Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Islam Mazhab Jonru

Muhammad Zaid Sudi oleh Muhammad Zaid Sudi
12 Juli 2017
A A
ESAI JONRU Mojok

ESAI JONRU Mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi yang ingin punya mobil tapi sudah seret sejak dalam pikiran, atau kebelet ganti mobil tapi dana masih cupet, saran saya rajin-rajinlah mengunjungi Otomojok. Artikel-artikel dalam rubrik ini selain membuka wawasan, sekaligus juga menyuguhkan kenikmatan. Di atas semuanya, kita akan diinsyafkan tentang kenyataan bahwa tak selamanya ketidakberdayaan itu memalukan, dalam beberapa hal bahkan menguntungkan.

Betapa masygul andai kita sudah kadung berpayah-payah menyisihkan uang, pontang-panting cari utangan, atau nekat ambil kredit agar bisa membawa pulang mobil sejuta umat, tapi ketika mengendarainya kita tak merasakan kenyamanan seperti dalam khayalan. Katanya, suspensinya keras, kabinnya berisik, pengendaliannya tidak presisi, transmisi otomatisnya masih primitif dan tidak ada fitur keselamatan yang memadai pula.

Juga betapa malang andai ada orang yang siang malam merindukan mobil sekeren Alphard sebagai pengganti mobil lamanya, ternyata mobil kelas premium itu tidak makin memanjakannya, dan justru membuat penumpangnya pening dan mual-mual. Kendaraan itu suka limbung, dan kualitas soundnya mengecewakan.

Berkat artikel-artikel di Otomojok kita terhindar dari musibah itu. Tidak perlu lagi kita berkecil hati karena belum mampu beli mobil. Malah kita dibuat lega dan bergembira karena bebas dari rasa terancam oleh kefakiran.

Toh kita masih bisa naik angkot mesti harus menunggu lama, taksi online juga menyediakan makin banyak pilihan. Paling penting lagi, kita tidak perlu puyeng mikir anggaran bikin garasi, servis bulanan, bahan bakar, atau kebutuhan-kebutuhan lain yang telah membikin pusing orang-orang kaya yang kurang beruntung tersebut.

Ya, rasionalisasi seperti itu konon kurang sehat, tapi lumayanlah untuk menghibur diri.

Para pemuda yang keder dengan kecantikan seorang gadis incarannya sering memakai jurus ini sebagai andalan. Berada di dekat gadis cantik memang mudah membuat lelaki pas-pasan merasa kucel dan kedodoran. Cara termudah menaikkan harga diri adalah dengan mencabuti semua atribut indah, memesona, dan hebat pada seseorang yang bisa menimbulkan rasa segan, malu, takut, dan takjub. Mungkin dengan mengulik bau ketek, keringat, mulut, atau mengoreksi isi otaknya.

Jonru Ginting barangkali sedang memainkan trik itu dalam aksi-aksinya.

Sadar tak akan bisa menandingi kapasitas Pak Quraish Shihab, dia menempuh jalan pintas. Derajat Pak Quraish diturunkan sedemikian rupa agar selevel atau lebih rendah dari dirinya.

Dengan begitu ia tak perlu lagi merasa canggung, sungkan atau harus menghormati Pak Quraish. Ia pun leluasa mencemari beliau dengan berbagai sebutan yang sadis.

Kita tidak pernah mendapatkan elaborasi yang tajam atau argumen canggih dalam serangan-serangan Jonru, selain nada sinis dan nyinyir. Entah tentang jilbab, Syiah, atau tema-tema lainnya.

Kita tidak tahu persis motif Jonru. Apakah dia memang benar-benar sedang berusaha meluruskan pandangan agama yang menurutnya mencong, mencari panggung untuk publisitas dirinya, atau sekadar ingin menghibur diri seperti remaja yang sedang puber.

Jonru pernah menyebut dirinya pebisnis. Ketika ditertawakan banyak orang gara-gara program pelatihan menulisnya hanya diikuti 10 orang dari sekian ribu follower-nya, Jonru menyebut itu risiko bisnis. Dalam bisnis ada pasang surut. Sebagai pebisnis, dia mungkin juga butuh sorotan agar namanya makin dikenal.

Ada pepatah Arab menyebut, jika seseorang ingin cepat terkenal, kencingi Sumur Zamzam. Jonru tampaknya telah mempraktikkanya. Lawan-lawan yang dipilihnya, Pak Jokowi, atau Pak Quraish, memenuhi syarat untuk menjadi batu lompatan yang tinggi.

Iklan

Sayangnya ada satu hal yang tidak disadari Jonru. Bahwa serangan dengan kata-kata kejam bisa menjadi pintu bagi seseorang untuk membiarkan dirinya termakan oleh amarah, dan terus berkembang sehingga ia kemudian kesulitan mencegah dirinya (dan lebih-lebih jika diikuti orang lain) dari melakukan serangan fisik.

Namun jika alasan Jonru adalah hendak meluruskan pandangan yang mencong, saya khawatir Jonru adalah sampel dari dampak buruk sistem pendidikan yang ujiannya didominasi soal pilihan ganda.

Melalui soal multiple choise anak-anak seolah dibiasakan untuk melihat bahwa jawaban setiap persoalan sangat terbatas; a,b,c, d atau e. Di antara yang terbatas itu hanya satu ada pilihan yang benar. Lainnya salah. Kalaupun kadang ada opsi yang menawarkan ‘semua jawaban benar’ itu biasanya bonus yang dibuat karena pembuatnya sedang bingung.

Sejujurnya, saya berharap tindakan Jonru hanya upaya sesaat menghibur diri, agar dalam iklim kontestasi yang makin ketat namanya mencuat. Maka, ketika ada yang melakukan pembandingan antara karya Jonru dan Pak Quraish, saya pikir ia berlebihan. Komparasinya tidak apple to apple. Tapi itu cukup menghibur.

Saya tertarik menunggu komentar Jonru atas upaya tersebut.

Karena itu saya juga berharap Jonru akan muncul dengan jawaban seperti, “Jumlah karya bukan tolok ukur kealiman atau lurusnya akidah seseorang,” atau, “Produktivitas Pak Quraish makin menanjak setelah membaca buku saya soal mengarang.”

Dia memang pandai menghibur. Dan kalau sekarang banyak orang dengan mudah menuduh orang lain menistakan agama, mungkin saja mereka bermazhab Jonru.

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2021 oleh

Tags: jokowiJonruJonru GintingQuraish Shihab
Muhammad Zaid Sudi

Muhammad Zaid Sudi

Kadang penulis, kadang penerjemah, kadang guru ngaji. Tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Dalil Al-Qur'an dan Hadis agar manusia tak merusak alam, jawaban untuk tudingan wahabi lingkungan dari Gus Ulil ke orang-orang yang menjaga alam MOJOK.CO
Catatan

Dalil Al-Qur’an-Hadis agar Tak Merusak Alam buat Gus Ulil, Menjaga Alam bukan Wahabi Lingkungan tapi Perintah Allah dan Rasulullah

12 Desember 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Kabar

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.