Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Dibanding Finlandia atau Jepang, Standar Mutu Pendidikan di Indonesia Sebenarnya Tak Selalu Lebih Ambyar

Miftakhur Risal oleh Miftakhur Risal
6 Mei 2021
A A
Dibanding Finlandia atau Jepang, Standar Mutu Pendidikan di Indonesia Sebenarnya Tak Selalu Lebih Ambyar

Dibanding Finlandia atau Jepang, Standar Mutu Pendidikan di Indonesia Sebenarnya Tak Selalu Lebih Ambyar

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Peringkat mutu pendidikan Indonesia memang ambyar. Bidang “Matematika” dan “Membaca” di peringkat 72 (dari 78 negara), “Sains” di peringkat 70.

Mas Agassi (bukan nama sebenarnya) baru pulang dari Jepang. Dia terkesan dengan pendidikan di Jepang karena tiap sekolah mengajarkan mitigasi bencana kepada anak didiknya.

“Gempa cukup sering, tapi korbannya relatif sedikit karena dilatih tanggap bencana di sekolah. Harusnya sekolah kita juga begitu,” ujarnya.

Mbak Mulan, setelah sebulan tinggal di Finlandia berujar, “Anak-anak sekolah di Finlandia tidak mendapat PR yang memberatkan. Semua materi diselesaikan di sekolah tidak ada yang dibawa pulang.”

Lain lagi dengan Mas Agus yang tinggal lama di Singapura. Katanya anak-anak di Singapura mendapat porsi pelajaran lebih dalam matematika, membaca, dan sains. Karena itu peringkat pendidikannya termasuk terbaik versi ranking Progamme For International Student Assessment (PISA).

Kelompok masyarakat yang pernah merasakan pergaulan global itu pun menuntut agar pendidikan di Indonesia direvolusi. Biar biasa bersaing dengan negara-negara tersebut.

Baik, kita bahas hal di atas dari kacamata guru di Indonesia. Ya maksud saya kacamata saya sendiri sih. Persoalan ada yang terwakilkan atau tidak, kita lihat nanti.

Kita mulai dari mengulik soal PISA.

Saat ini PISA bisa dibilang sebagai studi empirikal terluas di dunia dalam hal pendidikan dan sekolah.

Program ini diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) sejak tahun 2000. Lalu diselenggarakan setiap 3 tahun sekali bagi anak usia 15 tahun. Indonesia sendiri sudah ikut selama 7 putaran.

Untuk diketahui, tahun 2018 alias putaran ketujuh adalah asesmen yang paling masif karena melibatkan 600.000 murid dari 79 negara.

Menurut keterangan yang saya himpun, pemilihan sampel sudah proporsional atau kalau dalam istilah survei disebut dengan stratified sampling. Secara rinci, setiap negara terwakili oleh 160 sekolah. Dari masing-masing sekolah dipilih 42 murid secara acak.

Jika digoogling, peringkat PISA kita (yang bisa terlacak baru pada tahun 2018) memang buruk. Dalam bidang “Matematika” di peringkat 72 dari 78 negara, dalam bidang “Membaca” di peringkat 72, dan dalam bidang Sains di peringkat 70.

Ranking PISA buruk apakah berarti kualitas pendidikan kita juga buruk? Ups, nanti dulu.

Iklan

Pertama kita perlu membuka diri pada kritik atas PISA. Salah satu kritik justru muncul dari murid itu sendiri, yaitu mereka yang tergabung dalam Organising Bureu of European School Students Union (OBESSU), semacam Persatuan Pelajar di Eropa yang berpusat di Brussel, Belgia.

Kritik mereka cukup banyak, mulai dari kerancuan penerjemahan soal, sampel yang tidak representatif, hingga bias kelas sekolah.

Namun menurut saya yang paling tajam dan menukik adalah bagaimana PISA mempengaruhi banyak negara dalam menentukan kebijakan yang pragmatis. Kebijakan dengan tujuan jangka pendek hanya untuk memanjat ranking PISA. Padahal menurut para ahli, perbaikan arah pendidikan nasional perlu waktu lama.

Nah, Indonesia termasuk dalam muatan kritik terakhir itu. Mas Menteri Nadiem sudah memutuskan meniadakan Ujian Nasional dan menggantikannya dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Tujuannya tiada lain adalah memperbaiki skor PISA.

Malahan kita mengadakan AKM di setiap jenjang pendidikan: Kelas 5 SD, Kelas 8 SMP, dan Kelas 11 SMA. Tidak hanya bagi anak usia 15 tahun seperti dalam PISA yang sesungguhnya.

Padahal sebetulnya kita tidak perlu risau pada ranking PISA apalagi takluk padanya. Mengapa?

Perlu diingat bahwa penyelenggara PISA adalah OECD, institusi yang bergerak di bidang kerja sama ekonomi dan pembangunan. Sudah barang tentu produk yang mereka ciptakan adalah untuk menjawab dua bidang itu. Atau bisa kita singkat: pasar bebar dan globalisasi.

