Ratu semut memberi aba-aba agar rombongannya buru-buru masuk sarang ketika bala tentara Nabi Sulaiman lewat. Teriakan ratu semut itu rupanya terbawa oleh angin dan sampai ke telinga Sulaiman.

“Apakah kamu mengenaliku?” tanya beliau.

“Tentu, bukankah kamu adalah rasul Allah?“ jawabnya.

“Bukankah engkau juga tahu bahwa aku tidak akan berbuat zalim kepada siapa pun?”

“Benar.”

“Kalau begitu mengapa engkau memperingatkan rombongamu dari kezalimanku? Mengapa pula kamu memerintahkan mereka berlindung dariku?”

“Aku khawatir kalau memandangmu, mereka terpesona sehingga mereka akan lupa dari mengingat Allah,” jawab si ratu semut. “Tahukah kau wahai Nabi Sulaiman, mengapa Allah menundukkan angin bagimu, sehingga engkau bisa menaikinya ke segala penjuru alam?” lanjutnya.

“Aku tidak memiliki pengetahuan tentang itu,” jawab Sulaiman.

“Sebab engkau tidak terpedaya olehnya.”

Tentu saja dialog-dialog antara Nabi Sulaiman dan semut ini tidak terdapat dalam ayat Al-Quran. Dialog itu dituturkan dalam banyak hikayat. Kita sama-sama tahu ia memang dikaruniai Allah kemampuan berkomunikasi dengan binatang.

Karunia lain yang diberikan Allah kepada putra Nabi Daud ini adalah menaklukkan angin sehingga ia bisa bepergian ke tempat-tempat jauh dalam waktu singkat. Nabi Sulaiman juga dapat menundukkan bangsa jin. Anugerah-anugerah tersebut, kata Ibn Arabi, tidak pernah lagi diberikan kepada nabi sesudahnya.

Selain sebagai pujian, pernyataan terakhir ratu semut di atas agaknya juga dimaksudkan sebagai peringatan bagi Nabi Sulaiman agar ia tidak terpedaya oleh dunia. Sebab, sebelumnya Nabi Sulaiman pernah diuji dengan kuda dan ia sempat terlena.

Baca juga:  Kebijaksanaan Puasa: ‘Ngono Yo Ngono, Ning Ojo Ngono’

Saat itu Nabi Sulaiman mendapatkan hadiah seekor kuda yang luar biasa. Sulaiman Sangat menyukainya. Suatu hari ia begitu asyik berrmain dengan kudanya hingga tanpa disadarinya matahari terbenam dan Nabi Sulaiman melewatkan ibadahnya.

Menyadari kesalahannya karena membiarkan kuda-kuda memenuhi hatinya sedemikian rupa Nabi Sulaiman segera bertobat. Konon, kuda itu lalu disembelih agar tidak ada yang lagi yang mengalihkan cintanya kepada Allah.

Sulaiman lalu mendapatkan ganti yang lebih istimewa. Ia yang menyukai kecepatan kuda-kuda diberi kemampuan menundukkan angin sehingga bisa mengendarainya ke mana pun.

Dunia sering menggoda. Bahkan sepasang sepatu bisa menjadi penghalang dari Tuhan. Karenanya seorang Bisry al-Hafi melepas sepatunya karena takut alas kakinya menghalangi dirinya dengan Tuhan.

Maka kisah Nabi Sulaiman sering dijadikan pengingat bagi orang-orang yang kaya tentang bahaya dunia. Dalam tembang-tembang pujian yang dilantunkan anak-anak sebelum salat, namanya diteriakkan:

Eman temen wong sing sugih ora sembahyang

Nabi Sulaiman sugih yo isih sembahyang

Nabi Sulaiman sugih yo isih sembahyang

Ya, dibanding Nabi Sulaiman kekayaan sebagian besar kita tentu tidak ada apa-apanya. Ia mewarisi kekayaan dan kerajaan dari ayahnya, Nabi Daud, tapi tetap rajin beribadah. Sementara kita, yang masih mencari wifii gratisan sering melupakan sembahyang.

