Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Fast and Furious: Semacam Review Religius

Mbah Nyutz oleh Mbah Nyutz
16 April 2015
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sepertinya, kesuksesan film ini hanya bisa disaingi oleh sinetron Tersanjung: keduanya sama-sama terdiri 7 bagian atau season atau sekuel atau terserah apa sebutannya. Perbedaannya hanya pada jumlah episodenya. Pada Fast and Furious, satu season satu episode, sedangkan Tersanjung, keseluruhannya sampai 360 episode.

Mengapa film itu begitu populer? Sebagai insan beragama yang mendalami ilmu gothak–gathuk-entuk atau cocokologi, saya melihat film Fast and Furious sengaja dipopulerkan oleh Tuhan secara misterius sebagai pelajaran simbolik yang ditayangkan Tuhan kepada manusia untuk membaca makna kehidupan pada umumnya, dan kehidupan beragama pada khususnya.

Sejak judulnya saja itu film sudah mencerminkan gaya hidup modern.  Pertama, fast. Kita ini, entah sadar atau tidak, ingin segalanya makin cepat, buru-buru: makan kudu cepat (fast-food, mie instan), kerja harus efektif supaya waktu tak terbuang sia-sia karena time is money, pesan (SMS, BBM, atau segala bentuk komunikasi online) harus segera sampai, dan koneksi Internet juga kudu cepat.

Hasrat akan kecepatan ini melahirkan banyak efek buruk. Salah satunya adalah mengurangi kesabaran untuk mencerna, yang berdampak pada merosotnya daya pikir dan wawasan. Orang membaca berita cuma judulnya, dan kalau dianggap cocok, atau jika judulnya bernada menyerang pihak yang tidak kita sukai, langsung share saja tanpa membaca isinya.

Celakanya, karena media tahu hal ini, mereka kadang bikin judul yang sensasional, bombastis atau bahkan bernada fitnah. Dalam ranah religi, mereka yang dimanjakan teknologi Internet enggan ngaji konvensional yang cenderung relatif lama: maka mereka belajar ke situs-situs agama di Internet, termasuk dengan bertanya kepada “Kyai Google.”

Karena tak sempat lagi berpikir panjang dan mendalam, lantaran dibombardir informasi yang datang dengan cepat silih-berganti, maka keinginan untuk cepat bisa dan masuk surga menciptakan ilusi: dengan membaca situs-situs saja mereka sudah merasa sukses melakukan akselerasi iman. Dengan belajar setahun-dua tahun mereka sudah merasa paling benar pemahamannya, seolah-olah hanya tafsiran mereka sajalah yang sama dan sebangun dengan tafsiran dan pemahaman Nabi dan sudah berhak mendapat kapling surga. Yang tidak sejalan dengan pemahamannya yang instan itu dianggap dianggap sesat dan menyesatkan. Jadilah banyak orang yang “mendadak ustadz.”

Jika keinginan fast sudah menjadi bagian integral dari gaya hidup, dan apabila itu tidak didapatkan, maka timbul muncul gejala kedua, furious. Misalnya, saat koneksi Internet mendadak lambat, timbul jengkel, dan tak jarang diekspresikan via twitter atau facebook dengan memaki atau ngamuk-ngamuk ke operatornya. Atau, saat aktivis pacaran jarak jauh sekali mengirim pesan dan tak segera dibalas maka timbul curiga pasangannya sedang selingkuh. Atau, saat debat panas di twitter dan mendadak salah satu tak segera me-reply, timbul sebal dan langsung menuduh lawannya kabur karena tak bisa menjawab argumen (padahal mungkin dia meninggalkan debat sementara karena kebelet ngising atau koneksinya mendadak bosok).

Ini berbahaya, saudara-saudara. Sebagaimana fast-food yang tidak sehat dan memicu berbagai penyakit degeneratif, fast-faith juga demikian.

