Di antara yang bertahan mati-matian untuk hidup. Di antara doa-doa anak manusia agar yang dicintanya berumur panjang. Di antara asa ingin hidup lebih lama lagi padahal ia sudah hidup terlalu lama di dunia fana ini. Ternyata tetap dan memang akan selalu ada yang memilih mengakhiri hidup. Menyalahkan kehidupan hingga mengembalikannya pada sang pemilik, sebelum diminta.

Berita kematian bunuh diri selalu akan berujung pada masa lalu yang diungkap. Termasuk satu menit sebelum nafasnya benar-benar putus. Tak ada cerita lain. Melulu soal keluhan hidup yang tak berkecukupan, hidup yang letih, penuh amarah, rasa cemburu, tekanan sosial, juga hati hampa terhadap Sang Pencipta.

Indonesia belum memiliki hukum yang melarang bunuh diri atau semacam kesepakatan untuk hukuman keluarga terdekat apabila ada kerabatnya yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Misalkan hukuman ini ada dan jelas, mungkin tidak ada yang menganggap remeh rasa tertekan, kecewa, sakit hati, seseorang yang tiba-tiba menjadi pendiam, bahkan murung dalam kurun waktu berkepanjangan. Mereka akan mengawasi keluarganya lebih dekat, lebih dalam, agar tak terlintas pikiran untuk mengakhiri hidupnya. Sebab bayangan hukum akan menghantui bila bunuh diri terjadi.

Indonesia tidak pula mengizinkan dengan terbuka dan nyata perihal memperbolehkan warganya untuk membunuh diri sendiri. Indonesia tidak berada di antara negara-negara yang memang terbuka dan mempersilakan warganya menentukan pilihan hidupnya sendiri seperti Belgia, Kolombia, India, Irlandia, Luxemburg, Meksiko, Belanda, dan Jepang. Jika memang bunuh diri adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri kesakitan, penderitaan, rasa sesal, sakit hati, lantas mengapa masih ada yang bangkit setelah jatuh berkali-kali? Masih ada yang benar-benar percaya bahwa ia akan sembuh setelah penyakit yang menggerogotinya bertahun-tahun? Lalu, mengapa nyanyian ulang tahun anak-anak yang berisi doa-doa panjang umur masih terdengar begitu merdu dan penuh syukur?

Orang-orang Yunani kuno menyebut kematian terhormat untuk mengakhiri penderitaan hidup sebagai Eutanasia. Di Indonesia, perbuatan mengakhiri hidup adalah tindakan tidak terpuji dan membantu seseorang dalam mengakhiri hidupnya adalah perbuatan yang melanggar hukum serta ada ancaman bagi yang terbukti melakukannya. Soal bunuh diri juga begitu melegenda di negara Jepang. Melihat samurai dalam film 47 Ronin, misalnya, atau The Last Samurai, kematian di tangan sendiri diperbolehkan untuk menjaga martabat, harga diri, juga kehormatan pimpinan. Aksi heroik ini tentu tak bisa ditiru rakyat biasa. Sebab menjadi samurai adalah tentang keberanian, pengorbanan, juga keteladanan. Samurai yang dipaksa bunuh diri hanya untuk menyelamatkan kehormatan bahkan membela rakyat dan pemimpinnya.

Kejadian bunuh diri seorang pria di Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Jumat (17/3/2017) lalu dengan disiarkan secara langsung melalui Facebook sungguh memilukan hati. Penikmat media sosial ramai mengunjungi akun tersebut untuk menuntaskan rasa penasaran. Pria itu mungkin berharap video tersebut bisa menjadi kenang-kenangan buat istrinya. Video itu sempat ditonton ribuan orang sebelum akhirnya dihapus oleh Facebook. Apa yang bisa dikenang selain rasa sesal? Sang istri yang terlibat perkelahian dengan pria ini akan terus dikutuk rasa bersalah. Tentu saja, bunuh diri yang begitu viral ini tidak akan menyelesaikan apapun, malah menambah penderitaan.

Baca juga:  Korupsi E-KTP dan Hal-Hal Absurd Negeri Ini

Kasus bunuh diri yang dianggap biasa terjadi, kini mendapat perhatian utuh. Caranya mungkin lebih kreatif dengan mengunggahnya live di facebook. Kasus ini pernah terjadi di luar negeri. Seolah menjadi inspirasi, seseorang ingin mengabadikan kematiannya. Tahapan pria ini mengakhiri hidupnya terekam nyata bagi yang sempat melihatnya. Apakah ini layak dikonsumsi publik? Mereka yang awalnya berniat bunuh diri merasa seolah didukung dan kematiannya bisa jadi terkenal. Jika sudah terkenal, apa yang didapat? Bukankah keluarga harus menanggung setiap pertanyaan yang datang? Di antara pertanyaan itu, tak satu pun pertanyaan baik. Mungkin, semuanya adalah tentang luka, rasa bersalah, mengutuk diri, dan bisa jadi aksi bunuh diri beruntun karena tak kuat menahan malu dan rasa bersalah. Semoga saja tidak terjadi lagi.

Unggahan live tentang perjalanan kematian seseorang ini harusnya tidak pernah terjadi. Penikmat media sosial tidak semuanya dalam kondisi baik dan bahagia. Jika yang kebetulan melihat video bunuh diri ini dalam kondisi goyang, lantas kemana jiwa-jiwa tidak stabil ini akan berlari, selain mengikuti kematian yang tak ditakdirkan?