Selain kerajaan, Nabi Sulaiman juga mewarisi kecerdasan dan kebijaksaan hidup dari ayahnya. Nabi Daud kerap melibatkan Sulaiman dalam diskusi, bahkan tak segan meminta pendapatnya ketika memutuskan sengketa, meski usia Sulaiman masih belasan.

Baca juga:  Kisah Nabi Ibrahim Usir Tamu Majusi dan Kedatangan Izrail

Pernah dua orang datang kepada Nabi Daud. Satu orang adalah pemilik domba dan lainnya pemilik kebun anggur. Pemilik anggur mengadukan ihwal kebun anggurnya hancur setelah malam sebelumnya diserbu oleh sekawanan domba.

“Kalau begitu domba-domba itu menjadi hakmu sebagai ganti atas kerugian yang kau derita,” putus Nabi Daud.

Keduanya pulang. Namun di tengah jalan mereka berpapasan dengan Sulaiman yang masih belia. Mereka melaporkan tentang keputusan raja.

Nabi Sulaiman lalu meminta keduanya kembali menghadap raja dan meminta keputusan yang lebih adil bagi keduanya. Ia lalu dipanggil untuk menjelaskan usulan hukumnya.

“Pemilik kebun anggur mengambil domba-domba. Dia bisa merawat dan mendapatkan manfaat dari susu dan keturunannya. Sementara itu, pemilik domba akan mengambil kebun anggur untuk dirawat. Ketika kebun anggur sudah kembali ke bentuknya sebagaimana pada malam domba memasukinya, pemilik kebun anggur harus mengembalikan domba-domba kepada pemiliknya dan menerima kembali kebun anggurnya,” terang Sulaiman.

Nabi Daud sepakat dan menganulir keputusannya.

Banyak lagi kisah yang menuturkan tentang kecerdasan dan kebijaksanaan Nabi Sulaiman. Ia bahkan digambarkan tidak hanya menyelesaikan perelisahan antar-manusia. Kita tentu pernah mendengar tentang kisah nyamuk yang mengadukan angin. Atau seorang perempuan tua yang menuntut keadilan atas ulah angin pada dirinya.

Wanita tua itu menuduh angin telah mengempaskannya hingga tangannya patah. Sulaiman memanggil angin dan ingin mendengar pembelaannya.

Baca juga:  Habib Kok Gitu? Udah Nggak Pakai Jubah, Malah Aktif YouTube-an Lagi

“Allah telah memerintahkan saya untuk menyelamatkan kapal yang hendak karam, jadi saya datang dengan kekuatan besar untuk menyelamatkan para penumpangnya. Kebetulan wanita tua ini ada di bagian atas. Dia lalu terpelanting,” jawab angin.

Nabi Sulaiman lalu memutuskan agar orang-orang yang ada di kapal memberi kompensasi kepada wanita yang terluka tersebut.

Meski demikian, Nabi Sulaiman tetaplah tokoh yang rendah hati. Diceritakan bahwa setiap pagi ia berjalan-jalan keluar istana. Ketika mendapati orang-orang yang miskin ia akan berhenti dan bercengkerama dengan mereka. “Orang fakir kumpul dengan orang fakir,” katanya.

Ada pula riwayat yang menceritakan ia dan kaumnya suatu hari pergi ke tanah lapang untuk berdoa meminta hujan. Di tengah jalan, Nabi Sulaiman mendengar seekor semut yang juga sedang memanjatkan permohonan yang sama.

“Pulanglah kalian, sudah ada makhluk selain kalian yang berdoa,” kata Nabi Sulaiman kepada rombongannya. Ia seorang nabi, yang kedekatannya dengan Tuhan tak perlu diragukan, tapi ia tidak merasa bahwa doanya akan lebih didengar oleh Allah daripada seekor semut.


Sepanjang Ramadan, MOJOK menerbitkan KOLOM RAMADAN yang diisi bergiliran oleh Fahruddin FaizMuh. Zaid Su’di, dan Husein Ja’far Al-Hadar. Tayang setiap waktu sahur.