Honda suntik mati Jazz secara kontroversial. Jangan ulangi kebodohan yang sama terhadap lini Honda Supra, yang justru relevan di era BBM mahal.
Honda pernah mengambil satu keputusan yang sampai sekarang masih terasa sebagai luka di hati jutaan penggemarnya di Indonesia. Keputusan itu datang pada Maret 2021, ketika PT Honda Prospect Motor (HPM) secara resmi menghentikan produksi Honda Jazz di tanah air.
Kala itu, publik tidak mendapat penjelasan yang memuaskan. Yang muncul hanya dalih soal desain generasi baru yang tidak cocok dengan selera konsumen Indonesia. Publik menyebut keputusan itu sebagai sebuah kebodohan, dan sampai sekarang, label itu masih menempel.
Kini, di tengah kenaikan harga BBM, terutama Pertamax yang semakin memberatkan kantong, garis sejarah itu terasa makin relevan. Honda punya lini motor yang justru menjadi jawaban paling masuk akal untuk zamannya: Honda Supra.
Menurut saya, motor ini adalah masa depan roda dua Indonesia. Karena itu, mari kita bicara serius soal kebodohan masa lalu Honda, dan kenapa Honda wajib menjaga kelestarian Supra kali ini.
Saat Honda memilih menyuntik mati Honda Jazz
Kompas mencatat bahwa HPM menghentikan produksi Honda Jazz pada Februari 2021. Pengumuman itu muncul berbarengan dengan peluncuran Honda City Hatchback RS pada 3 Maret 2021.
Business Innovation and Sales & Marketing Director PT HPM, Yusak Billy, menyebut model Jazz generasi keempat tidak cocok untuk pasar Indonesia. Makanya, Honda memilih menggantinya dengan City Hatchback. Sepanjang 2020, penjualan Jazz mencapai 6.533 unit, dengan sisa stok terakhir 300 unit di dealer.
Tempo meliput peristiwa yang sama. Tempo menulis bahwa total penjualan Jazz secara wholesales dari 2004 sampai 2021 mencapai 327.801 unit. Angka itu menunjukkan betapa Jazz pernah menjadi primadona konsumen Indonesia.
Detik membahas fenomena yang lebih lebar. Detik menulis bahwa Honda lebih dulu menyuntik mati Jazz di pasar Amerika Serikat karena penjualannya menurun tajam. Akhirnya, Honda mengambil langkah yang sama di Indonesia.
Lalu, kenapa publik menyebut keputusan itu sebagai kebodohan? Karena Honda membunuh produk yang masih punya nama besar. Mereka mengganti produk yang punya pasar setia dengan produk baru yang belum tentu punya tempat di hati konsumen. Pabrikan asal Jepang itu juga membuang warisan yang sudah mereka bangun selama hampir dua dekade.
Angka penjualan yang tidak bisa jadi alasan
Ketika HPM melepas Jazz dari pasaran, mereka menyebut alasan klasik berupa riset pasar. Namun, bila melihat data yang ada, alasan itu tetap tidak meyakinkan.
Sepanjang 2020, Jazz masih menjual 6.533 unit. Sepanjang 17 tahun kehadirannya di Indonesia, total penjualan Jazz mencapai lebih dari 327.000 unit. Honda menjamin layanan servis dan ketersediaan suku cadang untuk jangka panjang.
Detik pernah membahas penjualan bekas Jazz yang justru stabil setelah Honda menghentikan produksinya. Permintaan terhadap unit bekasnya tidak merosot. Artinya, pasar masih menghendaki Jazz, bukan City Hatchback. Honda mematikan sesuatu yang masih orang butuhkan.
Tempo menulis bahwa banyak konsumen masih menanyakan ketersediaan Jazz. HPM tidak menutup kemungkinan mengembalikan Jazz suatu hari nanti. Namun sampai sekarang, Honda tidak menghidupkan kembali nama Jazz.
Honda Supra: Jawaban yang sudah sejak lama hadir
Di tengah blunder Jazz, Honda punya lini lain yang justru menjadi tulang punggung pasar roda dua Indonesia: Honda Supra. Lini ini sudah mengaspal sejak 1997. Sudah hampir tiga dekade, Supra menemani jutaan keluarga Indonesia.
