• 600
    Shares

MOJOK.COPembatasan jam tayang lagu barat oleh KPID Jabar, ternyata bikin Bruno Mars marah. Wajar sih, toh yang dilakuin emang sia-sia. Padahal kasihan udah ngabisin uang, waktu, dan energi buat rapat.

Setelah sempat ternganga saat mendengar berita peresmian Hari Dilan dan Dilan Corner di Bandung kemarin, saya dibuat tercengang oleh pemberitaan pembatasan jam tayang lagu barat oleh KPID Jabar. Dalam surat edarannya, Komisi Penyiaran Indonesia di belahan bumi Priangan ini membatasi penayangan terhadap 17 lagu berbahasa Inggris di semua lembaga penyiaran daerah Jawa Barat, lantaran lagu-lagu tersebut divonis bermuatan unsur-unsur seksual.

Ada hal-hal yang berkecamuk (berkecamuk, dong) dalam benak saya ketika membaca berita ini.

Pertama, seketika saya berasa ingin hijrah ke Sunagakure.

Kedua, saya bertanya-tanya: 17 lagu ini playlist-nya siapa sih? Kok bisa-bisanya lagu Mr. Brightside-The Killers nongkrong di urutan ketiga. Hellaaaaw… itu mah lagu kapan atuuuh. Tidak dibatasi pun dia sudah otomatis membatasi dirinya sendiri.

Lalu yang ketiga pemirsaaaa…. (efek suara dan pengambilan gambar yang dramatis ala-ala sinetron Indosiar saat tokohnya mendapat kabar yang mengguncang jiwa), hati ini tak hentinya berucap “Iyeu KPI kunanahaon, sih?” a.k.a “KPI ini kenapa, sih?” (untung suara hati saya tidak bisa “di-loud-speaker-kan”, jadi Bu Maimon tidak bisa dengar).

Perasaan gagal paham ini, ternyata juga dirasakan sama mamang Bruno Mars, yang dua lagunya yakni That’s What I Like It sama Versace on the Floor juga turut dibatasi. Melalui akun Twitternya, Bruno Mars marah waktu nanggepin pembatasan jam tayang lagu barat oleh KPID Jabar tersebut. Dengan me-retweet sebuah artikel Time dia bawa-bawa Ed Sheeran dan dia bilang,

Tentu menjadi hal yang wajar kalau Bruno Mars marah. Pasalnya, tidakkah KPID Jabar ini ngeuh kalau perkara membatasi penayangan sebuah lagu di televisi dan radio ini bakal sia-sia belaka? Yha secara gitu, media untuk mengakses lagu bagi anak muda hari ini sudah beralih ke Youtube, Spotify, atau media streaming lagu lainnya. Kan jadi sangat sayang, tuh. Udah susah-susah rapat dan menyortir sedemikian rupa lagu-lagu “cabul” dari yang asalnya 86 menjadi 17 buah saja. Eh, tapi hasilnya tidak maksimal karena media penayangannya sudah bergeser.

Lagi pula, jangankan hanya dibatasi jam tayangnya, sekalipun lagu-lagu itu dilarang diputar 24 jam di tivi ataupun radio, bayangan kesia-siaan tersebut masih ada. Yha, gimana, nggak, orang-orang akan tetap bisa dengan mudah mengaksesnya lewat berbagai platform seperti Youtube. Tidak perlu lagu deh, bokep saja yang jelas-jelas harrrram hukumnya “dikonsumsi”, selama masih ada VPN dan sejenisnya, ya masih bisa diakses juga. Di-download malahan mah.

Kalaupun alasan pembatasan jam tayang lagu barat oleh KPID Jabar tersebut karena MV atau video klipnya yang dinilai porno, sisi sia-sia masih juga ada. Ya, kalau yang dibatasi hanya lagu-lagu tersebut, lantas apa kabar dengan lagu-lagu lain yang tidak kalah mesumnya?

Sebagai contoh untuk lagu-lagu yang agak lama. Tidak ingatkah ada Nicky Minaj dengan lagu Anaconda-nya? Hellaaaw… itu isinya bokong semua, lho. Atau Arctic Monkeys yang Arabella? Atau Blurred Lines dari Robin Thicke ft. T.I, Pharrell William?

Untuk lagu-lagu yang agak baru, coba kita tengok video klip lagu Charlie Puth-Done For Me, Year And Years-If You’re Over Me, hingga Cardi B yang judulnya Money. Ya ampun, itu tetek di mana-mana.

Oh ya, jangan lupa. Mengingat lagu teteh Camila Cabello yang masuk dalam daftar ini ada dua buah, tidak inginkah sekalian memasukkan lagunya yang berjudul Never be The Same atau Havana ke dalam daftar? Itu bagian opening-nya juga cukup vulgar, lho~

Sementara, jika pembatasan ini dilakukan karena masalah lirik, hmmm… saya yakin masih banyak warga negara yang tidak paham makna dari lirik-lirik lagu berbahasa English. kalaupun paham biasanya juga dengan googling. Terus, apakah googling lirik lagu-lagu tersebut juga sekiranya akan turut disensor? Eh.

Jadi, kalau seorang mamang Bruno Mars marah itu wajar, soalnya dia paham, orang Jawa Barat semacam saya, mah, ketika mendengar sebuah lagu berbahasa asing, kadang pemahaman lirik dan makna lagu berada di urutan sekian—iya, ini mah ngomongin saya saja. Kamu yang nggak merasa, nggak perlu ngegas. Lantaran, yang pertama kali jadi perhatian ketika mendengar lagu itu adalah soal “enak atau tidaknya” alunan musik dari lagu itu. Soal seberapa enaknya tung-tang-tung-ting atau dung-dang-dung-ces dari lagu tersebut.

Misalnya ketika mendengar lagu-lagu Blackpink atau Exo. Dih, boro-boro ngerti itu lagu soal apa. Yang penting mah enak didengar saja. Enak juga buat dipakai joget-joget. Begitu pula saat mendengar lagu-lagu berbahasa Inggris milik kang Ed Sheeran atau mamang Bruno Mars.

Bahkan, untuk kasus yang lebih ekstrem, saya mah boro-boro memperhatikan liriknya bagaimana. Yang penting ikut nyanyi-nyanyi saja dulu. Perkara liriknya benar atau tidak, itu hal lain. Maka nggak heran kalau come around dinyanyikan jadi cameurok. We will rock you jadi wiwi wakyu. Ku akui jadi kuwakuwi… Eh, itu mah lagu bahasa Hendonesah, yak!

Terlebih, selama masih ada yang melantunkan lagu Someone Like You-Adele atau Marry You-Bruno Mars di acara pernikahan, saya rasa kita mesti berbesar hati untuk mengakui bahwa tidak semua warga Jabar paham lirik lagu berbahasa Inggris yang didengar atau dinyanyikannya.

Intinya, kalau liriknya saja tidak paham, saya kira pembatasan ini—dengan segala kekhawatiran soal perusakan moral yang ada di dalamnya—juga akhirnya hanya akan menjadi perkara sia-sia belaka.

Hal yang sama juga berlaku untuk lagu-lagu sebaliknya. Kalaupun kita hanya boleh dipapar lagu “baik-baik” semisal lagu-lagunya Sabyan Gambus, kan kita nggak akan jadi auto-bermoral atau auto-soleh-soleha juga, Jamilah~

Terutama kalau kita memang betul-betul nggak ngerti lirik atau makna lagu yang dilantunkan Nissa Sabyan tersebut dan cuma menikmati atau sekadar numpang ham-hem-ham-hem saja.

Cuma, “Hmmm hmmm hmmm” aja tuh, selama lima hari.