• 45
    Shares

Baca cerita sebelumnya di sini.

Dua hari sebelum ditemukan menggigil di tepi jalan, pucat, lusuh, kedinginan, sendirian, kebingungan, dengan mulut meracau tak keruan, beberapa orang bersaksi bahwa gadis itu terlihat di kerumunan di depan panggung orkes dengan seorang teman lelakinya.

“Namanya siapa, Mbak?” tanya seorang wartawan kriminal online lokal, menyorongkan ponsel perekamnya di sebuah bangsal rumah sakit.

“Mega… Mus… Mustika,” jawabnya, dengan muka ketakutan.

Seorang kerabat yang menungguinya di rumah sakit menyergah, membetulkan jawabannya. “Namanya Koni Suteja.”

“Yang belum ketemu itu pacarnya ya?” si wartawan tak ambil kendor.

Teman biasa!” si gadis memotong, suaranya meninggi.

Tanpa ampun, wartawan memberondong: “Jadi, Mbaknya diperkosa?”

Bukan yang pertama!” jerit gadis itu.

“Tidak ada perkosaan, begitu menurut visum. Tidak ada juga kekerasan fisik.” Kerabat yang menungguinya mengambil alih jawaban.

“Waduh…” Si wartawan tampak kecewa. “Saya tulis diperkosa saja ya?”

“Mas,” si kerabat itu memelas kepada si wartawan, “tolong kasihani korban.”

“Kalau bukan perkosaan, rugi saya jauh-jauh ke sini. Mending saya ke puskesmas di kecamatan sebelah, setidaknya di sana ada pembunuhan. Kasus tidak jelas macam ini siapa yang ngeklik?”

Salah satu adik korban, yang badannya tinggi besar, Dian Pisesa namanya, yang dari tadi hanya berdiri dekat dengan pintu bansal, tiba-tiba mencengkeram tas punggung si wartawan, lalu menyeretnya keluar menjauh dari dipan pasien. “Kalau kekerasan terhadap wartawan akan banyak yang baca, nggak?” tanyanya dengan marah.

“Hargai kebebasan pers, Mas!” teriak si wartawan dengan panik.

Tangan Dian hendak memukul. Beruntung, Mike Wijaya, saudaranya yang lain, melerai. Ia mengingatkan agar mereka lebih fokus untuk merawat pemulihan kakak perempuan mereka.

Sore harinya, wartawan itu menulis dalam judul panjang: “Ditanya Apakah Diperkosa, Koni Suteja: Bukan yang Pertama.”

***

Seminggu sebelum kejadian itu, Koni Suteja menelepon sahabatnya, Trisutrisno Wahyu Suharto, sambil terisak.

“Ada apa Jo malam-malam begini?” tanya suara di seberang telepon.

“Aku ditinggal kawin Murdiono, Sur!” isak Koni Suteja meledak jadi raungan.

Dan selama kurang lebih tujuh menit berikutnya, telepon hanya diisi suara tangisan Koni Suteja.

“Sudah, kamu tenang. Shshsh…” Trisutrisno mencoba menenangkan sahabatnya dari seberang telepon. “Kamu tidak sendirian, Jo. Kamu masih punya teman-teman yang menyayangimu. Kamu punya aku.”

“Tapi kamu jauh, Sur. Kamu di Jogja…” isak Koni Suteja masih tersisa.

“Lho, ‘kan ada Sumber Kencono. Begitu kau berkedip, wush… sampailah aku di depan rumahmu.”

“Alaah! Mbijuk-i!” Ada tawa kecil di ekor suara Koni Suteja.

Trisutrisno ikut tertawa. “Daripada kamu dibijuk-i Murdiono?”

Disebut nama Murdiono, Koni Suteja menangis lagi. Dan Trisutrisno harus bersusah payah menenangkannya lagi. “Sori, sori. Tidak akan kusebut nama itu lagi.”

Baru beberapa menit kemudian, Koni Suteja bisa ditenangkan kembali.

“Betul kamu mau pulang?” tanyanya, dengan menahan sengal.

“Betul, ini aku mau pulang. Ini sudah kemas-kemas.”

“Kerjaan kamu?”

“Cutilah!”

“Kuliah?”

“Nggak ada!”

“Jadi?”

“Hanya ada aku untukmu! Puas?”

Sebelum matahari sepenggalah, Trisutrino sudah sampai di depan rumah Koni Suteja.

“Tejo, aku datang.” Trisutrisno mengetuk pintu.

“Surti!!!” Koni Suteja berlari menghambur begitu pintu terbuka, menubruk sahabatnya. Ia menangis kembali. Sampai siang hari.

