Akhir 2015, dalam sebuah perjumpaan dan obrolan yang sangat jarang dengan sejarawan sosial Anton Lucas, saya mendapat sebuah pertanyaan sulit darinya. “Mengapa orang itu bisa begitu, Mahfud? Bagaimana bisa?” tanya Pak Anton. Pertanyaan itu terkait dengan terungkapnya ke publik fakta bahwa seorang intelektual, pejuang demokrasi, juga seorang guru besar di kampus tempat saya pernah belajar, yang sangat disegani semasa hidupnya, ternyata terlibat secara intensif dalam kekerasan ‘65.

Pertanyaan itu menyulitkan saya untuk dua alasan: (1) saya hanya mengenal orang itu sebatas nama—meskipun, kalau tak salah ingat, saat masih kuliah sekali dua saya pernah menghadiri diskusi yang diadakan di lembaga kajian yang identik dengan namanya; (2) pertanyaan itu diajukan oleh orang yang menulis One Soul One Struggle, buku yang saya puja sebagai seorang peminat sejarah sekaligus menimbulkan obsesi saya sebagai seorang pengarang, dan saya merasa tak boleh tampak terlalu bodoh; apalagi ia bertanya bukan karena tidak tahu, tapi karena ingin tahu pendapat saya—yang memperkenalkan diri sembari menghadiahinya sebuah novel. Saya kemudian memilih jawaban aman seorang pembaca sastra.

“Cerita-cerita awal Pram dipenuhi oleh tokoh-tokoh dengan jiwa rusak,” kata saya, sembari menyebut beberapa judul cerpen Pram, terutama cerpen “Blora” dari kumpulan cerpen Subuh. “Sebagian memang tipikal jiwa yang rusak, tapi sebagian lagi, dan ini sebagian besar, dirusak oleh pengalaman hidup yang ekstrem—dalam konteks cerita Pram, pengalaman ekstrem itu adalah perang, revolusi. Mereka adalah manusia-manusia dalam kemelut. Orang yang sedang kita bicarakan ini boleh jadi memang rusak dari sananya, dan kita selama ini dikibuli. Tapi bisa juga karena sebuah pilihan yang sulit, sebuah turbulensi, yang telah mengubahnya.”

Atau kira-kira semacam itu.

Saya merasa bukan itu jawaban yang dicari Pak Anton dari saya, dan itu terasa dari obrolan yang berlanjut dan memanjang tentang topik dan orang yang sama. Yang menjadi lebih runyam, jawaban yang saya berikan tidak saja tak memuaskan saya sendiri, tetapi juga tak kuasa membendung pertanyaan dari Pak Anton itu menjadi pertanyaan untuk diri saya: “Apa yang akan saya lakukan atau saya alami jika saya, dalam kapasitas saya sebagai pengarang, hidup dan melewati masa-masa genting itu?”

“Kayaknya kamu akan kena, Mas,” jawab Mas Rudi, teman yang mengajak saya bertemu Pak Anton, begitu kami sampai di rumah dan saya membicarakan pertanyaan pada diri sendiri itu. “Siapa pun yang menang setelah ‘65, kamu kena, Mas,” tegas Mas Rudi, sambil menyeringai lalu tertawa.

Meski ngeri membayangkan hal itu, saya memilih ikut menyeringai dan akhirnya kami berdua tertawa. Itu karena pada saat yang sama tak sulit membayangkan saya memilih opsi lain, yang boleh jadi lebih buruk: saya hidup namun dengan satu dan lain cara menjadi perantara bagi kematian orang lain, yang boleh jadi itu adalah orang-orang yang saya kenal, dan kemudian menghabiskan sisa hidup untuk terus-terusan menjelaskan kepada orang lain bahwa saat itu saya tidak tahu apa-apa. Tidakkah kita familier dengan orang-orang semacam itu? Dan, sebagian dari mereka kelihatannya adalah pengarang.

Dan pada dini hari ini, kurang dari 24 jam menjelang ulang tahun kemerdekaan RI ini, pertanyaan itu datang lagi kepada saya. Kali ini dengan redaksi yang sedikit berbeda: “Bila saja saya—Mahfud Ikhwan, seorang pengarang yang suka membanggakan kemalasannya, yang selalu mencurigai orang-orang yang terlalu optimistik dalam hidup dan atas apa-apa yang dilakukannya, yang senang mengejek mereka yang punya harapan terlalu tinggi sebagai orang yang menipu diri—hidup dan mengalami masa-masa di sekitar peristiwa Proklamasi 1945, apakah yang akan saya lakukan dan alami?”

***

Sambil mencari jawaban yang tepat, meski di depan saya tak ada seorang sejarawan yang tengah menguji pandangan saya, saya mau memproyeksikan diri saya pada seseorang yang di sekitaran masa-masa Kemerdekaan terlihat sangat tidak tipikal, jauh dari bayangan yang diidealkan guru-guru PPKn kita, namun boleh jadi mewakili apa yang banyak dan betul-betul terjadi: Chairil Anwar.

