Tidak hanya seporsi kekalahan. Kehidupan dewasa sebenarnya seringkali memberikan berpiring-piring yang membuat setengah gila. Namun, di sela kekalahan bertubi-tubi tersebut, bagi beberapa orang yang kerja di Jakarta ini, paling tidak masih ada seporsi kemenangan yang bisa dirayakan. Meski hanya kemenangan-kemenangan kecil belaka.
***
Suatu pagi belum lama ini, seorang teman Wirawan (27) di sebuah kantor pemasaran di Jakarta Pusat untuk pertama kalinya tampak berangkat ngantor dengan penuh semangat. Sejak Subuh si teman telah mengirim pesan-pesan jahil ke Wairawan.
Hari itu adalah hari terakhir si teman Wirawan bekerja setelah sebelumnya permohonan resign-nya diterima.
“Kenapa dia semangat resign? Baginya itu seporsi kemenangan setelah berulang kali menghadapi kekalahan di kantor: kalah sama deadline, sama bos tantrum, dan rekan toksik. Ia merasa menang karena bisa nggak tergantung di kantor itu, memutuskan resign, meski isunya cari kerja lagi susah,” ujar Wirawan bercerita, Minggu (5/7/2026).
Berbeda dengan si teman, Wirawan belum punya keberanian untuk resign. Namun, resign bukan satu-satunya kemenangan yang bisa dikejar. Sebab, baginya, ada seporsi-seporsi kemenangan lain yang, memang kecil, tapi sudah cukup untuk merasa menang dari kerasnya kehidupan dewasa—di Jakarta pula.
Mie ayam: seporsi kecil kemenangan yang bikin hidup tak bisa disia-siakan usai berporsi kekalahan
Wirawan hanya butuh mie ayam untuk melewati banyak “peperangan” di kehidupan dewasa.
Pagi sebelum berangkat kantor, ia bisa mampir dulu di sebuah warung mie ayam langganan di Jakarta Pusat. Sekadar untuk mengisi energi sebelum memulai rutinitas panjang dan padat di kantornya.
Di sore atau malam hari, ketika pikirannya penuh oleh pekerjaan atau stres karena tekanan mental, aroma mie ayam seketika membuatnya rileks. Aromanya mengaburkan sejenak segala silang-sengkarut di kepalanya.
“Aku itu bukannya nggak pengin resign. Terutama karena ngadepin teman toksis di kantor, yang seolah memang sengaja bikin karyawan lain nggak betah biar pada resign. Kalau aku resign, berarti aku kalah dong. Aku harus membuktikan kalau kinerjaku patut diperhitungkan bos. Aku udah merasa menang di situ, menang karena aku nggak nyerah buat resign,” beber Wirawan. Orang boleh beda pendapat soal ini, tapi itu seporsi kemenangan versi Wirawan.
Godaan untuk mengakhiri hidup bukannya tidak timbul-tenggelam. Apalagi di kehidupan dewasa ini ia harus menjalani semrawutnya hidup yang diperparah dengan sistem negara yang kian bobrok dan mencekik.
Tapi nyatanya Wirawan masih bisa bertahan hingga sekarang. Ia hanya butuh satu alasan: mie ayam masih enak, seperti dalam novel laris Brian Khrisna Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati.
Tidak tergiur pinjol di tengah situasi ekonomi seperti saat ini,pencapaian yang layak disyukuri
Tidak seperti kebanyakan pekerja di Jakarta yang kerja dobel-dobel (side jobs), Wirawan sejauh ini memang hanya mengandalkan gaji tunggal dari kantornya. Ya meski belakangan ia mulai mempertimbangkan untuk mencari ceruk pemasukan lain.
Situasi ekonomi saat ini—saat harga-harga makin mahal—Wirawan mulai kerasa kalau keuangannya terlalu pas-pasan. Untuk kebutuhan pokok dirinya sendiri saja (seperti sewa kos, makan harian, bensin, dan sejenisnya) saja pas-pasan, apalagi untuk kebutuhan lain yang bersifat sekunder atau tersier. Ia saja sudah mulai membatasi nongkrong-nongkrong di coffee shop dan mengurangi budget rokoknya.
“Kalau ke orang tua, ya sesekali lah (ngasih),” kata Wirawan.
“Tapi gini, belakangan kan ada data pengguna PayLater melonjak. Banyak orang, terutama kalangan anak muda, terjebak pada ‘ilusi beli dulu bayar nanti’. Tapi ujung-ujungnya gagal bayar (galbay),” imbuhnya.
Apa yang Wirawan katakan terkonfirmasi dalam data terbaru dari Pefindo Biro Kredit (IdScore): per Februari 2026 menunjukkan outstanding PayLater atau total utang yang masih menggantung mencapai Rp56,3 triliun. Tumbuh hampir 87 persen dalam setahun.
