Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lebaran adalah Hari Kita Ikhlas dengan Keadaan Keluarga Kita

Muhammad Iqbal oleh Muhammad Iqbal
4 Juni 2019
A A
Hikayat-2019 - Mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Lebaran merupakan hari di mana kita mengingat seperti apa kita saat dilahirkan, menerima dengan sepenuhnya, lalu ikhlas menerima kekurangan keluarga kita.

Tahun ini saya bersama istri dan anak kami, Abi (Muhammad Ibnu Arabi), berangkat mudik lebaran ke rumah orang tua saya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ini pertama kalinya bagi Abi dan istri saya merayakan Idul Fitri di Banjarmasin.

Istri saya berasal dari Sampit, Kalimantan Tengah. Kami berjodoh karena kebetulan bekerja di satu kampus yang sama di Palangka Raya. Kami menikah di Sampit pada 12 Januari 2018. Jadi, Idul Fitri tahun lalu kami rayakan bersama keluarga mertua saya di Sampit, saat Abi masih dalam kandungan. Kini, usia Abi sudah memasuki 7 bulan (lahir pada 25 Oktober 2018).

Sebagai orang tua anyar, tentu saja kami bahagia, karena tahun ini kami bisa berkumpul dengan keluarga besar di Banjarmasin. Musababnya karena tidak setiap tahun, saya dan empat saudara kandung saya dapat merayakan lebaran dengan Mama, seperti umumnya keluarga besar muslim di Indonesia. Maklum, tiga kakak laki-laki saya secara bergiliran harus menjalani tugas belajar tingkat doktoral ke mancanegara (antara 2002-2017).

Pada praktiknya, formasi inti keluarga saya jarang bisa komplet: kami lima bersaudara plus Mama. Tentu saja, jumlah keluarga akan bertambah setiap tahunnya karena masing-masing saudara membawa istri dan anak-anaknya.

Alhamdulillah, tahun ini personilnya bisa lengkap, meski tanpa adanya Abah. Abah meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung tahun 2003 silam. Artinya, sudah 15 kali Idul Fitri kami rayakan tanpa kehadirannya.

Sebagai seorang Nenek, mama saya sekarang sudah memiliki delapan orang cucu: 4 perempuan dan 4 lelaki. Nah, si Abi adalah cucunya yang kedelapan.

Perayaan Hari Raya Idul Fitri dalam keluarga besar dilaksanakan secara sederhana. Pasca menunaikan ibadah sembahyang sunat Idul Fitri di masjid dekat rumah Mama, kami kemudian berkumpul di rumah, saling salam-salaman, bermaaf-maafan sekeluarga, juga dengan para tetangga.

Kemudian masuk sesi yang paling ditunggu: pesta makan. Menu khas Banjar yang selalu dihidangkan Mama untuk kami siap disantap: Lapat (sejenis buras) masak sambal habang, dengan lauk itik, ayam, dan telor itik. Juga ada Soto Banjar.

Mama biasanya juga menyajikan es buah sebagai minuman untuk penyegar dahaga. Tamu-tamu silih berganti datang untuk bermaaf-maafan dan tentu saja untuk menyantap hidangan lezat buatan Mama.

Selain itu, di hari Lebaran (entah di hari pertama atau kedua), kami sekeluarga juga berziarah ke makam Abah yang letaknya di luar kota. Di sana kami membaca Surah Yasin sekaligus tahlilan, juga memanjat doa kepada Allah Swt. untuk alm. Abah.

Di pemakaman yang sama, kami juga menyempatkan diri untuk menziarahi dan mendoakan makam Nenek (orang tua dari Mama). Ziarah adalah kegiatan yang sakral dalam tradisi keluarga kami, karena selain alasan spiritualitas, tradisi ini juga berguna untuk melestarikan pengetahuan genealogis kepada anak dan cucu.

Sejak kecil, kami lima bersaudara sudah diperkenalkan oleh orang tua untuk rutin berziarah ke makam-makam keluarga dan rutin bersilaturahim dengan keluarga (baik dari pihak alm. Abah ataupun Mama).

Orang tua kami berasal dari Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Sekira 1980-an, Abah dipindahdinaskan ke Banjarmasin. Sejak itu, kami sekeluarga menetap dan menjadi penduduk ibu kota provinsi Kalimantan Selatan itu.

Iklan

Namun, Abah dan Mama setiap lebaran akan membawa kami berlima mudik ke Amuntai. Selain mengunjungi sanak-famili, agenda utama ialah menziarahi makam dua kakek kami.

Belakangan, Nenek (orang tua Abah) juga meninggal dunia dan  dimakamkan di Amuntai, setahun setelah Abah tiada. Saya pribadi tidak pernah bertemu dengan kedua kakek karena mereka sudah lama meninggal dunia sebelum saya lahir.

Tak dinyana, Abi pun mengalami hal yang senada dengan. Abi tak bisa bersawala dengan kedua kakeknya karena sudah meninggal dunia (Abah mertua saya wafat empat hari setelah resepsi perkawinan kami di Banjarmasin pada 2018).

Jadi, dengan menziarahi dan mendoakan mereka, keluarga kami secara turun-temurun dapat melestarikan wawasan genetika nan lestari ihwal “apa itu keluarga?”.

Dengan demikian kita dapat memaknai fitrah kita sebagai manusia: mencintai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kemanusiaan yang kemudian disempitkan melalui wilayah terdekat: keluarga.

Akan tetapi, kegiatan mudik lebaran ke Hulu Sungai ini tidak lagi rutin kami lakukan pasca Abah wafat, karena selain saudara-saudara merantau ke luar negeri untuk sekolah, kiwari kami juga sudah berumah tangga (tinggal adik bungsu yang masih jomblo) dan  merantau. Singkatnya, lokasi berlebaran pun bergeser: dari Amuntai ke Banjarmasin.

Arkian, dalam pengalaman keluarga besar, perayaan Idul Fitri ialah ritual tahunan terpenting, di mana momen kumpul keluarga dan berziarah kubur merupakan kegiatan yang fundamental. Ada memori yang terus terawat dari anggota keluarga yang telah tiada, menjadi legenda yang selalu diceritakan ke mereka yang masih hidup.

Terakhir, saya ingin menggunakan mulut Don Vito Carleone sebagai penutup, “A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man.”

Selamat lebaran. Mohon maaf lahir dan batin. Salam untuk keluarga kalian yang selalu menjadikan kalian sebagai manusia seutuhnya.


Sepanjang Ramadan MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus soal hikayat dan sejarah peradaban Islam dari sejarahwan Muhammad Iqbal.

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2019 oleh

Tags: #hikayatCarleoneIdul FitrikeluargaLebaran
Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal

Editor Marjin Kiri. Dosen IAIN Palangka Raya. Sejarahwan ngoyot.

Artikel Terkait

Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)
Kilas

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)
Pojokan

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

25 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO
Catatan

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati
Pojokan

Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

24 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO

Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

5 April 2026
Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab (Wikimedia Commons)

Ketika Bapak Semakin Ngotot Membeli Innova Reborn untuk Jadi Mobil Keluarga, Anak-anaknya Khawatir Hidup di Desa Jadi Cibiran Tetangga

4 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.