ADVERTISEMENT

Jadi Kurir Gas Elpiji adalah Pekerjaan yang Diidamkan Pemuda Kampung, Work-life Balance dan Slow Living!

Kurir Gas Elpiji Adalah Pekerjaan Idaman Bagi Pemuda Kampung yang ingin work-life balance. MOJOK.CO

Di tengah tren anak muda mengejar pekerjaan dengan gaji besar, jabatan mentereng, dan jam kerja yang work-life balance, ada cita-cita lain yang tumbuh di kampung saya: punya usaha gas elpiji sendiri, mengantarkan pesanan, lalu pulang untuk menikmati hidup.

***

Santoso (37) menjalani pekerjaan itu setiap hari. Ia mengelola usaha kecil sebagai kurir gas elpiji di Trihanggo, Sleman. Ia mengendarai Honda Supra X yang sudah ia modifikasi dengan krombong untuk membawa tabung gas dari satu rumah ke rumah lain. Penampilannya jauh dari kesan pekerja kantoran, tetapi justru pekerjaan seperti inilah yang diidamkan sejumlah pemuda di kampung saya.

Delapan dari sepuluh kawan saya, setidaknya menurut obrolan kami, mengaku ingin menjalani pekerjaan serupa jika punya modal. Mereka tidak sedang bercanda soal cita-cita. Bagi mereka, menjadi kurir gas elpiji menawarkan sesuatu yang sulit mereka temukan dalam pekerjaan formal: kesempatan mengatur pekerjaan sekaligus menikmati kehidupan di luar pekerjaan.

Tidak perlu kerja kantoran untuk menikmati hidup

Kalau dilihat sekilas, pekerjaan Santoso tampak sederhana. Ia menerima pesan pelanggan, menyiapkan pesanan, mengantarkan tabung gas, lalu menerima pembayaran. Tidak ada meja kerja, seragam perusahaan, atau rapat yang menghabiskan waktu.

Namun, Santoso tetap menjalankan usahanya dengan sistem pelayanan yang jelas. Pelanggan menghubunginya melalui WhatsApp, kemudian ia mengantarkan gas elpiji ke alamat pemesan. Ia juga menyediakan pembayaran tunai maupun QRIS.

“Jadi nanti alur pemesanannya WA ke nomor saya dulu, terus saya antar. Bisa bayar cash atau mau QRIS, nanti saya sediakan barcodenya,” jelas Santoso, Jumat (9/10/2026).

Dari luar, pekerjaan itu mungkin terlihat biasa saja. Namun, bagi sebagian pemuda kampung, justru kesederhanaan itulah yang menarik. Mereka tidak harus mengejar jabatan atau bekerja di gedung perkantoran untuk mendapatkan penghasilan. Santoso mengelola usaha sendiri dan melayani pelanggan secara langsung. Ia tidak perlu menunggu atasan menyetujui setiap keputusan kecil dalam pekerjaannya. Setidaknya, ia punya keleluasaan untuk mengatur cara menjalankan usaha.

Antar gas elpiji, ongkirnya tidak bikin pelanggan kabur

Santoso menggunakan Honda Supra X yang sudah ia modifikasi agar mampu membawa tabung gas elpiji. Motor itu menjadi kendaraan operasional sekaligus alat utama untuk menjangkau pelanggan. Ia tidak memungut ongkos kirim untuk pesanan yang masih berada di wilayah Desa Trihanggo. Namun, ia menerapkan tarif tambahan jika pelanggan meminta pengantaran ke luar desa.

“Kalau masih di Trihanggo biasanya tidak saya tarik ongkir, Mas. Tapi kalau di luar Trihanggo, saya tarik ongkir Rp2 ribu hingga Rp5 ribu saja, tergantung dengan jarak tempuhnya,” kata Santoso.

Cara tersebut membuat pelanggan mengetahui biaya pengantaran sejak awal. Santoso juga bisa menjangkau konsumen tanpa harus membangun sistem usaha yang rumit. Meski begitu, usaha kecil seperti miliknya tetap membutuhkan modal, kendaraan, stok gas, dan pelanggan yang rutin memesan. Ia juga harus memperhitungkan biaya operasional agar uang yang masuk tidak habis untuk kebutuhan usaha.

Saya tidak mengetahui berapa keuntungan bersih yang Santoso dapatkan setiap bulan. Namun, satu hal terlihat jelas: ia memilih mengurus usaha sendiri daripada menggantungkan pekerjaannya pada struktur perusahaan.

Work-life balance tidak harus datang dari perusahaan besar

Istilah work-life balance sering muncul ketika anak muda membicarakan pekerjaan ideal. Mereka ingin memperoleh penghasilan yang cukup tanpa mengorbankan waktu bersama keluarga, teman, atau diri sendiri. Santoso justru melihat konsep itu dari pengalaman sehari-hari sebagai kurir gas elpiji.

