Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

3 Dosa Penjual Gudeg Jogja Kaki Lima yang Bikin Emosi Pembeli: Bikin Dosa Berkali-kali dan Nggak Respect Sama Pembeli

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
3 September 2025
A A
3 Kelakuan Penjual Gudeg Jogja yang Bikin Jengkel Pembeli (Unsplash)

3 Kelakuan Penjual Gudeg Jogja yang Bikin Jengkel Pembeli (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Selama tinggal di Minggir, Sleman, saya jadi jarang makan gudeg. Oleh sebab itu, momen pulang ke kota, adalah kesempatan emas untuk menikmati gudeg Jogja. Namun, lagi dan lagi, saya masih menemukan penjual yang menyebalkan, bahkan bikin jengkel.

Pada 25 Juni 2024 saya pernah curhat perihal kelakuan penjual gudeg Jogja yang bikin jengkel. Saya menyebut ini sebagai “dosa”. Saya pikir bakal ada perubahan, setidaknya perbaikan. Namun nyatanya, eh masih kejadian pula. Berikut 3 kelakuan yang saya maksud.

#1 Upselling lagi dan lagi

Isu upselling ini sebenarnya isu lama. Pernah ramai tahun lalu. Namun nyatanya, sampai tahun ini, kebiasaan ini masih terjadi. Nggak ketinggalan menimpa gudeg Jogja.

Salah satu penulis Mojok, Paula Gianita menulis begini:

“Sejatinya, upselling merupakan teknik lawas yang sah-sah saja dijalankan. Teknik ini yang biasa diterapkan oleh tenaga penjualan ini berupaya meningkatkan omzet penjualan dengan menawarkan produk-produk tambahan. Idealnya, seorang yang menerapkan taktik ini tidak boleh memaksa maupun memperdaya pelanggan demi tercapainya target penjualan. Sebaliknya, dia harus senantiasa terbuka dan menjelaskan secara gamblang mengenai produk tambahan berikut biaya yang harus dikeluarkan pembeli apabila menyetujui penambahan tersebut.”

Paula melanjutnya dengan menulis seperti ini:

“Nyatanya, strategi marketing yang seharusnya wajar saja dilakukan ini menjadi berkonotasi jelek saat ini. Sentimen negatif muncul karena banyak penjual menerapkan upselling dengan tidak semestinya. Mereka malah seperti membodohi konsumen demi keuntungan sepihak. Staf penjual… memanfaatkan ketidaktahuan pelanggan dan menyembunyikan informasi. “… ini merupakan salah satu tindak kejahatan terselubung.””

Sebuah warung gudeg emperan di Jogja menerapkan teknik ini. Kembali, saya tidak tahu apakah si ibu penjual tahu istilah “upselling”. Namun, yang dia lakukan jelas menggambarkan “kejahatan” itu karena tidak membarenginya dengan informasi soal harga.

Harga gudeg Jogja seharusnya nggak mahal. Sudah pakai nasi saja, komplet dengan talur, paling antara Rp10 sampai Rp12 ribu. Penjual ini mendapatkan keuntungan lebih dengan teknik upselling. Nasi gudeg komplet plus nasi, nambah ayam kampung, bisa lebih dari Rp20 ribu.

#2 Penjual gudeg Jogja yang pelit ngasih cabe krecek

Gudeg Jogja memang dominan manis. Makanya, penyuka makanan pedas sangat mendambakan tambahan cabai. Khususnya cabai yang ada di krecek. Karena ya meskipun sayur krecek itu warnanya merah, tapi nggak begitu pedas. Bahkan sama sekali nggak pedas di beberapa penjual.

Oleh sebab itu, misalnya saya sendiri, sering minta nambah cabai ketika memesan. Misalnya, saya pesan nasi gudeg pakai tahu dan krecek, lalu bilang nambah cabai. Menurut saya, rasa pedas itu membawa 2 hal penting. Pertama, menambah selera. Kedua, menambah kenikmatan gudeg Jogja yang dominan pedas.

Namun, ada saja penjual yang pelit ngasih cabai. Kata “pelit” di sini mungkin terlalu keras. Tapi saya tidak bisa menemukan istilah lain yang lebih cocok. Dan di sini, saya nggak pengin dapat banyak cabai. Paling tidak dapat 2 saja saya sudah bersyukur. 

Yang saya dapat adalah tatapan sinis dari penjual gudeg Jogja. Saya coba memahami. Mungkin, si penjual menghemat cabai biar rasa krecek tetap pedas. Atau mungkin ada penyebab lain. Tapi yah, minta nambah 1 saja apakah nggak boleh? Kalau nggak boleh ya nggak papa, sih. Tapi jangan sinis gitu, dong.

#3 Nggak menyiapkan kembalian

Gudeg Jogja, khususnya yang emperan itu buka pagi, antara pukul 5 sampai 5:30. Saya mencoba memahami logika berpikir penjual. Khususnya kebiasaan mereka menyiapkan kembalian. Karena sangat menyebalkan ketika kita datang membeli dapat jawaban: “Nggak ada uang kecil, Mas?”

Iklan

Buka pagi bukan berarti nggak bisa menyiapkan kembalian. Kalau mengandalkan “uang kecil” dari pembeli sebelumnya, bisa menimbulkan kejadian nggak enak. Dari sisi pembeli, jangan-jangan, uang yang ada di saku ya memang cuma ada segitu.

Saya pernah bekerja sebagai penjaga kasir di toko mainan, penyewaan komik, dan toko buku. Malam sebelumnya, saya menyempatkan waktu untuk menukar uang kecil. Tempat paling ideal adalah pom bensin. Kalau nggak dapat, bisa ke apotek. Intinya, niat penjual itu menentukan.

Menjadi sangat menyebalkan ketika penjual gudeg Jogja, di sekitar pukul 8 pagi, nggak punya kembalian. Saya datang dengan uang Rp50 ribu membeli gudeg seharga Rp10 ribu. Saya melihat ada 2 orang yang melayani pembeli. Apakah nggak bisa salah satu dari mereka pergi untuk memecah uang demi kembalian?

Tatapan keduanya seperti berharap saya yang pergi memecah uang. Sudah beli, disuruh memecah uang pula. Penjual gudeg Jogja yang kayak gini sangat menyebalkan. Saya tidak berharap diperlakukan seperti raja. Namun, menyiapkan kembalian adalah tugas pedagang. 

Lagian saya nggak datang ketika warung baru buka dan membayar dengan uang Rp100 ribu, misalnya. Saya berani membayar dengan Rp50 ribu karena sudah lebih dari pukul 8 dan warung gudeg Jogja emperan ini selalu ramai sejak pagi. Ah, sungguh menyebalkan.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Selain Terlalu Manis, Gudeg Jogja Dijauhi karena Mahal, Padahal (Seharusnya) Murah dan Masih Makanan Rakyat dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 6 September 2025 oleh

Tags: gudegGudeg Jogjagudeg krecekharga gudeg JogjaJogjakembaliankrecekupselling
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO
Catatan

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Mahasiswa berkuliah S2 UGM. PTN terbaik, tapi pakai AI

Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI

15 April 2026
Penyesalan pasang WiFi di rumah MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Rumah: Lepas Kendali “Merusak” Hidup dan Mental karena Terkungkung Layar HP

17 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.