Nabi Ibrahim mengalungkan kapaknya di leher patung berhala terbesar setelah ia menghancurkan semua patung yang lebih kecil. Ketika ditangkap dan diinterogasi Namrud, Nabi Ibrahim tak menjawab “Aku yang menghancurkannya,” melainkan “Patung paling besar itu yang menghancurkannya.”

Nabi Ibrahim menyindir kebodohan penyembah patung, seakan-akan ia bertanya “Mengapa sesembahanmu yang paling besar itu tak melindungi sesembahanmu yang lebih kecil dari upaya penghancuranku?” Namrud lalu membakar Nabi Ibrahim, tetapi ia tak terbakar, dan justru merasakan keadaan yang, dalam bahasa Qur’an, “bardan wa salaaman” (adem dan tenteram).

Berhala adalah sesembahan selain Tuhan. Setiap orang punya sesembahan sendiri-sendiri. Dalam batin manusia ada “patung-patung berhala” yang punya kehendak untuk dituruti: kesombongan, keserakahan, hasrat berkuasa, dan semacamnya. Berhala dalam batin itu tampak dalam bentuk material dalam keseharian manusia: uang, barang mewah, kursi kekuasaan, sikap gila hormat dan seterusnya. Kadang kala, Tuhan, atau ayat-ayat-Nya, diperalat untuk memuaskan kehendak berhala itu.

Menyembah berhala batin sama artinya menguatkan dan mengeraskan kehendak egoisme, yang hanya mau dibenarkan, dan selalu mencari pembenaran untuk membenarkan dirinya sendiri. Ketika diri dikuasai sifat-sifat semacam itu, terciptalah berhala terbesar: diri kita sendiri. Diri hanya mau didengarkan, tanpa mau mendengar. Batin atau hati manusia mengeras, sekeras patung.

Secara simbolik, berhala terbesar, sebagaimana disimbolkan oleh patung terbesar sesembahan Namrud, tak bisa (atau tak mau dalam konteks berhala batin) menghancurkan berhala-berhala kecil karena mereka adalah penopang eksistensi berhala terbesar itu.

Orang lupa bahwa egoisme atau merasa benar sendiri itu destruktif. Sebab, dengan menjadikan diri sebagai “pusat kebenaran”, diri tak mau menolerir adanya kemungkinan kebenaran dari sumber lain karena merasa setara dengan Tuhan, atau paling tidak merasa diri yang paling benar dan paling paham apa maunya Tuhan.

Walau kita tahu egoisme akan menghancurkan diri kita, tetapi karena kita mencintai berhala ego ini, maka kita mencari pembenaran dengan cara berusaha menunjukkan atau mencari-cari kesalahan orang lain. Orang lain harus lebih salah daripada kita.

Kita lalu berbuat baik dan benar menurut tafsir kita hanya demi mencari konfirmasi terus menerus dari pandangan/respons orang lain. Kalau orang lain tak mau juga mengkonfirmasi, diri akan bergerak untuk menghancurkan liyan agar ilusi diri sebagai pusat kebenaran itu tak terganggu. Angkara murka dan nafsu amarah pun muncul.

Jadi, menyembah “patung berhala” dalam diri adalah sama dengan menyalakan api besar yang merusak. Hati menjadi sekeras batu, jiwa sepanas api. Kita menjadikan diri kita sebagai bahan bakar neraka. “Neraka bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. Nafsu amarah seperti api yang tak dikendalikan, merusak yang ia sambar tanpa pandang bulu, tanpa belas-kasihan.

Agar api padam, atau setidaknya terkontrol, manusia mestinya sedikit demi sedikit menghancurkan berhala-berhala dalam dirinya yang ia sembah-sembah sepanjang hari. Sehingga, dalam situasi apa pun, manusia akan tetap “adem dan tenteram” sebagaimana Nabi Ibrahim yang tetap selamat dalam kobaran api amarah Namrud.

Tuhan itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, juga Maha Pengampun. “Belas kasih-Nya mendahului murka-Nya”.

Penyembah patung berhala batin mengingkari sifat belas kasih ini, sehingga ia merampas hak-hak Tuhan, melampaui batas dalam bertindak, tak bisa bertindak adil karena mengikuti kehendak nafsu amarahnya, seperti kita lihat dalam kasus pembakaran seseorang yang dituduh mencuri barang di masjid baru-baru ini.

Betapa banyak orang marah-marah mengatasnamakan agama, sehingga agama kelihatan garang dan keras dan tidak adil. Padahal para sahabat Nabi salallahu alaihi wassalam banyak memberi contoh tentang sikap adil yang dipadukan dengan belas kasih.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, sahabat Abu Dzar al-Ghifari pernah melakukan tindakan penuh pengorbanan demi orang lain yang dituduh bersalah, yang berisiko menghilangkan nyawanya sendiri, sehingga orang bertanya kepadanya tentang tindakannya itu. Abu Dzar menjawab, “Apakah aku harus menjadi orang yang membuat masyarakat berkata bahwa tiada lagi belas kasih dalam ajaran Islam?”

Sepertinya memang kita harus semakin sering muhasabah, mengawasi jiwa-batin kita. Islam itu damai, selamat dan menyelamatkan sesama manusia, tunduk kepada Tuhan, juga rahmatan lil-alamin .... Tetapi mengapa orang beriman justru tak selamat dari sesama orang beriman baik dalam lisan maupun perbuatan, dan mengapa justru tunduk pada egoisme diri?

Apakah kita tak pernah mendengar firman Allah dalam al-Qur’an yang terus bergema memperingatkan, “Dan juga pada jiwamu (anfusikum) sendiri, apakah tidak engkau perhatikan (awasi)” dan “Belum tibakah waktunya bagi orang beriman untuk menundukkan dan mengingatkan hatinya (dengan khusyuk) kepada Allah dan kebenaran yang Dia turunkan?”

Wa Allahu a’lam bi muradihi.

No more articles