Baca juga:  Kolom: Beradab

Cerita yang banyak beredar, juga telah banyak dimodifikasi, Chairil adalah orang yang berada di balik semboyan “Boeng, Ajo Boeng!” dalam poster perjuangan yang digambar pelukis Affandi yang terkenal itu. Ditambahkan, semboyan yang kemudian menjadi populer dan heroik selama masa-masa perjuangan kemerdekaan itu ternyata didapat Chairil dari para pelacur di Senen. Cerita ini biasanya dibingkai dalam kisah bahwa para penyair, sebagaimana juga pelukis, memiliki peran dan tempatnya sendiri dalam perjuangan. Bagaimana pun ada glorifikasi di sana.

Masih dari sosok yang sama, saya kemudian mendapat gambaran yang relatif lebih lengkap, juga jauh lebih menarik, dan terasa jauh membumi, dari dua tulisan yang kebetulan saya baca beberapa hari belakangan. Yang lebih menarik, dua tulisan ini berasal dari dua perspektif yang sangat berbeda. Yang pertama mendudukkan diri sebagai senior, bahkan mentor yang telah sangat dikenal sebelum kemunculan Chairil, sementara yang kedua berasal dari pandangan seorang pelukis pemula yang kelak dikenal justru sebagai novelis, yang terpukau dengan persona Chairil, yang telah dikenal sebagai penyair besar kala itu. Tulisan pertama dari Sutan Takdir Alisjahbana, sebuah makalah tentang hidup dan puisi-puisi Chairil, disampaikannya di IKIP Yogyakarta, dan kemudian menjadi bagian dari buku kumpulan tulisan berjudul gagah khas Takdir: Perjuangan Tanggung Jawab dalam Kesusasteraan. Yang kedua dari sebuah buku tipis Nasjah Djamin, merupakan campuran memoar dan kesaksian, dengan judul sendu, Hari-hari Terakhir si Penyair.

Takdir sejak awal menyebut Chairil sebagai enfant terrible, bocah nakal, dan ia memilih memulai cerita dengan cara yang betul-betul menjelaskan hal itu, sekaligus yang disebutnya “memberi gambaran tentang kehidupan dan jiwa Chairil Anwar dan sedikit-banyaknya berpengaruh juga atas sajak-sajaknya berlaku pada permulaan pendudukan Jepang….”

Dikisahkan oleh Takdir, suatu hari ibu Chairil datang ke Kantor Bahasa Indonesia, tempat Takdir bekerja, sekaligus tempat Chairil biasa nongkrong. Ia bercerita tergopoh-gopoh bahwa anaknya ditangkap polisi karena mencuri seprai seseorang yang sedang dijemur. Subadio, teman sepantaran Chairil, yang kelak menjadi tokoh penting PSI, diutus untuk menebus seprei itu dan membebaskan Chairil. Subadio meminta bantuan seorang pegawai pengadilan yang dikenalnya dan ia bercerita bahwa Chairil adalah “penyair muda yang sangat berbakat dan penting kedudukannya dalam masyarakat”.

Cerita Subadio didengar dan tebusan diterima. Chairil kemudian bebas, tapi masalah belum selesai. Ternyata, Chairil jatuh cinta dengan adik si pegawai pengadilan, dan cinta Chairil itu rupanya berbalas. Chairil terkintil-kintil sampai ia datang ke rumah orang tua si gadis di Jawa Tengah dan tinggal berhari-hari di sana. Yang lebih buruk, Chairil yang menganggur dan urakan bertingkah tak menyenangkan di rumah pacarnya. Karena mereka rikuh untuk mengusir Chairil, sang penyair berbakat, pegawai pengadilan itu kemudian meminta bantuan Takdir dan kawan-kawan untuk memulangkan Chairil.

Chairil dan perempuan juga adalah gambaran pertama kali yang didapat Nasjah ketika bertemu dengan sang penyair di Jogja untuk pertama kalinya pada 1947. Saat itu Nasjah, yang belum lama datang ke Jogja, melihat Chairil datang bersama seorang gadis Indo di sanggar Seniman Indonesia Muda (SMI), tempat ia belajar melukis. Ketika Nasjah pindah ke Jakarta setahun kemudian, dan bekerja di bagian tipografi Balai Pustaka, di tempat itu ia berteman dekat dengan Chairil. Dari sana sebagian besar kesaksiannya didapatkan.

