MOJOK.CO Saya pernah membaca ulasan majalah TIME tentang sebuah novel yang berjudul Ghost Fleet: A Novel of the Next World War. Seperti judulnya, novel ini adalah fiksi yang membahas bagaimana jalannya perang Perang Dunia III jika peristiwa itu kelak terjadi.

Di ulasan itu dijelaskan bahwa perang akan dilakukan dengan cara yang super-duper-canggih: Melibatkan serangan siber, drone, robot, hingga artificial intelligence. Dan yah, saya menikmati membaca itu semua sebagai suatu fiksi karena saya pikir Perang Dunia III tidak akan benar-benar terjadi.

Well, situasi dunia saat ini (((terpantau))) aman dan lancar. Ya ada sih konflik, tapi bisa dikondisikan hingga tidak tereskalasi lebih jauh. Lagian di era Kapitalisme, siapa coba negara yang mau perang. Perang tuh bikin ekonomi mati dan kita tahu lah, kalau nggak dagang, nggak dapat cuan. Rugi bandar, Buosss.

Tapi semua itu berubah ketika…

… Donald Trump datang.

Saya pikir tidak ada kata lain yang bisa menjelaskan seorang Trump selain sialan. Ya sialan benar orang ini. Mengacaukan tatanan dunia yang dalam beberapa dekade ini adem ayem. Udah mundur dari Paris Agreement, memprovokasi Cina, Turki, dan sekarang ujug-ujug ngebunuh jenderal Iran Qasem Soleimani (ini nama dalam ejaan Barat, kalau orang Indonesia yang familier sama huruf Arab, namanya bisa dibaca “Qosim Sulaiman).

Kematian Qasem Soleimani menghebohkan dunia dan memunculkan topik tentang World War III.

Qasem Solemaini adalah kepala pasukan elite Iran bernama “the Iranian Revolutionary Guards’ Quds Force” atau Pasukan Quds. Pasukan ini bertugas melakukan operasi militer di luar Iran, khususnya di wilayah Timur Tengah.

Baca juga:  Hasil Pertandingan Maroko vs Iran Skor 0-1

Peran Soleimani sangat vital dalam melawan serangan eksternal yang datang ke Iran dan Timur Tengah, misalnya kelompok radikal di Suriah dan Irak. Mereka juga punya misi khusus melawan Al-Qaeda dan ISIS. Qasem Solaemani membentuk jaringan yang kuat dengan milisi-milisi di Timur Tengah, bahkan berhasil menjadikan Irak sekutu Iran setelah sebelumnya mereka bermusuhan selama Perang Teluk.

Singkat kata, Qasem Solaemani adalah orang sakti dibanding Luhut, Wiranto, dan Moeldoko digabung sekalipun. Kematiannya sampai membuat pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei berjanji akan membalas dendam.

Waktu awal mengikuti isu ini, saya sebenarnya masih agak skeptis kalau krisis AS dan Iran ini akan pecah jadi perang. Tapi setelah lihat bagaimana the one and only Donald Trump nggak bisa jaga cangkem-nya dan terus-terusan ngomporin Iran dengan ngirim pasukan tambahan ke Irak dan menyiapkan serangan udara ke Teheran (Sianying, dasar teu bisa cicing!), saya pikir Perang Dunia III ini bisa betulan akan datang.

Apa yang akan terjadi jika Perang Dunia III terjadi?

Secara statistik AS unggul dalam hal kekuatan militer. AS menempati peringkat pertama negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia versi Global Firepower. Sementara Iran ada di posisi ke-14.

Tapi, kalau hitung-hitungan begitu bisa 100% memprediksi output yang akan terjadi, perang Vietnam nggak mungkin bikin AS kedodoran. Kalau Iran mau perang, saya pikir dia punya strategi dan kejutan yang pasti sudah disiapkan sebelumnya.

Baca juga:  Iran Ngasih Serangan Rudal, Donald Trump Membalasnya dengan Mundur dari Perang

Jatuhin bom nuklir, misalnya.

Apakah perang ini bakal jadi perang yang akan melibatkan Indonesia?

Menurut pakar, perang ini kemungkinan (baru kemungkinan lho ya) nggak akan jadi perang all out yang melibatkan seluruh dunia. Indonesia juga tidak punya kepentingan untuk membela AS atau Iran.

Apalagi Menteri Pertahanan kita Prabowo Subianto baru saja menunjukkan persahabatannya dengan China. Mana mau AS temenan sama negara yang bilang “sahabat” ke musuh mereka.

Membela Iran adalah hal yang lebih mustahil buat Indonesia. Sebagai negara dengan mayoritas penganut Islam Syiah, fakta ini sudah bikin banyak orang Indonesia kepanasan.

Lagian, ngapain juga kita ikut-ikutan perang yang dimulai sama Amerika. Dapet untung nggak, mati sih iya.

Indonesia sebenarnya tetap akan ikut perang. Tapi bukan perang yang onoh. Perang Dunia III versi Indonesia adalah perang melawan oligarki, perampasan sumber daya alam, deforestasi, ketimpangan ekonomi, serta krisis iklim yang semakin mengkhawatirkan.

Kalau kita nggak segera memerangi itu semua, dampaknya lebih seram ketimbang Perang Dunia III. Kita bukan akan berperang melawan negara lain, tapi melawan teman dan saudara kita sendiri.

Lha, habis, kalau kita nggak memerangi daftar itu semua, bencana alam akan datang silih berganti menimbulkan kelangkaan sehingga kita satu sama lain akan berebut air, tanah, makanan, yang berakhir dengan gesekan kelas dan endingnya, kita akan bunuh-bunuhan.

Hiiiy.

BACA JUGA Melihat Potensi Perang yang Akan Dihadapi Indonesia dari kacamata Realis Prabowo atau artikel lainnya di POJOKAN.



Tirto.ID
Loading...

No more articles