kan bisa saja ada orang Saudi yang terinspirasi sama beliau terus pasang di rumah beliau. Jadi jangan sekali-kali ada yang bilang ini sikap jarkoni. Ya di Saudi kan beda urusannya sama di Indonesia. Kebijakan pemerintahannya kan beda, Bos. Orang Islam di Arab sama orang Islam di Indonesia kan beda kalau urusan khusus macam ini. Nggak bisa disama-samain gitu. Yah, nego tipis-tipis dikit lah.

Tapi untungnya kepolisian Arab Saudi segera menyadari kesalahannya sehingga sudah membebaskan Habib Rizieq dalam tempo yang singkat. Memangnya Imam Besar kami kayak Ahok? Yang diperiksa polisi eh malah dibui 1,5 tahun karena dia memang kriminal. Mana sempat kabur ke luar negeri lagi si Ahok itu.

Beda dong dengan Habib Rizieq yang selalu jauh dari kasus-kasus hukum. Kalau pun ada kasus hukum, beliau dengan gagah berani datang sendirian menghadapi masalahnya. Mendatangi pemeriksaan kepolisian Arab Saudi dengan lantang tanpa takut sama sekali karena benar adalah salah satu fakta keberanian beliau.

Lebih hebatnya lagi, Kepolisian Arab Saudi saja mengakui Habib Rizieq ternyata nggak bersalah. Harusnya Kepolisian Indonesia, yang demen kriminalisasi ulama, belajar banyak dari Kepolisian Arab dari kasus ini. Atau jangan-jangan Kepolisian Arab yang udah belajar dari Kepolisian Indonesia? Ah, nggak tahu deh.

Soalnya kalau Saudi sampai menangkap Imam Besar kami, mereka tentu sudah memikirkan masak-masak gimana jadinya kalau umat 7 juta menggeruduk negara mereka. Jelas mereka kelabakan nanti, lah wong total jamaah haji Indonesia terbanyak cuma 2,3 juta saja mereka udah kerepotan kok. Jumlah yang nggak ada upil-upilnya dengan jumlah umat Habib Rizieq yang sampai 7 juta.

Sekarang yang kami tunggu adalah permintaan maaf dari kepolisian Saudi yang udah bikin repot Habib Rizieq. Kecurigaan tak berdasar mereka juga sudah bikin deg-degan kami umat beliau di Indonesia. Tapi santai, permintaan maaf ini, kami tunggu dalam tempo yang seselo-selonya kok. Santai aja.

Ha gimana mereka yang bikin masalah itu negara Islam jeh, kalau Cina atau Amerika, wah kami bakal langsung seruduk aja karena mereka negara kafir. Jangankan negara kafir, negara kami sendiri aja bisa kami seruduk juga kok.

Lah ini masalahnya yang bikin perkara negara Saudi jeh, negara Arab. Masa iya kami mendemo atau minimal mengritik negara yang lebih kaffah ketimbang kami? Bisa-bisa kami jadi durhaka.

Terakhir diperbarui pada 7 November 2018 oleh

Tags: 7 jutaahokArab Saudibanserbendera tauhidHabib Rizieq ShihabIslamjamaah hajiSaudi
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO
Esai

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa MOJOK.CO
Sehari-hari

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa

9 April 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Caffino Srikandi Merdeka Cup: turnamen sepak bola putri internasional di Kudus, momentum bakat muda Indonesia unjuk kualitas MOJOK.CO

Srikandi Merdeka Cup: Turnamen Sepak Bola Putri U-16 Level Internasional di Kudus, Momentum Unjuk Kualitas untuk Tembus Timnas

3 Agustus 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Token listrik lebih awet setelah mengubah kebiasaan kecil di rumah (Unsplash)

Token listrik lebih awet setelah saya mengubah kebiasaan kecil di rumah

7 Agustus 2026
Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer MOJOK.CO

Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.