Pensiun dini kerap dianggap sebagai kemewahan yang hanya bisa dinikmati mereka yang memiliki tabungan melimpah. Namun, di Purworejo, ada pilihan hidup yang menawarkan perhitungan berbeda: menekan pengeluaran, tetap mencari penghasilan lewat usaha kecil, dan meninggalkan kehidupan urban untuk slow living.
***
Banyak orang yang membayangkan pensiun dini sebagai kehidupan tanpa kewajiban bekerja, dengan tabungan yang cukup untuk menikmati hari tua. Namun, bagi Ahmad Daru atau yang kerap disapa Daru (47), pensiun dini justru dimulai ketika ia belum memiliki tabungan yang cukup untuk benar-benar berhenti mencari uang. Setelah hampir 15 tahun tinggal di Jogja dan bekerja sebagai pegawai bank, Daru memilih kembali ke Purworejo, membuka warung kelontong dan menjadi agen gas elpiji skala kecil untuk menikmati slow living di kampung halamannya.
Keputusan itu mungkin terdengar nekat. Bagaimana seseorang bisa memilih pensiun dini ketika kondisi keuangannya belum benar-benar aman? Bagi Daru, jawabannya bukan dengan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya terlebih dahulu, melainkan mengubah cara menjalani hidup. Di Purworejo, ia merasa masih bisa mencari penghasilan tanpa harus menghadapi kebutuhan hidup yang menurutnya seberat ketika tinggal di Jogja.
“Hidup di Purworejo ini malah lebih nyaman, secara ekonomi bisa diberdayakan namun kebutuhan tidak seganas di Jogja,” ujarnya kepada saya, Kamis (29/10/2026), melalui pesan WhatsApp.
Meninggalkan pekerjaan bank, Memilih pensiun dini dan beralih hidup yang lebih sederhana
Hampir 15 tahun tinggal di Jogja tentu bukan waktu yang sebentar. Selama itu pula, Daru menjalani kehidupan sebagai pegawai bank, pekerjaan yang memberinya rutinitas dan tanggung jawab profesional. Namun, pada suatu titik, ia memilih meninggalkan pekerjaan tersebut dan kembali ke Purworejo.
“Alasan sederhananya karena bosan kerja, namun sebenarnya karena merasa lelah menjadi pegawai kantoran dan hidup di Jogja yang kalo kata orang enak, bagi saya itu tidak enak dan cukup menyiksa. Makanya, saya mending balik ke Purworejo kumpul sama keluarga saya,” ujar Daru.
Keputusan Daru menarik karena ia tidak sedang berada dalam situasi ketika uang bukan lagi persoalan. Ia justru mengakui tidak memiliki tabungan yang cukup untuk pensiun dini. Artinya, keputusan meninggalkan pekerjaan tetap tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan untuk mendapatkan penghasilan.
Daru kemudian membuka warung kelontong dan menjalankan usaha agen gas elpiji kecil. Ia memang tidak sepenuhnya berhenti bekerja. Yang berubah adalah bentuk pekerjaan dan lingkungan tempat ia menjalani kehidupan sehari-hari.
“Awalnya jelas dari modal tabungan yang tidak seberapa itu lalu buka warung kelontong dan jualan gas elpiji gitu. Karena rumah memang sudah ada dan mumpuni untuk membuka warung. Selama membuka warung sendiri memang penghasilan tidak seberapa ya mas, kasaran e buat balik modal sama untung diikit. Namun kan saya juga punya sepetak sawah pemberian orang tua, jadi ya alhamdulilah dikit-dikit bisa dijadikan penghasilan meski tidak besar,” jelas Daru.
Dalam konteks ini, pensiun dini tidak harus dimaknai sebagai berhenti menghasilkan uang. Bagi Daru, pensiun dini lebih dekat dengan keputusan meninggalkan pekerjaan lamanya dan membangun sumber penghasilan yang sesuai dengan kehidupan yang ingin ia jalani.
