MOJOK.CODonald Trump terus memprovokasi Iran lewat Twitter, sementara Iran berhenti dari kesepakatan tujuh negara tentang pembatasan pengembangan proyek nuklir.

Baik kembali lagi bersama saya dalam update krisis Iran dan AS bagian kedua. Setelah sebelumnya kita membicarakan bagaimana Donald Trump, mbuh opo isi uteke, memerintahkan pembunuhan jenderal tertinggi Iran Qasem Soleimani yang menghasilkan kemurkaan Iran dan memicu pembicaraan tentang Perang Dunia III.

Pertama-tama mari kita menyimak update terbaru dari sisi Amerika. Our one and only kembali ngomporin Iran dengan pamer kapabilitas militer yang AS punya. Langsung saja, fresh from the oven, cangkem Donald Trump di Twitter-nya.


“Amerika Serikat baru saja menghabiskan 2 Triliun Dolar untuk Peralatan Militer. Kita adalah militer terbesar dan TERBAIK di dunia! Jika Iran menyerang Pangkalan Amerika, atau orang Amerika mana saja, kita akan kirimi mereka peralatan baru kita yang cantik itu… dan tanpa ragu!” demikian sesumbar Trump.

Betul, doi sedang songong. Tapi apakah itu saja? Ooo, tidak. Tak cukup banyak omong soal kapabilitas militer, doi juga ngasih tahu Kongres bahwa AS akan menyerang Iran semisal Iran melakukan serangan terbuka kepada mereka, dengan cara yang jauh lebih brutal dari yang bakal Iran lakukan.

Betul. Kita sedang menyaksikan bagaimana seorang presiden negara adidaya memberi tahu kepada Kongres LEWAT TWITER bahwa ia sedang mengumumkan perang. Padahal dalam konstitusi Amerika, yang berhak menyatakan perang adalah Kongres. Presiden bisa mengusulkannya, tapi harus di-acc Kongres untuk bisa bisa dieksekusi.

Baca juga:  Kemungkinan Indonesia Ikut Perang Dunia III setelah Konflik Iran-AS Memanas

Sementara itu perkembangan dari Iran cukup mengkhawatirkan.

Kabar kemarin, pemerintah Iran siap memberikan $80 juta untuk siapa pun yang bisa membunuh Trump.

Angka 80 juta ini didapat dari hasil patungan semua orang Iran (yang populasinya 80 juta). Ide ini pertama kali dilontarkan seseorang di sebuah acara tivi nasional di Iran.

Yang jauh lebih membahayakan, Iran memutuskan keluar dari kesepakatan nuklir yang pernah mereka buat bersama Amerika dan 5 negara lain, yakni Inggris, Prancis, China, Rusia, dan Jerman, tentang pembatasan pengembangan nuklir yang mereka punya.

Kasus dua negara kini menjadi permasalahan dunia.

Dengan keluar atau memutus kesepakatan pembatasan pengembangan nuklir, Iran bisa memulai kembali pengembangan senjata nuklir mereka. Itu artinya, ketakutan kita terhadap ancaman perang nuklir bisa benar-benar terjadi.

Saya pribadi percaya, setiap negara bergerak atas pertimbangan panjang. Keputusan Trump memprovokasi Iran misalnya, pasti dilakukan setelah ia melakukan hitung-hitungan mengenai kemungkinan yang akan terjadi. Mustahil Trump bergerak sendiri. Kemungkinan besar di belakangnya ada jenderal-jenderal militer dan intelijen yang sudah memikirkan output kejadian ini.

Dan kalau memang dia memikirkan mayoritas warga AS yang nggak punya urusan buat perang, dia harusnya yakin kalau krisis Iran-AS ini tidak akan pecah menjadi perang besar.

Tapi, yang perlu kita takutkan, apakah AS memikirkan bahwa Iran punya milisi yang sangat militan dan bangga jika harus menjadi martir bagi negaranya?

