Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Mau Bus Mustika Atau Mila Sejahtera, 7 Situasi Menyebalkan Ini Bisa Terjadi

M. Faizi oleh M. Faizi
5 Mei 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mau bus ekonomi semacam bus Mustika, atau yang lebih bagus seperti Mila Sejahtera, 7 situasi yang menyebalkan ini tidak terhindarkan.

Saya suka dengan kendaraan umum yang ongkosnya murah. Misalnya bus mustika, kereta api, dan angkot. Cita-cita saya adalah membantu Polantas supaya tidak terlalu sibuk mengatur lalu-lintas. Maklum, bertambahnya jumlah kendaraan pribadi tidak berbanding lurus dengan bertambahnya panjang jalan raya.

Sungguh menyenangkan ketika membayangkan semua pembaca Mojok beralih ke kendaraan umum. Jadi, jalan raya yang sebelumnya macet parah bisa lebih “manusiawi”. Gas emisi kendaraan bisa dikurangi. Pun dengan naik kendaraan umum, interaksi sosial bisa dijaga. Sebuah situasi yang ideal untuk para jomblo berburu jodohnya. Sama-sama enak, kan?

Apalagi, ketika nanti sudah semakin banyak yang beralih ke kendaraan umum, bus-bus dengan badan lawas seperi bus Mustika bisa diremajakan. Sudah murah, kualitas pun bisa ditingkatkan. Kemacetan bisa dikurangi.

Namun memang, usaha mengedukasi orang banyak untuk beralih ke kendaraan umum tidak mudah. Ada beberapa asalan, salah satunya ada saja hal-hal menyebalkan yang terjadi ketika tengah mencoba kendaraan umum. Karena saya gemar naik bus, maka akan saya bagikan beberapa pengalaman menyebalkan yang saya rasakan.

Harapan saya, semoga hal-hal menyebalkan ini bisa kita temukan solusinya bersama-sama, supaya tiada lagi hambatan menikmati kendaraan umum yang ongkosnya murah semacam bus mustika.

Sedikit catatan, hal-hal menyebalkan di bawah ini juga bisa terjadi, kok, kepada orang yang naik kereta api atau pesawat.

1. Duduk dengan orang yang pakai parfum kawe berbau tajam.

Siapa yang tak suka dengan bau wangi? Ada, yaitu orang yang asam lambungnya naik. Tapi, pada umumnya, semua orang suka, terutama aroma parfum berkelas, semacam Bvlgari, La Coste, dan lain sebagainya.

Masalahnya adalah ketika ada orang yang penuh percaya diri menyemprotkan terlalu banyak parfum ke seantero tubuhnya. Apalagi, parfum yang ia gunakan adalah parfum kawe, yang percampuran antara parfum dan keringat menghasilkan bau-bauan yang lebih berbahaya ketimbang gas emisi sebuah bus yang sudah lama tidak diservis.

Aroma parfum kawe-kawean ini mencolok hidung, membuatnya terasa perih. Sudah seperti cucuk hidung kerbau, tak bisa ditolak karena hidung manusia tidak ada pintu kedap udaranya.

Saya mengalaminya ketika naik bus dari Samarinda ke Balikpapan. Sebenarnya, saya merasa beruntung karena bisa duduk di kursi favorit, yaitu di belakang pak sopir. Tapi, yang awalnya saya kira berkah, justru jadi musibah. Pak sopir terlalu rapi dan terlalu wangi.

Parfumnya menyengat, menguar ke mana-mana, membangkitkan bulu-bulu hidung saya yang, karena flu, tertidur dan layu. Sungguh, saya hanya menebak, ini pastilah parfum kelas toko kelontongan yang harganya setera sepiring nasi pecel. Sadis bener aromanya.

Susahnya jadi manusia. Kalau orang bau dimaki-maki, terlalu wangi dicaci-caci. Benar kata Vety Vera, yang enak itu yang “sedang-sedang saja”.

2. Duduk di belakang penumpang amatir.

Salah satu ciri penumpang amatir adalah yang ketika dapat kursi reclining (sandaran kursi bisa digeser ke belakang), ia akan merebahkan sandaran kursinya hingga hampir menyentuh dagu penumpang di belakangnya.

Iklan

Suatu ketika saya naik bus bagus, Mila Sejahtera, yang joknya berbusa tebal, kabinnya senyap, bersuspensi udara pula. Semua kelebihan itu dihancurkan oleh gaya seorang penumpang di depan saya yang tanpa merasa berdosa, tanpa melirik ke belakang, dia rebahkan sandaran kursinya sementok-mentoknya sehingga kepalanya nyaris berada sejengkal di depan dagu saya.

Seolah-olah, si penumpang amatir ini mau creambath saja. Emang saya ini tukang salon? Saya tersenyum menyembunyikan mangkel. Mungkin saja dia baru naik patas untuk kali pertama sehingga ketika dapat kursi yang bisa digerak-gerakkan sandarannya lantas mempraktikkannya dengan cara yang semena-mena.

Mending naik yang murah saja seperti bus Mustika, namun nyaman, enggak dikira kapster salon. Huh!

3. Memilih bus dengan fasilitas khusus, tapi fasilitas tersebut tidak berfungsi.

Bagi beberapa pecinta kendaraan umum, ada beberapa fasilitas khusus yang dipertimbangkan. Misalnya, suka naik bus yang ada wifi-nya, ada pemanas air, dan ruang merokok. Saya sendiri memilih suatu bus karena ada ruang merokoknya.

Nah, sayangnya, jok di ruang kecil untuk merokok itu “dijual” juga. Hasilnya, fasilitas ruang merokok itu kehilangan fungsi dasarnya. Kan saya jengkel karena salah satu fungsi khusus sebuah bus yang jadi kelebihan malah tidak bisa digunakan.