Purworejo dan angka pengeluaran penduduk yang relatif rendah
Pengalaman Daru memiliki konteks ekonomi yang menarik. Kabupaten Purworejo pernah menjadi sorotan karena rata-rata pengeluaran penduduknya relatif rendah dibandingkan kabupaten/kota lain di Jawa Tengah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Katadata, rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Purworejo pada 2025 tercatat Rp1.213.009 per bulan. Angka tersebut turun tipis dibandingkan 2024, ketika pengeluaran per kapita mencapai Rp1.215.934. Dari total pengeluaran pada 2025, sekitar Rp630.212 digunakan untuk makanan dan Rp582.796 untuk kebutuhan bukan makanan.
Angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Pengeluaran per kapita merupakan gambaran rata-rata pengeluaran penduduk, bukan patokan pasti biaya hidup seseorang yang baru pindah ke Purworejo. Kebutuhan setiap rumah tangga tetap bergantung pada kepemilikan rumah, jumlah anggota keluarga, kesehatan, pendidikan, serta pengeluaran lainnya.
Meski begitu, data tersebut memberi konteks untuk memahami mengapa seseorang seperti Daru merasa lebih leluasa mengatur kebutuhan hidup setelah kembali ke daerah asalnya.
“Kalau di Jogja, gaji saya yang Rp5 juta itu cukup mepet mas, buat makan, kontrakan, sama kebutuhan per bulannya, jadi meski gajinya gede ya pengeluarannya cukup gede. Tapi kalau di Purworejo, anggap saya bisa punya uang Rp2 juta sebulan, jauh lebih banyak turahnya mas, karena biaya tempat tinggal dan makan jelas sudah terpotong karena istri saya juga pandai bercocok tanam, sehingga banyak kebutuhan dapur yang tidak perlu beli, tinggal ambil di sawah, ya sekali-kali aja jajan ke luar. Selain itu, di sini tidak banyak toko aneh-aneh jadi perilaku konsumtif dan impulsif saya tidak semengerikan di Jogja,” terang Daru.
Keterangan Daru tentang kebutuhan hidup yang tidak “seganas” Jogja menjadi pengalaman konkret baginya dan menjadi alasan mengapa ia memilih Purworejo sebagai kota untuk ia pensiun dini. Sebab, persoalannya bukan sekadar apakah Purworejo lebih murah, melainkan apakah selisih kebutuhan tersebut membuat seseorang lebih leluasa mengatur pendapatannya.
Slow living dan frugal living dalam satu kehidupan di Purworejo
Dua istilah yang cocok untuk menggambarkan pilihan Daru adalah slow living dan frugal living. Keduanya kerap dipakai bersamaan, meskipun memiliki penekanan berbeda.
Slow living berkaitan dengan upaya menjalani kehidupan dengan ritme yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan prioritas pribadi. Sementara itu, frugal living menekankan pengelolaan pengeluaran secara bijak, termasuk membedakan kebutuhan dan keinginan.
Pada kehidupan Daru, keduanya berpotensi bertemu. Ia meninggalkan pekerjaan sebagai pegawai bank, tetapi tetap menjalankan usaha kecil. Ia tidak sepenuhnya melepaskan aktivitas ekonomi, melainkan berusaha menempatkan pekerjaan dalam bentuk kehidupan yang menurutnya lebih nyaman.
“Kalau sekarang sih, saya lebih senang hidup begini mas, menikmati hidup pelan dan tentunya masih bisa mancing. Wah banyak spot nal nil di sini mas, tidak bingung lagi kalau mau mancing. Membuka warung kelontong dan agen gas elpiji itu memang hasilnya kecil namun memberi saya ketenangan dan menjalaninya dengan santai,” jelasnya.