Kompas membahas perjalanan panjang Supra dalam liputan “Honda Supra, Bebek yang Gak Ada Matinya“. Mereka menyebut Supra meluncur pada 1997 dan sampai 2020 sudah 23 tahun mengaspal.
Sepanjang eksistensinya, Supra berevolusi dari mesin 97 cc, ke 125 cc, hingga 150 cc lewat Supra GTR. Bahkan ada gosip mau ada 160 cc. Di Thailand, Honda menjualnya sebagai Honda Wave. Di Jepang, Honda menjualnya sebagai Honda Dream.
Detik membahas keistimewaan Supra. Mereka menyebut konsumsi BBM Honda Supra X 125 FI mencapai 61,8 km per liter, menjadikannya salah satu motor Honda paling irit di pasaran. Detik juga menulis bahwa Honda Supra GTR 150 mampu menempuh 42,2 km per liter, angka yang sangat kompetitif untuk motor berkubikasi 150 cc.
Tempo ikut membahas kontribusi Supra untuk pasar motor bebek Indonesia. Mereka menulis bahwa meski tren motor matik naik, motor bebek seperti Supra tetap punya tempat karena performa yang lebih bertenaga dan konsumsi BBM yang lebih hemat. Secara khusus, Tempo menyoroti Honda Supra X 125 sebagai motor bebek yang transmisi rantainya tahan air, debu, oli, dan kotoran.
Honda Supra dengan mesin bandel, mesin irit, mesin awet
Detik menekankan bahwa Honda Supra X 125 FI memakai teknologi PGM-FI yang membuat proses pembakaran lebih sempurna dan konsumsi BBM lebih irit. Sistem injeksi ini juga menekan emisi agar lebih ramah lingkungan. Tenaga yang keluar dari mesin Supra X 125 mencapai 7,40 kW pada 8.000 rpm dengan torsi 9,30 Nm pada 4.000 rpm.
Kompas menyebut bahwa sejak debutnya, Honda Supra mendapat julukan sebagai motor yang paling irit di kelasnya. Mesin 97,1 cc milik Astrea Supra generasi pertama langsung merebut hati masyarakat karena efisiensi BBM-nya.
Detik juga mencatat bahwa lini motor ini generasi karburator sudah sangat irit sebelum injeksi datang. Versi karburator Honda Supra X 125 sanggup menempuh rute Jakarta-Tegal dengan sekali isi tangki. Tangki 5,6 liter bisa membawa pengendaranya hingga lebih dari 300 kilometer.
Desain sederhana yang justru jadi kekuatan
Kompas menyoroti bahwa Supra generasi pertama hadir dengan desain sederhana. Bodi ramping, lampu depan berbentuk kotak, panel instrumen analog. Desain ini justru menjadi ciri khas yang membuat orang gampang mengenali Supra di jalan. Sejak 2001, Supra sudah mendapat rem cakram di roda depan.
Tempo menyebut bahwa Supra X 125 tetap mempertahankan tampilan yang fungsional. Motor ini mudah dirawat dan suku cadangnya melimpah di pasaran. Honda bahkan merilis varian Supra Fit yang lebih stylish untuk menyasar segmen anak muda.
Detik menambahkan bahwa Honda juga memproduksi varian Honda Supra GTR 150 dengan desain lebih sporty. Motor ini memakai lampu LED, ban tubeless, dan rem cakram hidrolik di kedua roda. Semua varian Supra tetap mengandalkan DNA efisiensi yang sama.
Performa untuk harian, bahkan touring
Detik menyebut bahwa Honda Supra GTR 150 menggendong mesin 149,16 cc DOHC 4-katup dengan transmisi 6-percepatan. Tenaga yang keluar mencapai 12 kW pada 9.000 rpm dan torsi 14,2 Nm pada 6.500 rpm.
Kompas menambahkan bahwa Supra dari generasi ke generasi selalu mempertahankan DNA mesin yang bandel. Detik menyebut Honda Supra X 125 FI mampu diajak bertahan pada pemakaian harian yang panjang. Mesinnya bekerja stabil dan minim getaran.