Media sosial seperti facebook yang begitu digemari ini seharusnya bisa jadi lampu peringatan bagi mereka-mereka yang jiwanya kesepian. Teman media sosial tidak hanya kampanye selfie, traveling mahal, ke tempat kekinian, melainkan juga harus sedikit peduli dengan beranda-beranda yang penuh dengan curhatan, rasa tidak percaya diri, panik, ketakutan. Ketika dunia nyata tak bisa menjadi nyata bagi mereka yang memiliki niat bunuh diri, teman dunia maya bisa menyelamatkan dengan mengajaknya berdialog, berdiskusi, menasihati, bahkan melaporkan jika memang statusnya mengarah pada hal-hal negatif yang membahayakan dirinya.

Sejatinya facebook telah menyiapkan fitur ini. Facebook telah memperbarui alat pencegah bunuh diri miliknya dan sekarang membuat alat itu tersedia di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Alat itu memungkinkan setiap orang memberi tanda bendera pada posting dari teman-teman yang mungkin berisiko untuk menyakiti diri atau bunuh diri. Ternyata, fitur canggih facebook tak mampu menyelamatkan pria bernama Indra itu. Apa alatnya tidak bekerja atau teman media sosialnya kurang peduli? Entahlah. Tapi yang jelas, perkara depresi, bunuh diri, dan keputusasaan memang bukanlah perkara yang remeh. Bahkan ketika anda mencoba mengetikkan kata “Suicide” di Google, maka urutan pertama hasil pencarian bukanlah penjelasan tentang bunuh diri, kisah-kisah tentang bunuh diri, atau apapun itu, melainkan sebuah kotak layanan National Suicide Prevention Lifeline (semacam lembaga pencegah bunuh diri), lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi, juga layanan konseling live chat yang bisa digunakan oleh siapapun itu yang sudah sangat depresi dan berniat ingin bunuh diri.

Banyak kasus bunuh diri bisa digagalkan karena netizen yang peduli. Di era show yang mementingkan kehebohan dan cenderung hoax seperti saat ini, sulit untuk membedakan apakah pengakuan atau upaya bunuh diri yang dilakukan seseorang serius atau sekedar perbuatan iseng belaka.

Baca juga:  Tommy Soeharto, Reklamasi, dan Koran Tempo

Namun, tindakan proaktif sejumlah pemirsa toh ternyata mampu menghentikan upaya bunuh diri lewat Facebook. Salah satunya yaitu kasus bunuh diri seorang model seksi di Hong Kong menyiarkan upayanya melakukan bunuh diri kepada para penonton di Facebook pada Senin malam, 16 Januari 2017. Ia memiliki sekitar 9.500 orang pengikut di situs jejaring sosial itu.

Ng Shuk Yi (28) tampak limbung dan ia membicarakan persoalan-persoalan pribadinya selama hampir 1 jam sebelum kemudian memanjat pagar pembatas suatu gudang di pinggir laut dan melompat. Wanita cantik yang juga dikenal dengan nama panggung Yo Yo tersebut adalah seorang model freelance untuk HKBC Media. Walaupun beberapa pengguna Facebook mencoba membujuknya, Ng bersikeras untuk mengakhiri hidupnya karena sedang menghadapi kesulitan. Ia mengaku “membenci dirinya sendiri.” Polisi, petugas pertahanan sipil, dan sejumlah rekannya bergegas menuju tempat kejadian di Kowloon tersebut. Setelah berhasil diselamatkan, Ng Shuk Yi meminta maaf dan mengaku lupa tentang apa yang telah terjadi. (Sumber Asia One). Ia berhasil diselamatkan dari upaya bunuh diri setelah ditarik keluar dari air oleh para anggota pemadam kebakaran dan dibawa ke rumah sakit.

Kali lain, Tak berselang lama setelah peristiwa bunuh diri live yang terjadi Jumat lalu, muncul juga kisah tentang seorang pengguna sosial dengan nama akun Usam yang menerima curhatan dari seorang kawannya yang juga ingin bunuh diri, dan beruntung, niatnya itu urung dilakukan setelah ia merasa mendapat support.

“Yang lu mungkin gatau waktu gw nelpon lu pertama kali itu kondisi gw gak jauh beda sama bapak-bapak kemaren. Kalo slm bapak itu siap dengan tali, gw siap dengan insulin sama spoit. Bedanya, gw beruntung karena somehow gw kepikiran nelpon lu. Kalo di titik itu gw gak dapet support sama sekali, gw juga entah gimana kabarnya sekarang.” Tulis si calon pelaku bunuh diri kepada Usam melalui chat.

Belajar dari kasus bunuh diri yang memprihatinkan ini, mungkin kita, para pengguna media sosial harus mulai berhenti nyinyir terhadap mereka yang suka mengumbar status galau atau bahkan menghujat. Mungkin, dunia maya adalah satu-satunya teman yang bisa membuatnya merasa memiliki tempat. Jangan pernah enggan untuk sekadar menyapa dan mengingatkan bahwa mereka yang memiliki masalah kejiwaan, mental, dan psikis, tidak sendiri. Ada teman dunia maya yang peduli dan bisa mencegah perilaku bunuh diri lebih banyak lagi.

Mengutip kalimat yang ada di website National Suicide Prevention Lifeline: “Everyone Plays A Role In Suicide Prevention”

Percayalah, bagian terburuk dari bunuh diri adalah si pelaku tidak hanya membunuh dirinya sendiri, melainkan ia juga membunuh keluarganya, kerabatnya, kawan-kawannya, juga orang-orang di sekitarnya. Ia membunuh bukan menggunakan pisau, pistol, atau tali gantungan. Ia membunuh dengan kisah keputusasaan dan penyesalan.

Komentar
Add Friend
No more articles