***

Ketika lahir pada 1992, neneknya dari sisi ibu bersikeras menamainya Koni Suteja, berdasarkan nama artis televisi yang dipujanya. “Aku paling-paling akan mati besok pagi. Biarkan aku menamai cucuku.” Rupanya, si nenek berumur lebih panjang dari yang ia perkirakan. Ketika cucu keduanya lahir, kali ini laki-laki, ia memaksa untuk memberikan nama Mike Wijaya dengan alasan serupa. Cucu ketiga, Dian Pisesa, laki-laki juga, pun mengalami kisah penamaan yang tak berbeda. Hanya anak keempat yang sedikit berbeda riwayatnya. Ia lahir satu tahun setelah sang nenek pergi, atau tujuh tahun setelah ia menamai cucu pertamanya. Merasa untuk pertama kalinya terbebas dari bayang-bayang mertua perempuannya, sang bapak, dengan lega dan penuh rasa bangga menamai anak keempatnya Amin Rais.

Ketiga bersaudara tentu saja mendapatkan masalah dari nama-nama yang diberikan nenek mereka—belakangan ini, yang keempat juga. Namun, apa yang mesti dihadapi Koni Suteja adalah yang paling berat. Beberapa guru di sekolah sering salah sangka dan menganggapnya sebagai anak laki-laki. Jadi, ia pernah ditegur dan dimarahi karena menguncir kuda rambutnya. Ia juga pernah dimasukkan tim sepak bola di ajang Porseni. Malah, pada satu karnaval Agustusan, ia dimasukkan dalam tim Pahlawan Revolusi. Bukan sebagai pahlawannya, tapi sebagai penculiknya. Guru-guru yang salah sangka itu memang bisa diingatkan, dan mengubah keputusannya, tapi tidak teman-teman sekolahnya. Tidak lama setelah masuk SD, ia tumbuh dengan panggilan Tejo. Sedikit beruntung, Tejo punya sahabat laki-laki bernama Surti.

Baca juga:  Sopir Tua dengan Tato Gitar Tua di Dada yang Sudah Dihapus dengan Setrika

Sebagai snak seorang satpam yang dulu pernah gagal tes Catam, Surti sebenarnya punya nama gagah: Trisutrisno Wahyu Suharto. Lahir dalam kondisi penyakitan, ia tak dinamai sampai berumur satu tahun. Baru setelah Mandataris MPR Jend. (Purn.) H.M. Suharto dan wakilnya Jend. (Purn.) Try Sutrisno dilantik jadi presiden dan wakil presiden, bapaknya dengan mantap menamainya Trisutrisno Wahyu Suharto.

Nama gagah itu tak mengubah banyak. Sutris, demikian orangtuanya memanggilnya, tetaplah bocah penyakitan. Ia kecil dan kerempeng ketika masuk SD, dan mungkin karena itu ia bersahabat dengan Tejo, anak perempuan yang diperlakukan teman-temannya sebagai laki-laki. Ia tetap menjadi Sutris yang kecil dan kerempeng sampai tiba ia berada di kelas 5 SD. Saat itu, lagu Surti dan Tejo dari Band Jamrud sedang ngetop-ngetopnya. Sutris segera berubah menjadi Surti, sebab ia berkawan dengan Tejo. Surti dan Tejo segera saja menjadi sepasang sahabat yang dipasang-pasangkan, dan tentu saja jadi bahan olok-olok. Olok-olok itu mempererat persahabatan Surti dan Tejo.

Di SMP, Surti dan Tejo masih satu sekolah, dan karena itu olok-olok terhadap mereka terus berlanjut. Namun, kali ini tak semudah itu mengolok-olok mereka. Surti mengembangkan sikap rasa melindungi kepada Tejo dengan ikut latihan karate, dan itu mengubah badan dan perangainya. Ia sekarang lebih kukuh dan lebih pemberani. Pada beberapa perkelahian pertama, Surti babak belur. Namun, pada perkelahian-perkelahian berikutnya, Surti mulai berhasil menumbangkan para penggojlog mereka. Bersamaan dengan itu, bibit cinta mulai bersemi di hati Surti.

“Tejo dan Surti pacaran? Kayak lagu saja!” kata Tejo, ketika Surti untuk pertama kalinya mengutarakan isi hatinya. Saat itu mereka kelas 2 SMP. “Kau kan sahabatku.”

Rupanya, Tejo sedang sir-siran sama kakak kelasnya, Basuki Rahmat.

Mereka akhirnya berpisah saat lulus SMP. Tejo masuk aliyah, sementara Surti masuk STM. Tapi Surti tetap menjadi sahabat dan pelindung Tejo yang setia. Ia yang menenangkan Tejo ketika dibuat patah hati oleh Amir Machmud. Gatot Subroto dihajarnya karena berlaku kasar terhadap Tejo. Ali Murtopo, bekas teman sekolahnya di STM, tukang minum dan bikin onar, diperingatkannya untuk tidak dekat-dekat dengan Tejo. Dan baru-baru ini, sepulang dari Jogja, tempat ia menjadi satpam di sebuah kafe, Surti yang tak bisa mendengar Tejo menangis menghajar Murdiono di depan calon istrinya.