Tempo menyiratkan bahwa performa lini motor ini juga relevan untuk perjalanan jauh. Transmisi manual dengan penggerak rantai membuat penyaluran tenaga lebih spontan saat melewati medan ekstrim atau membawa beban berat.
Harga terjangkau, suku cadang melimpah
Detik menulis bahwa harga Honda Supra X 125 FI berada di angka sekitar Rp19 jutaan. Honda Supra GTR 150 ada di kisaran Rp 25 jutaan. Angka-angka ini membuat Supra tetap masuk akal untuk hampir semua kalangan.
Tempo menyebut bahwa lini veteran ini tidak pernah menaikkan harga secara agresif. Suku cadangnya selalu tersedia di setiap pelosok. Bengkel umum di kampung-kampung pun kenal benar dengan mesin Supra. Hal ini membuat biaya servis harian tetap murah.
Harga BBM naik, Supra makin relevan
Di tengah kenaikan harga Pertamax yang konsisten menggerus dompet masyarakat, motor Honda Supra justru menawarkan jawaban paling masuk akal. Semakin mahal harga BBM, semakin irit motor yang orang butuhkan. Honda Supra X 125 FI mencatatkan konsumsi BBM mencapai 61,8 km per liter, jauh mengungguli motor matik sekelasnya yang biasanya hanya 40-45 km per liter.
Warga yang merasa berat dengan harga Pertamax akan berpikir dua kali sebelum mengisi tangki setiap minggu. Mereka akan menimbang antara efisiensi atau gaya. Mereka akan kembali ke motor bebek yang mesinnya bandel dan tangkinya tidak cepat kosong. Dan mereka, akan menoleh ke lini motor ini.
Honda punya peluang emas di sini. Lini Supra bisa menjadi primadona baru di tengah krisis BBM yang mahal. Honda bisa memperkuat pasar roda dua Indonesia dengan cara paling sederhana: menjaga Supra tetap ada, tetap murah, dan tetap relevan.
Jangan ulangi kebodohan yang sama
Kini kita bicara soal masa depan. Jangan sampai Honda mengulangi kebodohan yang sama. Menyuntik mati lini Supra karena alasan desain, misalnya, adalah kebodohan paling paripurna. Alasan gaya hidup berubah? Persetan dengan gaya hidup, sekarang zamannya efisiensi. Dan, jangan sampai Honda mematikan mesin yang jadi sumber penghidupan jutaan keluarga Indonesia.
Honda harus belajar dari blunder Jazz. Honda harus menjaga lini Supra dari hulu ke hilir, memperbarui Supra tanpa menghilangkan esensinya, dan mempertahankan mesin bandel yang sudah teruji puluhan tahun.
Lini Supra tidak boleh jadi korban studi pasar yang salah. Supra tidak boleh jadi korban tren sesaat. Supra tidak boleh jadi korban rapat internal yang berujung pada disuntik mati. Honda harus berdiri tegak di atas keputusan bahwa Supra akan tetap hidup untuk Indonesia.
Honda Supra adalah masa depan
Kebodohan menyuntik mati Jazz sudah kita saksikan bersama. Harga bekas Jazz tetap tinggi, pasar masih menghendaki Jazz, tapi Honda sudah menutup pintunya.
Sekarang Honda punya kesempatan kedua. Honda punya lini motor yang mesinnya tangguh, mesinnya awet, dan harganya masuk akal. Honda punya lini motor yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat: BBM yang makin mahal, jarak yang makin pendek, dan dompet yang makin tipis.
Honda harus sadar. Lini motor ini layak jadi tulang punggung roda dua Indonesia untuk generasi berikutnya. Jangan sampai suatu hari Honda mengumumkan bahwa mereka menyuntik mati lini Supra.
Jangan sampai, publik kembali harus mengubur satu nama besar yang sebenarnya masih sangat orang cintai. Karena kalau Honda melakukannya lagi, kebodohan itu akan jadi catatan dua kali. Dan dua kali selalu lebih bodoh daripada satu kali.
BACA JUGA 10 Tahun Mengendarai Honda Supra X 125 Adalah Salah Satu Kebanggaan dalam Hidup Saya dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.