Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

4 Alasan Warga Lokal Malas Berwisata ke Gunung Tidar Magelang

Intan Ekapratiwi oleh Intan Ekapratiwi
8 Oktober 2025
A A
4 Alasan Warga Lokal Malas Berwisata ke Gunung Tidar Magelang

4 Alasan Warga Lokal Malas Berwisata ke Gunung Tidar Magelang (unsplash.com)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

#2 Fasilitas Gunung Tidar Magelang kurang menarik

Alasan selanjutnya banyak orang Magelang malas berwisata ke Gunung Tidar karena fasilitasnya yang kurang menarik. Memang gunung ini bisa dijadikan tempat mendaki santai. Hanya butuh waktu 30-45 menit mendaki. Tetapi setelah sampai di atas ya sudah. Nggak ada hal lain lagi yang menarik di atas sana kecuali makam, mengingat tempat ini juga menjadi tempat ziarah.

Sebenarnya secara fasilitas sudah cukup baik. Sudah tersedia jalur trekking dengan tangga berundak yang memudahkan orang naik. Ada juga beberapa warung yang berjualan makanan dan minuman. Toilet dan tempat duduk juga sudah tersedia di beberapa titik. Tetapi jumlahnya memang belum terlalu banyak. 

Mungkin karena fasilitasnya yang memang apa adanya membuat wisata ke sini jadi biasa saja. Kalau datang ke sini ya cuma bisa lihat pepohonan sama ketemu monyet. Selebihnya ya nggak ada apa-apa.

#3 “Tempat ziarah banget”

Meski Gunung Tidar Magelang punya potensi wisata alam, citranya masih lekat dengan aktivitas religi dan ziarah. Jadi, banyak warga lokal yang memandang tempat ini sebagai tempat yang angker atau sakral. Tak sedikit anak muda yang akhirnya malas datang ke sini. Kebanyakan memilih mencari tempat wisata yang lebih instagrammable dan kekinian.

Nggak salah juga, sih. Soalnya seperti yang saya katakan tadi, di Gunung Tidar memang terdapat makam beberapa tokoh penting. Syekh Subakir misalnya, beliau dikenal sebagai salah satu tokoh penyebar agama Islam. Selain makam Syekh Subakir, ada juga makam Mbah Semar. Beliau diyakini sebagai penjaga spiritual Gunung Tidar Magelang.

Nah, karena kehadiran beberapa makam itulah, bagi sebagian orang Magelang tempat ini dikenal sebagai tempat ziarah alih-alih wisata. Jadi jangan heran kalau ke sini kalian bakal menemui lebih banyak orang dari luar kota yang datang untuk ziarah ketimbang warga lokal sendiri.

#4 Magelang sekarang mulai berkembang, wisata alam jadi kurang menarik

Jujur saja, seiring dengan perkembangan zaman, Magelang juga semakin modern. Sekarang kita bisa dengan mudah menjumpai kafe atau tempat nongkrong yang nyaman di sudut kota. Hal yang sebelumnya sulit dijumpai di kota ini 15 tahun silam, saat pertama kali saya berkunjung ke sini.

Kalau dulu orang Magelang mau ke mal harus ke Jogja, sekarang tinggal ke Artos. Kalau dulu nggak ada HokBen, Pizza Hut, McD, Mie Gacoan, sekarang semua berlomba-lomba membuka gerai di Kota Sejuta Bunga ini. Hal ini saya pikir turut berpengaruh pada kehidupan warga Magelang.

Banyak orang yang kini jadi lebih suka menghabiskan waktu di kafe, coffee shop, atau mal. Aktivitas mendaki Gunung Tidar Magelang yang identik dengan keringat dan capek jadi terasa kurang santai. Mending menghabiskan waktu luang di tempat nongkrong kekinian kan daripada berwisata ke alam bebas. Soalnya saya sendiri demikian. Hehehe.

Pada akhirnya kemalasan warga Magelang berwisata ke Gunung Tidar bukan karena tempatnya jelek. Justru karena terlalu dekat dan sudah sering dilalui, jadinya kurang menarik. Keistimewaannya malah tak terlihat. Kamu sendiri tertarik berwisata ke sini?

Penulis: Intan Ekapratiwi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Tinggal di Bantul Jogja Bau dan Bikin Pusing, Saya Baru Menemukan Kenyamanan Begitu Pindah ke Muntilan Magelang dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2025 oleh

Tags: Gunung TidarGunung Tidar Magelangkota magelangmagelangrekomendasi tempat wisatatempat wisatawisata magelang
Intan Ekapratiwi

Intan Ekapratiwi

Artikel Terkait

Barongsai di bandara saat imlek. MOJOK.CO
Hiburan

Semangat Tahun Kuda Api bikin Trafik Penumpang Milik InJourney Melambung 10 Persen Saat Imlek 2026

19 Februari 2026
Layung Senja: meditasi melepas kepenatan di kawasan wisata Candi Borobudur, Magelang MOJOK.CO
Kilas

Layung Senja: Meditasi Lepas Penat di Kawasan Candi Borobudur, Mendengar Suara Alam yang Kerap Terabaikan

15 Februari 2026
Pamong cerita di Borobudur ikuti pelatihan hospitality. MOJOK.CO
Hiburan

Kemampuan Wajib yang Dimiliki Pamong Cerita agar Pengalaman Wisatawan Jadi Bermakna

16 Desember 2025
Wakil Walikota Surakarta Astrid Widayani bersama Gojek sosialisasi libur akhir tahun. MOJOK.CO
Kilas

Tips Liburan Anti Ribet dengan Rekomendasi Tempat Hits di 5 Kota Favorit dari Gojek, Lebih Ringkas dan Hemat

25 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tarawih di masjid Jogja

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
papua.MOJOK.CO

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.