4. Tarifnya mazhab kolor yang sudah kendor.

Ini sungguh terjadi, sebuah bus yang tarifnya seperti kolor yang karetnya sudah tidak berfungsi. Gampang dinaikkan, gampang pula turun. Bus seperti ini biasanya beroperasi saat polisi jarang beroperasi. Sopirnya ronda malam, saat banyak penumpang dibuai bantal. Mereka bisa sesuka hati memasang harga. Ciri-ciri busnya: karcis hanya bergambar bus, tak ada nama PO, atau malah tidak pakai karcis. Yang model begini biasanya sistem setoran.

Nah, kalau kamu naik bus yang seperti ini, jika sudah tahu tarifnya 19.000, bayarlah uang pas. Kalau kamu nekat bayar pakai pecahan 50 ribu, maka uang kembalian yang paling mungkin adalah 30.000 (bukan 31.000). Jika begitu, kamu sudah termasuk golongan orang-orang yang selamat daripada dikembalikan hanya 25.000 saja

PO terkenal tak bakal berani curang seperti ini karena mandor mereka seperti Wiro Sableng, tiba-tiba muncul ketika ada masalah. Yang suka begini biasanya abal-abal.

5. Tongkrongan Lemmy berhati Meggy

Ada pula yang suka begini: sebelum berangkat, gasnya dibleyer–bleyer, pokoknya sangar. Begitu mancal keluar dari terminal, lagaknya seperti mau ikut drag race. Enggak tahunya, bus masih ngetem di pintu keluar. Maka dari itu, saya bayangkan bus yang begini bertampang Lemmy dari grup metal Motorhead tapi lagunya kalem seperti yang biasa dibawakan Meggy Z.

Diperlakukan begini, sih, masih mending, daripada sengaja ditipu. Ada juga polah bus yang gasnya dibikin bar-ber-bor, dimain-mainkan terus seolah-olah mau terbang rendah di jalan raya. Ealah, pas berangkat, ternyata busnya masuk ke SPBU samping terminal, isi solar tak seberapa, lalu memutar, balik lagi ke terminal, ngetem lagi di sana. Alangkah betapa sungguh PHP-nya bis seperti ini. Yang demikian itu, saya pernah mengalaminya di Ponorogo dan Jember.

6. Duduk sebangku dengan keturunan Flinstones

Ini sering menimpa saya, duduk dengan penumpang yang sedari berangkat sampai saya turun, dengan durasi jarak sekitar 150 kilometer, dia hanya main gawai, menoleh pun tidak, apalagi bicara. Dioperek terus itu gawainya. Dia bisa begitu terus-terusan karena dia bawa PLN sendiri yang listriknya dicolokkan langsung ke ponselnya.

Saya menduga, orang macam ini pasti keturunan keluarga Flinstone yang tersesat di zaman sekarang, keluarga zaman batu tetapi hidup di alam medsos.

Aslinya, tipe orang yang asyik sendiri seperti ini sama saja dengan orang yang membaca buku sepanjang jalan dan menganggap orang yang ada di sebelahnya hanyalah hantu. Di Jepang atau di Singapura, kamu tak mengapa berlaku begitu, tapi karena ini Indonesia, kelakuanmu yang terkesan ilmiah itu akan tampak menyebalkan juga.

Diem-diem bae, ngobrol, napa!

7. Membuang klakson ke sembarang telinga.

Saya pernah mengalami, dua kali naik bus yang gaya pak sopir dalam hal membunyikan klakson adalah seperti membuang sampah bebunyian ke sembarang telinga. Klaksonnya kayak orang nge-rap, nyalipnya malah enggak. Kayak anak SMA tawuran. Gertak sambil muter-muter sabuk berkepala gir, lalu lari ngibrit ketika gertakannya “dibeli” oleh lawan.

Kejadian itu saya alami di perjalanan Tulungagung ke Surabaya, lalu dari Surabaya ke Besuki. Interval keduanya mirip, yakni membunyikan klakson antara per 9 hingga 10 detik. Saya yang beruntung dapat kursi terdepan, langsung menyesal naik bus itu, tapi enggak berani turun karena sudah bayar ongkos. Apes benar telinga ini.

Saya lantas bertanya di dalam hati. Sopir yang kelakuannya begini itu apa karena dia anggap karena membunyikan klakson itu gratis lantas dia bisa semena-mena membuang klakson ke sembarang telinga? Saya usul, sebaiknya, khusus sopir yang wataknya begitu, klaksonnya diletakkan di bumper belakang saja, disandingkan dengan mesin, biar saingan berisiknya.

Itulah 7 situasi menyebalkan yang tak pandang kelas bus. Mau yang ekonomi semacam bus Mustika, Mila Sejahtera, atau mau yang lebih bagus pun, tidak akan terhindar. Kalau yang paling menyenangkan tentu ada satu, yaitu ketika bus masuk ke area parkir rumah makan. Langsung terang mata ini.

Terakhir diperbarui pada 5 Mei 2018 oleh

Tags: busbus ekonomibus mustikaEkonomikolormila sejahteraparfumpataspatas malam
M. Faizi

M. Faizi

Aktivis tahlilan dalam kampung hingga antarkota antar-provinsi. Menyukai perjalanan naik bus dan menuliskan catatan perjalanannya. Menulis buku dan lagu berbagai genre, fingerstylist tapi takut kamera, banyak suka terhadap barang-barang lawas, terutama Colt T120

Artikel Terkait

Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan pesawat
Urban

Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

11 Maret 2026
Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu MOJOK.CO
Sehari-hari

Naik Bus Haryanto Jogja – Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan

9 Maret 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO
Sehari-hari

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Tak Sudi Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.