Iman yang kesusu menyebabkan distorsi pemahaman, yang pada ujungnya menurunkan level kemuliaan agama menjadi hanya bahan dan alat: bahan untuk debat, pamer, dan sebagai alat untuk menjustifikasi kepentingan yang tidak berkaitan dengan urusan akhirat. Akibatnya agama ditafsirkan sesuai kepentingan. Setiap ada ayat tentang kebaikan, cepat-cepat dinisbahkan ke dirinya atau kelompoknya sendiri, dan setiap ada ayat tentang kutukan dan ancaman atau laknat, langsung dinisbahkan ke kelompok yang tak sepaham atau rival politik. Segala ayat dan dalil menjadi “penthungan” untuk melindungi kepentingan diri dengan menggebuki pihak lain yang dirasa beda dan mengganggu kenyamanan.

Maka teriakan takbir menjadi aba-aba ancaman; yang mendengar akan gemetar, bukan karena takut akan kebesaran Tuhan, melainkan takut digebuki. Jadi kita sekarang menyaksikan merebaknya “fast-faith and furious”: iman yang kesusu dan ngamukan.

Barangkali Tuhan sedang mengajarkan bahwa beragama secara kesusu akan menyebabkan orang cenderung merasa paling benar serta mudah ngamuk. Gampang ngamuk akan menyuburkan nafsu amarah. Lalu agama menjadi alat penghancur dan pemecah belah yang efektif dan efisien untuk merusak berbagai hal. Fitnah bertaburan, dusta dirayakan, kemunafikan dianggap strategi yang sah dan direstui oleh Tuhan.

Saya jadi berpikir lagi saat hendak tidur dengan istri di kamar: hal-hal yang kesusu bukankah tidak enak? Bayangkan, misalnya, seandainya gaya fast and furious ini masuk ke ranjang pengantin. Apa enaknya kelon dengan kesusu?

Lalu berdasarkan ilmu cocokologi, saya merumuskan tesis: barangkali kita perlu belajar lagi kesabaran dalam belajar agama dengan mengingat kesabaran suami-istri saat bersenggama–menikmati setiap prosesnya dengan pelan, dimulai dari bersih-bersih badan, gosok gigi, pake parfum, kasih kode-kode mesum atau kedip-kedip cabul, lalu foreplay, menghayati desahan dan sentuhan, dan tidak buru-buru orgasme. Jadi, kesabaran dalam berproses “menjadi” religius amatlah diperlukan. Ini teori saya.

Tetapi sebagaimana teori pada umumnya, ada kelemahan dalam teori “metode belajar kesabaran berbasis teknik bersetubuh yang halal,” yang belum saya pikirkan solusinya. Metode ini tentu agak sulit diajarkan kepada para jomblo. Padahal merekalah generasi muda yang seharusnya lebih banyak belajar sabar dalam mendalami agama dan kehidupan.

Iklan

Saya khawatir, jika terlalu banyak populasi jomblo awet, mereka akan keburu keracunan virus gaya hidup fast and furious sehingga menambah panjang daftar keruwetan dalam hidup. Walhasil, timbul pertanyaan lagi: apakah perlu kita menggagas cara untuk membantu jomblo mengambil jodohnya dari tangan Tuhan agar bisa belajar melalui kelon, sehingga generasi selanjutnya tidak terjebak dalam gaya hidup dan gaya religi yang kesusu dan ngamukan?

Saya sebenarnya ingin membahas lagi, tetapi saya ingat, saya belum kelon malam ini, dan supaya tidak dianggap jarkoni (iso ngajar ora iso nglakoni), saya harus mendahulukan pengamalan kelon dengan sabar. Saya pamit dulu.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: AgamafanatismeFast and FuriousjombloTuhan
Mbah Nyutz

Mbah Nyutz

Artikel Terkait

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO
Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO
Esai

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru
Suara Bawah Tanah

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO
Ragam

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.