Donald Trump boleh bangga dengan kemampuan militer Amerika, tapi jika ada satu saja orang Iran yang berhasil membobol pertahanan mereka lalu menjadi martir, keadaan bisa langsung berbalik seketika. Apalagi jika ini sudah melibatkan bom nuklir.

Saya akan memakai ilustrasi yang saya terjemahkan dari sebuah video mengenai dampak satu ledakan nuklir jika terjadi di sebuah kota.

Bayangkan kita sebagai rakyat biasa dengan hari-hari biasa di mana kita menjalani kehidupan yang biasa-biasa, tiba-tiba, tanpa ada pemberitahuan apa-apa, sebuah bom nuklir jatuh di kota kita. Dia meledak begitu dahsyat hingga dalam waktu kurang dari 1 detik, sebuah bola plasma yang panasnya lebih dari matahari muncul dan berkembang menjadi bola api di depan mata kita.

Kita sangat mungkin tidak akan menyaksikannya. Semua orang dalam radius 2 kilometer dari pusat ledakan akan menghilang begitu saja, terevaporasi seperti ketika kamu meneteskan air ke wajan panas. Semua hal, bangunan, manusia, semua makhluk hidup dan mati tidak ada sisanya.

Setelahnya, akan ada tsunami cahaya yang menyapu seluruh kota dalam waktu singkat. Orang yang tidak sengaja melihat cahaya itu akan buta.

Baca juga:  Turki Juga Akan Aseng pada Waktunya

Selain sangat silau, cahaya itu menimbulkan panas yang membakar semua hal dalam jangkauan 13 sampai 500 kilometer dari tempat ledakan. Semua gedung, pohon, plastik, rambut, manusia, terbakar.

Dalam beberapa detik, cahaya tadi akan diikuti oleh gelombang kejut yang lebih cepat dari kecepatan suara. Gelombang itu membuat angin yang lebih kuat dari badai dan tornado. Kekuatannya nggak sepadan dengan semua hal yang dibangun manusia. Insfrastruktur roboh, semua orang di dalamnya mati atau terperangkap karena tidak punya waktu untuk beraksi.

Bayangkan seluruh kota terbakar, orang-orang terluka dan mati, dan tidak ada yang bisa melarikan diri. Dan mimpi buruk itu belum selesai begitu saja.

Yang terjadi selanjutnya adalah muncul awan hitam yang membawa abu dan asap dari ledakan nuklir, menyebarkan radioaktif yang membuat semua tarikan napas mengandung racun. Orang-orang yang selamat di hari itu akan mati dalam beberapa hari selanjutnya karena tubuhnya terpapar radiasi yang sangat tinggi.

Di saat seperti itu, bantuan tidak akan datang. Meskipun kita menunggu satu, dua, atau berhari-hari selanjutnya. Peradaban tidak bisa lagi beroperasi karena kerusakan total pada infrastruktur. Tidak ada air, tidak ada listrik, tidak ada alat komunikasi.

Bantuan akan sulit masuk ke lokasi bencana. Dan kalaupun bisa, kontaminasi radioaktif akan membuat para penolong terancam bahaya jika mereka datang terlalu dekat.

Kerusakan yang dihasilkan ledakan bom nuklir tidak berhenti ketika api sudah padam dan asap hilang. Orang yang berhasil bertahan beberapa tahun kemudian akan terkena kanker. Penyakit itu menjadi genetik yang diwariskan ke generasi berikutnya dan berikutnya lagi.

Betul, sedahsyat itu ketika satu ledakan nuklir terjadi. Tapi, selama ini para pemimpin negara tidak pernah memberi tahu kita dampak apa yang akan terjadi jika nuklir-nuklir yang mereka punya benar-benar dijadikan senjata untuk berperang.

BACA JUGA Kemungkinan Indonesia Ikut Perang Dunia III Setelah Konflik Iran-AS Memanas atau artikel lainnya di POJOKAN.