Data juga menunjukkan: masyarakat yang paling banyak menggunakan PayLater adalah orang-orang dengan usia produktif. Hampir 44 persen pengguna PayLater adalah mereka yang berusia 26-35 tahun (Milenial), disusul oleh Gen Z usia 18-25 tahun yang menyumbang sekitar 26,5 persen.
Sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, ada banyak anak muda yang rela utang lewat pinjol dan PayLater demi beli tiket konser atau jenis hp keperluan terbaru.
“Kalau toh aku masih belum bisa konsisten menabung, tapi nggak tergoda pinjol atau utang pakai PayLater aja, itu kemenangan yang harus kusyukuri. Kalau bisa konsisten nabung lagi, menang mutlak,” ujarnya.
Ada sisa uang untuk beli keinginan, momen langka yang membahagiakan
Bergeser ke Jakarta Selatan, Nilam (29), perempuan asal Bekasi yang bekerja di sebuah Event Organizer di Jaksel, sebenarnya punya kebiasaan yang sama dengan Wirawan: mengambil jeda dan meleram kesumpekan di meja warung mie ayam.
Namun, jika ditanya: Seporsi kemenangan apa yang bisa Nilam rayakan usai berporsi-porsi kekalahan?, jawabannya membuatnya selalu meneteskan air mata tiap mengingatnya.
“Gini, kan aku pernah cerita (dalam tulisan “Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua“), kalau aku ini sandwich. Aku nanggung kebutuhan rumah. Adik tengahku nggak bisa diandalkan. Sementara adik bungsuku masih kuliah. Jadi aku kan hampir nggak pernah mikirin diriku sendiri,” beber Nilam dengan suara bergetar.
Uang hasil kerja keras menguras jiwa-raga di Jakarta Selatan selalu ia prioritaskan untuk keluarga. Toh setiap kali ibunya menelepon, transferan lah yang selalu ditanyakan. Itulah kenapa Nilam lebih memilih ngekos di Jaksel saja ketimbang pulang ke rumahnya di Bekasi. Ia takut makin gila kalau tinggal serumah.
“Setiap ada keinginan, pasti nahan-nahan. Jadi, ketika ada sisa uang lebih yang aku dapet dari side jobs atau bonus kantor, aku langsung nangis. Karena akhirnya aku punya uang lebih buat beli sesuatu yang aku pengin,” kata Nilam.
Itulah seporsi kemenangan kecil versi Nilam. Uang lebih itu entah untuk buat beli outfit baru, sepatu baru, parfum, atau skincare yang setidaknya tidak semurahan yang selama ini dipakai dengan alasan penghematan.
Bisa tidur awal tanpa beban pikiran, seporsi kemenangan yang melegakan dari berporsi kekalahan
Ada kalanya Nilam memang harus tidur larut malam karena urusan pekerjaan. Terutama jika ada event dan ketika ia ambil side jobs cukup padat. Tapi tidak jarang pula, ia tidak bisa lekas tidur hingga lewat tengah malam karena pikirannya begitu berisik (overthinking).
“Macem-macem lah yang dipikir. Kayak, ini mau sampai kapan sih hidup kayak gini. Ini kenapa sih aku harus hidup di tengah keluarga kayak gini. Kapan aku bisa kaya ya. Macem-macem dan ngelantur lah pokoknya,” tutur Nilam.
Tentu, intensitas insomnia karena overthinking tersebut membuat tubuhnya kadang merasa sakit semua. Agak mengganggu juga karena ia harus berangkat kerja dalam kondisi masih terkantuk-kantuk.
Walhasil, ketika ada momen ia bisa tidur lebih awal tanpa banyak pikiran—yang entah bagaimana datangnya—itu menjadi seporsi kemenangan yang sangat ia rayakan.
“Aku bisa bangun pagi dengan napas lega. Kayak, akhirnya bisa tidur normal. Akhirnya bisa bangun dalam kondisi bugar. Walaupun bakal kerja keras lagi, tapi seenggaknya bisa bangun bugar gitu loh,” pungkasnya.
Kata Nilam, memang hanya seporsi kemenangan saja. Hanya kecil belaka. Tapi, selayaknya setiap kemenangan, tetap selalu memberi kelegaan.
Kalau kamu, apa seporsi kemenangan kecil yang masih bisa kamu rayakan di tengah gempuran berporsi-porsi kekalahan di hidup ini? Kalau belum merasakannya, pesan Nilam, temukanlah, agar hidup kita punya sedikit makna.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Ujian Keuangan di Kota Perantauan: Bikin Mumet dan Gagal Nambah Tabungan Gara-gara Masalah yang Datang Keroyokan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