“Ia mau kawin, Sur! Kasihan,” pekik Tejo.

“Kau masih cinta sama dia?”

Tejo menggeleng lemah. “Nggak.”

“Kalau sama aku?”

Tejo, seperti selalu dilakukannya ketika Surti mengatakan hal serupa, hanya tertawa. Dan sejak dibikin patah hati oleh Murdiono, ini adalah tawa Tejo yang paling lepas.

Bagi Surti, ini adalah kesempatan yang kesekian.

“Yuk, kawin sama aku saja,” kata Surti.

Tejo mencebikkan bibirnya, dan mengulangi apa yang berkali-kali dikatakannya kepada Surti. “Surti dan Tejo kawin? Apa nanti orang bilang?”

“Tak penting apa orang bilang, yang penting apa yang kamu bilang.” Surti mendesak dengan kalimat yang juga sudah sering diulang-ulang.

Dan dengan cara yang sama, Tejo memungkasinya. “Kita berteman saja, ya?”

***

“Kau sekarang suka dangdut?” tanya Tejo dengan sedikit heran, ketika Surti memboncengnya di atas motor menuju ke tempat keramaian. Suara son berdentam-dentam.

“Nggaklah,” kata Surti. “Ada bakso enak di sini, begitu temanku bilang. Habis itu, nanti kita ke diskusi buku. Ada kafe kecil, tak jauh dari situ, mengadakan peluncuran kumpulan cerpen. Judulnya, kalau tidak salah, Waktu yang Tidak Tepat untuk Menikah. Katanya sih penulisnya anak sekitar sini juga.”

“Kau baca buku, sekarang?” Tejo jadi lebih heran lagi.

“Harus. Walaupun satpam kafe, aku juga mahasiswa.”

“Tapi kau kan mahasiswa pariwisata dan perhotelan?”

“Lho, di Jogja itu sekarang sedang marak pariwisata pendidikan.”

“Apa itu?”

Dan Surti menguraikan konsep-konsep yang baru saja dikarangnya sendiri dengan panjang-lebar.

Mereka mengobrol hal-hal yang tak penting sambil makan bakso, diiringi dentuman musik yang tak mereka kenal. Lalu terjadilah huru-hara itu.

***

Mereka tak jadi menghadiri peluncuran buku. Keadaan begitu kacau ketika ribuan orang berlarian dari depan panggung orkes. “Hujan pentol! Hujan pentol!” Orang-orang berdesak-desakan, lari bertabrakan, sementara beberapa orang jatuh dan kemudian terinjak. Ibu-ibu mencangking sandal jinjitnya, anak-anak menangis mencari bapaknya, dan beberapa pasangan yang sedang pacaran tiba-tiba bertengkar.

Keduanya baik-baik saja, tapi motor yang dipakai Surti untuk membonceng Tejo tidak mau hidup. Surti berusaha mengutak-atik motornya, tapi motor itu tetap tak bisa dinyalakan, sementara sore hari mulai menjadi malam. Surti terpaksa menitipkan motor itu di bengkel. Tejo mengusulkan agar mereka mengontak famili di rumah agar menjemput, tapi naluri melindungi Surti mencegahnya. “Nanti malah merepotkan. Lagipula, dari rumah ke sini terlalu jauh. Kita naik angkudes saja. Pasti masih ada,” kata Surti. Tejo bersepakat, meskipun sedikit enggan.

Baca juga:  Kematian Kaji Badrun: Pembunuhan dalam Tiga Lagu Meggy Z.

Setelah menunggu hampir dua jam, dan mereka hampir bertengkar karena itu, mereka kini ada di sebuah mobil Carry tua yang apek baunya, yang hanya ada dua kursi penumpang, persis di belakang sopir. Di bagian belakang mobil, sampai bagasi, dibiarkan lapang. Dalam mobil bercahaya remang itu, Surti dan Tejo tergoyang-goyang oleh cara gerak mobil yang melaju enggan.

“Kan? masih ada,” kata Surti.

“Tapi…” Tejo menyahut dan melihat sekeliling dalam mobil dengan mata sedikit khawatir. Surti memberikan kode tutup mulut.

“Mobilnya bukan plat kuning ya, Pak?” Surti berbasa-basi, juga mencoba menenangkan Tejo.

“Tidak apa-apa. Nanti saya antar sampai tujuan.” Si sopir menyahut tanpa menoleh. Hanya topi AC Milan lusuhnya yang berkedik-kedik ditiup angin dari jendela yang tak ditutupnya. “Talok, kan?”