Di ruang tipografi Balai Pustaka, Chairil biasa datang dan bikin ribut, sebagaimana juga di mana pun ia muncul. (Nasjah menyebutnya, “Suasana yang tenang bergetar riuh senang ketika Chairil masuk”.) Chairil yang penyakitan biasa merengek meminjam uang kepada Baharudin, seorang pelukis sekaligus kepala bagian tipografi, untuk biaya berobat. Di sana juga ia biasa mengejek Idrus, prosais besar itu, yang sangat tak cocok dengan Chairil karena pembawaannya yang rapi. “Idrus! Nama kampungan! Namamu itu nama kusir. Chairil Anwar! Begitu mestinya nama. Nama penyair. Nama yang besar!” begitu Nasjah menggambarkan. Namun, di sana juga, Chairil sering membacakan sajak-sajak yang baru saja ditulisnya, sembari melonjak-lonjak dan menari-nari. Kata Nasjah, di sanalah Chairil untuk pertama kalinya membacakan sajak “Persetujuan dengan Bung Karno” yang terkenal itu.

Baca juga:  Kolom: Perempuan Tua dan Benang Rajutnya

Dan di sana pula ia bicara tentang perempuan, sebagaimana suatu hari ia datang, melonjak-lonjak, “dan menandak-nandak di depan Idrus.” Ia bilang kepada semua orang bahwa ia mendapat undangan untuk datang ke Paris. “Bayangkan olehmu Idrus, Bahar,” kata Chairil, “aku akan merasakan nona-nona Paris!” Ketika Idrus menimpalinya dengan sinis, dan menyebutnya “sia-sia dan hancur”, ia menyalak: “Hartaku ini masih sempurna. Lebih halus licin dari pipi Deana Durbin. Lebih licin dari pipimu,” katanya, sambil menunjuk kancing celananya.

Dan cerita-cerita Chairil ini terjadi antara 1942 hingga kematiannya pada 1949, masa yang sedang masak-masaknya bagi negeri ini. Di tahun-tahun itu, orang-orang bawah tanah dengan susah payah mengorganisir diri menentang pemerintah pendudukan fasis Jepang, ribuan orang dikirim sebagai romusha dan mati, revolusi sosial meledak di Sumatera Timur dan Jawa Tengah tak lama setelah Proklamasi, dan puluhan ribu orang di Surabaya mati.

***

Tapi Chairil adalah “penyair sangat berbakat dan penting kedudukannya dalam masyarakat” (yang bahkan bisa mengatai H.B. Jassin, “Apa dia ngerti sajak?”). Dan itu kenapa, ketika ia meninggal, iringan jenazahnya berkilometer panjangnya, selurus murid Taman Siswa dikerahkan untuk mengantarnya, dan orang besar seperti Sjahrir datang ke pemakaman, sementara pelukis Affandi bertahan di sanggarnya untuk menyelesaikan lukisan Chairil-nya. Siapa pun akan sulit mendudukkan dirinya seperti dirinya. Lagi pula, Chairil hanya seorang dan satu-satunya.

Sementara saya sulit membayangkan menjadi orang besar lain macam Takdir, juga orang-orang di lingkarannya yang nanti juga menjadi besar, rasa-rasanya yang tersisa dan lebih mudah saya bayangkan adalah beberapa orang yang ada di tepian kesaksian Nasjah, termasuk di dalamnya Nasjah Djamin sendiri. Menjadi orang yang bercita-cita jadi pelukis namun kemudian dikenal sebagai novelis sepertinya lumayan.

Bertahan di masa-masa kemerdekaan, bekerja sebagai “koperator” di percetakan milik Belanda, menulis novel-novel yang tampaknya tak terlalu dikenal di kalangan pemuja Pram, tak disangkut-pautkan dengan Lekra tak juga dikenal di kalangan Manifes, dan kelak menulis novel ngepop dengan tokoh utama bernama Anwar, seorang mahasiswa asal Medan yang gigolo dan kemudian mati kecelakaan di Solo, sepertinya tak buruk-buruk amat.

Atau tak apalah jadi semacam Soeharto, teman Nasjah, seorang pelukis juga, yang menampung Chairil Anwar di hari-hari terakhirnya. Ia menjual lembar-lembar puisi dalam map yang ditinggalkan Chairil, yang belakangan terbukti bahwa itu bukan puisi Chairil. Itu membuatnya didamprat di depan orang banyak oleh maestro Sudjojono yang sudah telanjur bersedia membuatkan ilustrasi untuk sajak-sajak itu.

Itu sepertinya jauh lebih baik daripada menjadi orang patah hati dan gila, dan kemudian dengan putus asa memutuskan masuk menjadi anggota jibaku seperti tokoh utama di cerpen Idrus. Atau menjadi mata-mata dan kemudian disembelih seperti di cerpen Nugroho atau dimassa sebagaimana di cerita-cerita Pram.

Atau, jangan-jangan, karena sinisme saya, bisa jadi saya akan ikut-ikutan memelesetkan teriakan “Merdeka!” sebagaimana orang-orang Eropa di Surabaya yang baru saja dibebaskan dari interniran Jepang dan untuk pertama kalinya mendengar kata itu diteriakkan: “Mentega!”

BACA JUGA Perempuan Tua dan Benang Rajutnya dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.