“Jelas bagi orang-orang seumuran saya, kerjaan ini sangat diidamkan, Mas. Ini kalau kata anak muda sekarang namanya work-life balance,” ujarnya sembari tertawa lebar.

Pekerjaan Santoso memang tidak otomatis membuat hidupnya bebas masalah. Ia tetap perlu melayani pesanan, mengurus persediaan, dan memastikan pelanggan mendapatkan gas yang mereka butuhkan. Sebagai pemilik usaha, ia juga menanggung sendiri risiko ketika pelanggan sepi atau biaya operasional meningkat.

Namun, pekerjaan mandiri memberinya ruang untuk mengatur cara bekerja. Bagi sebagian orang, keleluasaan semacam itu lebih menarik daripada sekadar memiliki jabatan yang terdengar keren.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Proporsi Lapangan Kerja Informal Menurut Kelompok Umur mencatat bahwa 44,34 persen pemuda berusia 16–30 tahun bekerja di sektor informal pada 2023. Angka itu menunjukkan bahwa pekerjaan informal merupakan bagian penting dari kehidupan kerja anak muda Indonesia, meskipun tidak otomatis membuktikan bahwa mereka lebih bahagia atau memiliki keseimbangan hidup lebih baik.

Cita-cita pemuda kampung: punya usaha, mancing, lalu ronda

Saya mencoba membicarakan pekerjaan Santoso dengan Bagus (25), salah seorang pemuda di kampung. Ketika saya bertanya tentang daya tarik pekerjaan tersebut, jawabannya justru terdengar jauh dari gambaran kesuksesan yang biasa muncul di media sosial.

“Mimpi sederhana anak muda yang hanya ingin buka agen gas elpiji, mancing, dan ronda di kampung. Slow living,” ujar Bagus.

Jawaban Bagus menggambarkan cita-cita yang tidak membutuhkan banyak embel-embel. Ia membayangkan punya usaha sendiri, memperoleh penghasilan, lalu tetap bisa menikmati kegiatan yang dekat dengan kehidupan kampung.

Bagi sebagian pemuda di lingkungan saya, keberhasilan tidak harus berbentuk promosi jabatan, pindah ke kota besar, atau bekerja di perusahaan ternama. Memiliki usaha yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sambil tetap dekat dengan lingkungan sosial juga menjadi pilihan.

Tentu, saya tidak bisa menganggap delapan dari sepuluh kawan saya sebagai gambaran seluruh pemuda kampung. Itu hanya hasil obrolan di lingkaran pertemanan saya. Namun, obrolan tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan ideal tidak selalu memiliki ukuran yang sama bagi setiap orang.

Orang kota mengejar karir, orang kampung ingin punya kendali dengan jadi kurir gas elpiji

Ada anggapan bahwa pekerjaan seperti kurir gas elpiji hanya menjadi pilihan ketika seseorang tidak berhasil memperoleh pekerjaan yang lebih bergengsi. Padahal, anggapan itu mengabaikan satu hal: setiap orang memiliki pertimbangan berbeda ketika menentukan pekerjaan yang ingin mereka jalani.

Bagi Santoso dan pemuda seperti Bagus, pekerjaan bukan semata-mata soal seberapa bagus jabatan tercantum di kartu nama. Mereka juga mempertimbangkan keleluasaan mengatur waktu, kedekatan dengan kampung, serta kesempatan menikmati hidup di luar urusan mencari uang.

Meski demikian, bekerja mandiri bukan jalan pintas menuju kehidupan ideal. Penghasilan bisa berubah, pelanggan bisa berkurang, dan pemilik usaha harus menanggung risiko yang tidak selalu muncul dalam pekerjaan bergaji tetap. Work-life balance juga tidak otomatis hadir hanya karena seseorang bekerja tanpa atasan.

Namun, pekerjaan Santoso menawarkan sudut pandang lain tentang kesuksesan. Ia tidak perlu mengubah motornya menjadi kendaraan mewah atau menyebut pekerjaannya dengan istilah yang terdengar profesional agar pekerjaannya punya nilai.

Mungkin, bagi sebagian orang kota, mengantarkan gas elpiji dari rumah ke rumah bukan pekerjaan impian. Namun, bagi pemuda kampung yang ingin punya usaha sendiri, tetap bisa mancing, dan tidak kehilangan waktu untuk ronda, pekerjaan itu justru masuk akal. Toh, buat apa sibuk mengejar work-life balance kalau pada akhirnya kita lupa menikmati hidup yang selama ini ingin diseimbangkan?

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Saat Tukang Antar Galon Isi Ulang Jadi Profesi Idaman: Work-life Balance karena Kerja Dekat Rumah tapi Upah Standar Kantoran Luar Kota atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.