Surti mengangguk. “Oh ya, nanti ongkosnya saya kasih dua kali lipat.”

“Ah, nanti silakan dikasih berapa. Yang penting saya ada teman ngobrol.”

Surti tertawa. Tejo menjadi lebih lega. Dan mereka sepertinya mulai nyaman.

“Oh ya, ini tadi habis nonton orkes ya?” tanya sopir.

“Tidak, saya nggak suka dangdut. Tadi cuma cari bakso ke sana.”

“Saya suka dangdut, tapi saya tidak suka orkes macam itu.”

Sunyi beberapa saat.

“Eh, ini anaknya tidak diajak?” Sopir memulai lagi. Ia tetap tidak menoleh.

Surti tertawa.

“Oh, masih pengantin baru ya?” Sopir mendesak.

Sekali lagi Surti tertawa.

“Oh belum? Nunggu apa? Pacaran lama-lama tidak baik.”

“Kami cuma berteman kok, Pak,” potong Tejo.

“Oh… teman biasa. Wah ada lagunya itu!”

Lalu si sopir menyanyi:

Kau yang kuanggap sebagai teman biasa

Tapi kebaikanmu melebihi orang yang kucintai.

Kau mampu mengobati lukaku

Selama diriku menderita

Sedangkan orang yang kucintai

Tak pernah menghiraukan diriku

“Pernah dengar, Mas? Mbak?” tanya sopir, sambil menoleh ke belakang. Saat itulah, dalam keremangan lampu mobil itu, bisa dilihat parut parah di pipi kiri sampai bawah mata. Dan mata kirinya tampak berkilap warna putihnya. Hanya putih saja.

***

“Ketika lagu itu pertama kali muncul, sekitar akhir ’80-an, Mega Mustika tampak cantik sekali. Tak heran, bos saya tergila-gila kepadanya. Jauh sebelum Murdiono mengawini Machica Muchtar, bos saya itu ngebet sama Mega Mustika.” Sopir itu terus ngomong. Tejo kembali merasa tidak nyaman, apalagi setelah sopir itu menyebut-nyebut Murdiono. Surti menenangkannya, menjelaskan bahwa sopir itu bicara tentang Murdiono yang lain.

Sopir menyalakan rokok. “Rokok, Mas?” tawarnya. Surti mengibaskan tangannya, tanda menolak.

Si sopir mengembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Angin dari jendela yang dibuka mendorong asapnya ke belakang, menerpa hidung Surti dan Tejo. “Dulu…”

Lalu ia bercerita bahwa dirinya pernah diberi tugas oleh bosnya, seorang pensiunan jenderal yang tak begitu terkenal, menguntit Mega Mustika. Saat itu Mega Mustika sedang dekat dengan Johnny Iskandar. Ia diperintahkan bosnya untuk mengacau hubungan mereka. Tapi, katanya, ia tidak sampai hati. Ia sangat menyukai lagu-lagu Johnny Iskandar, terutama karena ia mengenal keluarganya di kampung asalnya di Jawa Timur. Mereka keluarga yang soleh, orang-orang baik, dan ia tak mau mengganggu. Ketika Mega menikah dengan Johnny, ia dianggap gagal oleh bosnya dan nyawanya terancam. Untuk menyelamatkan diri, ia mesti ikut ke jenderal lain untuk mencari perlindungan.

“Tahu Johnny Iskandar Mas?”

Surti menggeleng.

“Lagu Pengemis Cinta, nggak tahu?”

Surti masih menggeleng. Tejo mulai menggigil. Ia menarik tangan Surti, mengajaknya turun dari mobil.

“Dia itu muazin, Mas. Bacaan Arabnya fasih. Makanya rekaman suara azannya dipakai oleh banyak radio.”

Tak ada sahutan dari Surti. Tejo juga tak bersuara.

“Omong-omong soal muazin, saya dulu pernah ditugaskan membunuh mereka. Ya, saya akhirnya tak bisa menghindari melakukan itu. Beginilah nasib jadi bajingan kecil, Mas. Oh ya, tentu saja, nggak begitu mereka disebut. Dukun santet atau tukang sihir kami menyebutnya. Biar seru. Alhamdulillah, saya cuma sempat ikut membunuh tiga muazin. Pas mau yang keempat, rencana kami berantakan. Malah, kami yang dikepung massa. Tahu dari mana parut di muka ini saya dapat?”

Sopir itu menoleh lagi ke belakang. Ia menemukan Surti dan Tejo tidur dengan kepala berimpitan. Mata mereka pejam. Kedua tangan mereka jatuh ke kursi.

“Parut di muka ini saya dapat dari situ,” sambung si sopir, tersenyum, kemudian membelok ke sebuah jalan tanah kecil, terus masuk ke hutan.

Baca cerita berikutnya di sini.

  • 45
    Shares


Loading...



No more articles