Mereka hendak memetakan (untuk selanjutnya menciptakan) generasi yang efisien dan berfaedah dalam ekonomi. Karena itu yang diukur adalah Matemaika, Membaca, dan Sains. Kita tidak melihat aspek Seni, Sejarah, Ilmu Sosial, Etika, atau (maaf klise) agama.

Yaps, karena aspek ini dianggap tidak menjawab kebutuhan ekonomi versi OECD.

Skill anak dalam (misalnya) budidaya cupang, angon bebek, olah vokal, robotika, menjadi Youtuber, public speaking, make up, olahraga, melukis, musik, penguasaaan bahasa asing; atau tradisi semacam menghafal Al-Quran, sama sekali tidak bisa direkam oleh PISA.

Padahal anak adalah individu hidup dengan keistemewaan masing-masing. Kerancuan terbesar PISA adalah menyeragamkan apa yang disebut sebagai skill global, yaitu tiga hal tadi: Matematika, Membaca, dan Sains.

Sekolah-sekolah kita lebih menganut pada teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences) milik Howard Gardner.

Artinya tiga aspek yang diuji PISA tadi hanyalah dua dari delapan kecerdasan yang potensial dimiliki anak. PISA hanya mengukur word smart (kecerdasan linguistik) dan logical smart (kecerdasan logika) saja.

Padahal seorang individu masih mungkin memiliki skill lain, yaitu: nature smart, picture smart, body smart, music smart, people smart, hingga self smart.

Kasarnya, seorang dengan nature smart amat mungkin jeblok dalam sains tapi pandai budidaya Janda Bolong.  Seorang individu mungkin saja tidak pandai matematika tapi punya people smart sebagai calon petinggi ormas. Sekolah kita dengan segala keterbatasannya punya begitu banyak jalan untuk akomodir ragam potensi itu.

Nah, mas-mas atau mbak-mbak yang mendorong agar pendidikan kita harus seperti negara ini dan negara itu; saya duga karena yang terbayang di benaknya masih model pendidikan zaman dia kecil yang banyak keterbatasan; lalu sedikit mencicipi keunggulan pendidikan negara lain.

Sebab lain mungkin tidak mengikuti dinamika pendidikan nasional, struktur kurikulum, atau model pembelajaran terkini.

Sekolah-sekolah kita malah punya banyak kearifan lokal. Kelurahan ulang tahun, anak-anak TK bisa bantu ikut kirab budaya. Sekolah sebelah kekurangan murid, dibantu oleh sekolah lain. Sekolah lain sedang lomba sekolah sehat, murid sekolah lain menyumbang tanaman obat. Murid yang tidak mampu ditopang oleh orang tua asuh.

Anak SMA sudah bisa organize konser musik dengan band ternama. Anak SMK sudah piawai demo. Anak pesantren sudah fasih Alfiyah atau kaidah-kaidah bahasa asing. Anak SD sudah jadi Youtuber dengan banyak subscriber. Anak SMP sudah bisa bikin robot selam pencari serpihan pesawat; dan seterusnya.

Hal-hal itulah yang dilakukan oleh mayoritas sekolah kita, negeri maupun swasta, di kota maupun di desa.  Ini bukan alasan atas merosotnya ranking PISA, tapi ini adalah alasan untuk bilang bahwa seburuk apapun ranking pendidikan kita, masih banyak kok hal-hal baik yang bisa kita dapat dari sana.

BACA JUGA 5 Keunggulan Bangsa Indonesia yang Tidak Dimiliki Bangsa Lainnya dan tulisan Miftakhur Risal lainnya.

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2021 oleh

Tags: FInlandiaIndonesiaJepangPendidikanrangking PISASingapura
Miftakhur Risal

Miftakhur Risal

Alumni Islamic Call College Tripoli, Libya. Tinggal di Bantul.

Artikel Terkait

Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)
Pojokan

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Warteg Singapura vs Indonesia: Perbedaan Kualitas Langit-Bumi MOJOK.CO
Esai

Membandingkan Warteg di Singapura, Negara Tersehat di Dunia, dengan Indonesia: Perbedaan Kualitasnya Bagai Langit dan Bumi

22 Desember 2025
pendidikan, lulusan sarjana nganggur, sulit kerja.MOJOK.CO
Ragam

Overqualified tapi Underutilized, Generasi yang Disiapkan untuk Pekerjaan yang Tidak Ada

5 Desember 2025
nadiem makarim, pendidikan indonesia, revolusi 4.0.MOJOK.CO
Aktual

Kasus Nadiem Makarim Menunjukkan Kalau Lembaga Pendidikan Sudah Jadi “Inkubator Koruptor”

8 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Cara wujudkan resolusi 2026 dengan finansial yang baik. MOJOK.CO

Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026

19 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.