Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Halal Night Club Arab Saudi dan Gerakan Dakwah di Atas Lantai Dansa

Moddie Alvianto W. oleh Moddie Alvianto W.
15 Juni 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kerajaan Arab Saudi berencana akan izinkan berdirinya tempat dugem. Tentu aturannya ketat, bahkan dari namanya pun udah kelihatan: Halal Night Club.   

Di saat orang-orang masih mantengin Sidang MK, tercengang dengan kebijakan Anies Baswedan soal reklamasi, atau kaget melihat 10.000 subscriber sebagai syarat masuk jalur prestasi sebuah universitas, saya mau membagikan informasi yang wajib kamu ketahui. Karena, demi kepentingan umat khususnya Islam di seluruh dunia.

Arab Saudi akan membuka kelab malam pertama. Dan mereka menyebutnya sebagai HALAL NIGHT CLUB.

Iya, kamu tak salah baca. Tiga kata tersebut memang benar adanya. Tiga kata yang menjadi anomali dari sebuah negara yang punya aturan ketat soal hal beginian.

Sebenarnya sih tak perlu heran. Kalau ada yang bilang musik dilarang di Arab Saudi, berarti mainmu kurang jauh. Jangan-jangan yang bilang begitu, ngertinya Arab Saudi cuman dua kota yaitu Mekkah dan Madinah.

Padahal, ada kota seperti Jeddah dan Riyadh yang mana orang-orangnya juga doyan mengonsumsi musik dan semacamnya. Dan—sebagai informasi tambahan—Halal Night Club ini nanti rencananya akan dibangun di tepi pantai Jeddah.

Jangan kamu bayangkan musiknya bakal membosankan, genre musiknya pun cadas gila: Black Metal, cuy. Bisa kamu bayangkan orang-orang Arab Saudi yang dalam stigma kita selalu berzikir tapi malah ngegrowl macam hoek hoek gitu?

Menurut pemiliknya, Tony Habre, Arab Saudi memiliki pasar yang bagus karena orang-orang lokal sana emang doyan hangout. Weh, berarti pembangunan ini benar-benar berdasarkan riset yang cukup oke dan nggak main-main dong?

Barangkali si pemilik melihat kelab yang dia punya di Dubai dan Beirut pengunjungnya banyak yang berasal dari orang-orang Arab Saudi, maka apa salahnya bikin di negeri Arab Saudi sekalian? Lagian, ngapain bikin repot semut kalau kamu bisa buka toko gula di depan sarangnya kan?

Lalu, pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana lobi si Tony Habre ini agar negara Islam kayak Arab Saudi bersedia buka night club? Ya jelas dong, dikasih nama yang islami: Halal Night Club.

Oke, tapi sebentar, terus bagaimana ketentuan Night Club ini bisa dikatakan halal?

Yang jelas, aturan yang nggak bisa dinego adalah Halal Night Club tidak diizinkan menjual minuman beralkohol.

Hm, ini jelas menarik. Soalnya joget-joget tanpa menenggak minuman keras itu jelas bakal jadi tren baru. Saya masih belum tahu apakah nanti ketika masuk tidak boleh menggunakan pakaian yang mengumbar aurat atau bahkan di lantainya ada tulisan: batas suci.

Nah, itu hal yang terjadi di Timur Tengah sana. Dan seperti halnya masyarakat kita yang sering latah dengan tren-tren terbaru dari negara barat, negara timur, sekaligus negara timur tengah, saya kok jadi penasaran apakah tren ini akan merembet ke Indonesia?

Iklan

Tapi sebelum ke sana, pertanyaan yang lebih tepat adalah apa tren ini bisa diterapkan di Indonesia?

Hm, saya kira sih sangat bisa.

Sebagai negara dengan pemilik umat Islam terbesar di dunia, rasa-rasanya Indonesia tak perlu diajarin untuk itu. Jangankan soal Halal Night Club, soal ajaran Islam di Indonesia aja tren ikut-ikut budaya Arab Saudi juga udah muncul kok belakangan ini.

Hal ini belum ditambah dengan Laporan GMTI tahun 2019 tentang halal tourism yang menempatkan Indonesia sebagai nomor wahid. Mengalahkan Turki (negara rujukan para akhi), Malaysia, bahkan Arab Saudi. Suangar kan?

Tapi, emang apa pentingnya sih mendirikan Halal Night Club di Indonesia?

Oh, tentu saja mengikuti tren sebagian umat muslim di Indonesia. Antre masuk surga. Kalau sering melihat berita bahwa cara masuk surga dengan bom bunuh diri, maka Halal Night Club menawarkan alternatif. Masuk surga dengan cara berdansa.

Siapa tahu dari Halal Night Club malah menjadi Hijrah Night Club, Tanpa Pacaran Night Club, Anti Riba Night Club, sampai Khilafah Night Club.

Yang jelas, satu peraturan utamanya harus sama dengan di Arab Saudi: dilarang minuman beralkohol.

Jadi Halal Night Club di Indonesia, kita tak akan menenggak minuman macam Chivas Regal, melainkan menyeruput Cendol. Bahkan tape ketan aja bisa dilarang juga karena konon bisa memabukkan juga.

Lalu kita tak akan mengenakan pakaian mini melainkan pakaian syar’i nan trendi. Dari terbuka menjadi tertutup.

Selain itu, untuk urusan per-lantai-an, maka perlu diberi batas. Tak perlu triplek atau kain. Cukup kain hijab pemisah macam di masjid-masjid. Dibagi menjadi tiga. Laki-laki, perempuan, dan pasangan muhrim.

Jadi, tak perlu khawatir akan terjadi perzinaan di dalam Halal Night Club ini. Jadi, segala kemaksiatan sudah diminimalisir. Kalaupun nanti ada kasus, ya anggap saja khilaf. Tapi, kalau tiba-tiba ada yang cinlok, langsung aja ta’aruf.

Sudah halal, jadi ajang makcomblang lagi. Apa nggak wangun? Yakin deh, aplikasi Hago, Tantan, sampai Tinder bakal ketar-ketir.

Untuk urusan pemilihan lagu, tentu pengunjung tak akan menemukan lagu macam Tiesto atau Jamiroquai, melainkan paling mentok lagunya Nissa Sabyan yang Den Assalam. Alat musiknya pun tak melulu gitar atau keyboard, melainkan rebana atau seruling.

Terus untuk urusan lampu, ya jangan bernuansa gelap, melainkan terang. Di mana-mana yang gelap itu berpotensi haram (apalagi remang-remang), sedangkan terang berpotensi halal.

Saat memulai pun jangan langsung memutarkan musik, melainkan ceramah dulu. Kultum-kultum gitu kek. Bahkan karena biasanya dimulai waktu 1/3 malam, maka tahajud dulu. Namanya juga Halal Night Club kan? Perlu pendekatan persuasif sekaligus partisipatif.

Ini pun perlu kerja sama dari sebuah lembaga yang terbiasa memberi sertifikat halal. Jadi, kita bisa membedakan mana diskotik halal atau syariah dan mana yang bukan.

Ya masa di Indonesia cuman ada rumah sakit dan bank yang boleh syariah? Diskotik ya boleh dong. Jelas, kesempatan yang baik dan tentu saja memberikan devisa bagi negara tercinta.

Bahkan namanya pun bisa berganti atau tambah cabang. Misal di Jogja udah punya Liquid, maka perlu ada Liquid Syariah. Dan tentu saja hestek yang dipakai bukan #PestaSelalu melainkan #PestaSyariahSelalu.

Begitu pula dengan Alexis. Daripada Anies Baswedan bingung menghadapi polemik dari warga. Kenapa nggak dibangun saja Alexis Syariah pakai logo Alexi(s)—misalnya? Tanda kurung berarti syariah. Syar’i dan kekinian, bukan?

Dan yang paling penting perlu ada sertifikasi DJ syariah, karena mereka harus bisa minimal Bahasa Arab pasif. Ya namanya juga syariah. Ya pasti pakai Bahasa Arab, masa iya pakai Bahasa Inggris?

Jadi, waktu menyapa pengunjung, tak mungkin akan bertanya, “what’s up dude atau what’s up f*cking people” tapi akan bilang “Kaifa khaluk, Indonesia?”

Kemudian ketika akan mulai berdansa, intro lagu dimainkan, maka Sang DJ tidak akan bilang “Shake It Up” melainkan menyuruh “Sheikh It Up”.

Kalau sudah selesai, lalu subuh berjamaah, kemudian jangan lupa setor duit di kotak infak saat keluar dari diskotik. Ya kali, masa mau ikut kajian dakwah di atas lantai dansa pakai ditarik tiket masuk segala? Itungan amat sih sama umat?

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2019 oleh

Tags: Arab Saudihalal night clubSyariah
Moddie Alvianto W.

Moddie Alvianto W.

Analis di RKI. Tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa MOJOK.CO
Sehari-hari

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa

9 April 2026
Pengalaman sopir di Arab Saudi yang mendaftar sebagai petugas haji. MOJOK.CO
Ragam

Cerita Orang Kudus 20 Tahun Menjadi Sopir di Arab Saudi, Punya Tugas Khusus Cari Jemaah Haji Nyasar 

13 November 2024
Ragam

Hanya Orang Sabar yang Bisa “Kerja” sebagai Petugas Haji untuk Jemaah Indonesia, Hadapi Banyak Hal Tak Terduga

10 Oktober 2024
Felix Siauw Seharusnya Pro Syiah Iran Sejak Dulu MOJOK.CO
Esai

Coba Bayangkan Kalau Sejak Dulu Felix Siauw Pro Iran, Israel Pasti Sudah Rata dengan Tanah!

17 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.