Namun, menjalani kehidupan yang lebih pelan bukan berarti seluruh persoalan ekonomi otomatis selesai. Warung kelontong tetap membutuhkan modal dan perputaran barang. Usaha agen gas elpiji juga menuntut pengelolaan stok, pelayanan kepada pelanggan, dan kemampuan menjaga pemasukan.
Karena itu, pilihan Daru bukan gambaran tentang hidup tanpa tanggung jawab. Ia justru memperlihatkan kemungkinan lain: mencari penghasilan melalui pekerjaan yang lebih sesuai dengan prioritas hidupnya, sembari berusaha menjaga pengeluaran agar tidak melampaui kemampuan finansial.
Kehidupan sosial juga menentukan kenyamanan
Selain persoalan ekonomi, kenyamanan menjalani kehidupan di suatu daerah juga berkaitan dengan lingkungan sosial. Kedekatan dengan keluarga, hubungan dengan tetangga, serta kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan masyarakat dapat menjadi bagian penting dari pengalaman seseorang setelah meninggalkan pekerjaan formal.
Penelitian Iis Tyana dan Lena Satlita yang diterbitkan dalam Journal of Public Policy and Administration Research pada 2023 membahas pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Desa Wisata Pandanrejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Penelitian tersebut menemukan bahwa pengembangan pariwisata berbasis komunitas berkaitan dengan peluang kerja dan pendapatan masyarakat lokal, sekaligus dimensi sosial seperti kualitas hidup, kebanggaan komunitas, dan penguatan organisasi masyarakat.
Penelitian tersebut bukan bukti bahwa seluruh masyarakat Purworejo memiliki kehidupan sosial yang lebih nyaman daripada warga Jogja. Namun, temuan itu menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi lokal dan kehidupan komunitas dapat saling berkaitan dalam konteks tertentu di Purworejo.
Bagi seseorang yang meninggalkan pekerjaan formal, perubahan lingkungan sosial juga patut diperhatikan. Identitas sebagai pegawai bank mungkin dahulu menjadi bagian dari rutinitas dan kehidupan profesional Daru. Kini, ia menjalani peran yang berbeda sebagai pemilik warung dan agen gas elpiji.
Perubahan itu menarik untuk ditelusuri: apakah ia merasa kehilangan sesuatu dari pekerjaan lamanya, atau justru menemukan kepuasan baru dari kehidupan yang sekarang?
Pensiun dini tidak harus menunggu kaya raya
Kisah Daru menawarkan cara pandang lain tentang pensiun dini. Ia tidak memiliki tabungan yang cukup untuk berhenti bekerja sepenuhnya, tetapi memilih meninggalkan pekerjaan sebagai pegawai bank dan membangun penghasilan dari usaha kecil di Purworejo.
Pilihan itu tidak serta-merta bisa ditiru semua orang. Kondisi keuangan, tanggungan keluarga, kepemilikan tempat tinggal, serta kestabilan usaha menentukan apakah keputusan serupa masuk akal bagi orang lain.
Namun, pengalaman Daru memperlihatkan bahwa pembicaraan tentang pensiun dini tidak selalu harus berpusat pada besarnya tabungan. Ada pula pertanyaan tentang berapa banyak uang yang dibutuhkan seseorang untuk hidup, pekerjaan seperti apa yang ingin ia jalani, dan lingkungan seperti apa yang membuatnya merasa nyaman.
Purworejo, dalam pengalaman Daru, menjadi tempat untuk mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ia tetap bekerja, tetap mencari penghasilan, tetapi berusaha menjalani hidup dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
Pada akhirnya, pensiun dini mungkin bukan tentang berhenti bekerja selamanya. Bagi Daru, pensiun dini justru bisa berarti berhenti menjalani kehidupan yang lama, lalu menyusun ulang cara mencari uang, mengatur kebutuhan, dan menikmati hari-hari yang tersisa dengan lebih sadar.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pensiun Dini dari Pengacara, Rawat Sayuran di Ladang Malah Slow Living dan Bahagia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan