Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Muak dan Mati Rasa akibat Karier Mandek dan Rekan Kerja Muka Dua

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
30 Maret 2026
A A
Pekerja Jakarta resign setelah terima THR dan libur Lebaran

Ilustrasi - Pekerja Jakarta resign pasca-THR (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Fenomena pekerja yang berbondong-bondong resign usai pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dan libur Lebaran tidak semata-mata karena gaji, setidaknya demikian dari kacamata pekerja Jakarta yang merasa menghadapi situasi yang kompleks sehingga harus mengambil keputusan ini.

***

Naura, bukan nama sebenarnya, (27) merupakan pekerja Jakarta yang baru saja melakukan pengunduran diri (resign) dari pekerjaan yang telah ditekuninya selama hampir dua tahun.

Hampir, artinya tidak lama lagi Naura bisa mencapai seminimal-minimalnya durasi kerja ideal seperti yang ditetapkan sebagian orang.

Akan tetapi, sebelum benar-benar mencapainya, Naura memilih untuk mengajukan pengunduran diri. Ia resign dari pekerjaan, selang beberapa hari setelah pencairan THR dan libur Lebaran yang berakhir.

Keputusan Naura bisa menjadi bukti fenomena resign setelah THR-libur Lebaran, padahal dirinya mengatakan telah berniat jauh-jauh hari. Hanya saja, pemilihan waktu setelah pencairan THR dan libur Lebaran seakan menjadi momentum yang tepat baginya.

“Ini bukan sesuatu yang aku putuskan secara gegabah, tapi emang sudah kurancang aja durasi kerjanya nggak begitu lama, tapi nggak begitu sebentar juga,” kata dia kepada Mojok, Senin (30/3/2026) siang.

Rancangan ini, kata Naura, telah dipertimbangan dengan matang beserta berbagai alasannya. Dalam hal ini, gaji bukan satu-satunya alasan, bahkan tidak menjadi alasan teratas Naura dalam memilih resign.

Karier mandek jadi masalah awal pekerja Jakarta

Awal mula kegelisahannya di tempat kerja muncul dari kesadaran bahwa pekerjaannya stuck atau tertahan di satu titik. Naura bilang, dia berharap selalu bisa mendapatkan career growth atau tangga karier yang memungkinkannya naik secara bertahap.

Sayangnya, di tempat kerjanya yang terletak di bilangan Jakarta Selatan, Naura tidak mendapatkan semua itu.

“Tiap aku kerja, sebenarnya aku selalu berharap ada career growth. Bisa jadi naik jabatan atau dapat pelatihan untuk belajar ilmu baru dan kesempatan belajar lintas divisi,” kata Naura.

“Cuma struktur kerja di sini nggak memungkinkan aku ada kenaikan jabatan,” kata dia menambahkan.

Kesadaran itu mengantarkan Naura pada ritme kerja yang juga terasa terhambat. Menurutnya, pekerjaannya tidak lagi membuat Naura bisa mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya, tetapi hanya berfokus pada hasil akhir.

Mengingat dirinya ambil bagian dalam divisi sales, hasil penjualan menjadi penilaian yang difokuskan habis-habisan. Sedangkan, hal lainnya dinomorduakan.

Iklan

Alhasil, Naura menilai, pekerjaannya terbilang stagnan. Tidak ada manajemen strategi, pengaturan proses, hingga perbaikan internal yang memungkinkan kinerjanya untuk lebih optimal. Sebab, semua fokus diberikan kepada tuntutan hasil.

“Kerjaku alih-alih fokus pada strategi, proses, dan perbaikan internal, cuma fokus pada hasil jualan aja terus-menerus,” keluhnya.

Mulai kehilangan makna dari pekerjaan yang konstan dan membosankan

Akibat pekerjaan yang terasa konstan, Naura tidak bisa memungkiri dirinya mulai merasa bosan. Ditambah, perempuan asal Jakarta ini mengaku pekerjaan yang ditekuninya saat itu bukanlah bidang pekerjaan yang sesuai dengan minatnya.

Burn out karena pekerjaan menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Mayo Clinic mengatakan, burn out dalam pekerjaan dapat terjadi karena rasa tidak bisa mengontrol pekerjaan.

Artinya, bisa jadi, pekerjaan sudah terasa seperti sebuah tuntutan yang mau tidak mau harus dilakukan.

“Kerjaku yang udah dari awal tahu nggak sesuai passion-ku, buat aku gampang bosan dan burn out,”

Naura menjelaskan, dirinya kerap merasa powerless saat pekerjaannya semakin tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sebab, posisinya melibatkan pihak eksternal yang tidak pasti. 

Dalam kasus ini, misal, berurusan dengan klien yang sulit diajak bekerja sama. Naura merasa performanya hanya diukur, satu-satunya dari hasil, yang tidak dapat dipastikannya.

“Kalau klien lagi susah diajak meeting atau dihubungi atau nggak ada bujet gak bisa pasang, aku bosan banget dan ngerasa powerless karena daya beli mereka aku nggak bisa kontrol,” jelasnya.

Lain hal, kata Naura, dengan pekerjaan yang tidak melibatkan pihak eksternal, serta tidak mengandung ketidakpastian. Apabila dua masalah tersebut dieliminasi, Naura mengaku merasa lebih nyaman dalam pekerjaan karena mengetahui performanya yang dapat diukur objektif berdasarkan kompetensi diri.

Muak dengan gaji kecil dan rekan kerja bermuka dua yang toxic

Sudah berusaha habis-habisan, Naura masih mengalami situasi yang tidak menguntungkan. Ia digaji dengan upah yang minim, tidak jauh dari Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta senilai Rp5,7 juta, padahal pengalaman kerjanya sudah mencapai 2,5 tahun.

“Sejujurnya, dengan pengalamanku yang lumayan banyak, harapanku bisa ada kenaikan gaji yang signifikan,” katanya.

Naura bilang, tempat kerjanya memang memberikan insentif. Namun, baginya, insentif bukan sesuatu yang tepat diberikan untuk menghargai performa pekerja. Ia mengharapkan kenaikan gaji yang setara dengan pengalaman, untuk bisa meningkatkan performa kerja.

“Buat apa kita kerja sampai tipes kalau nggak kaya?” kelakarnya.

Bukan hanya itu masalah sebenarnya, Naura menyadari keuangan kantornya bermasalah. Pasalnya, hak-haknya yang menyangkut keuangan sebagai karyawan juga menjadi terhambat. 

Naura tahu kondisinya, tapi secara tidak langsung ia juga merasa digampangkan sebagai pekerja.

“Buat aku ngerasa kok hak karyawan digampangin banget,” kata dia.

Tak hanya itu, Naura mulai merasa lingkungan kerjanya menjadi toxic. Ia memperoleh kesadaran tambahan, bahwa para koleganya yang kompeten juga akan meninggalkan tempat kerja mereka secara perlahan. Meninggalkan Naura dengan orang-orang yang berseberangan secara prinsip dengannya.

Masalahnya adalah mereka yang ditinggalkan untuk bekerja bersama Naura adalah orang-orang yang kesulitan dihadapinya. Ia memegang prinsip untuk berkonsentrasi dalam bekerja sehingga tidak terlalu mau ambil pusing dalam drama atau hal-hal yang tidak perlu, tetapi rekan kerja yang tersisa justru menginginkan sebaliknya.

Naura dihadapkan dengan mereka yang berbuka dua. Berlagak kompeten di depan para petinggi, tetapi menyusahkannya di belakang. Ketidakmampuan ini diikuti dengan sikap baik yang terkesan dibuat-buat sehingga menempatkannya dalam perasaan tidak nyaman.

Ia juga menyadari, mereka akan selalu berseberangan dengannya secara prinsip.

“Lingkungan kerja yang mulai toxic membuatku kayak merefleksikan diri. Sooner or later, orang-orang ini juga akan keluar dan meninggalkan orang-orang di satu kubu yang sama,” katanya.

“Meskipun nggak berdampak besar sama aku, cuma rasanya nggak nyaman juga kalau kerja selalu berseberangan prinsipnya atau selalu ada friksi-friksi nggak penting sama atasan,” tambah dia.

Resign pasca-THR dan Lebaran hanya persoalan waktu

Dengan sederet alasan yang membuatnya merasa muak, Naura akhirnya memutuskan untuk resign setelah menerima THR dan libur Lebaran. Ia menyebutnya, secara tidak langsung, sebagai pembalasan untuk menerima keadilan di akhir pekerjaannya.

“Timing aku resign aku ambil setelah Lebaran karena sebagaimana manusia yang serakah, aku mau semua hak aku bisa diterima semuanya,” katanya.

Menurutnya, ini adalah cara untuk memastikan dirinya mendapatkan hak sebagai pekerja, sekaligus memastikan pihak-pihak yang mendorongnya sampai keputusan ini menyadari tindakan mereka.

Keputusan pekerja Jakarta yang satu ini untuk resign setelah THR dan libur Lebaran hanyalah persoalan waktu.

“Bagi yang resign setelah Lebaran, biasanya dikarenakan mereka memang sudah berniat sejak jauh hari, namun masih menunggu pembayaran THR agar mendapatkan haknya secara penuh. Jadi, pengunduran dirinya baru dilakukan sesudah THR diterima,” kata Ria Novita, Talent Acquisition Manager Jobstreet by SEEK, dilansir dari Kompas, Senin (30/3/2026).

Pernyataan tersebut mengamini alasan Naura sebagai pekerja yang memutuskan resign setelah menerima THR. Alasannya bukan hanya gaji, meski laporan Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK menunjukkan 54 persen pekerja di Indonesia mengakui gaji meningkatkan kebahagiaan.

Namun, gaji bukan satu-satunya faktor penentu loyalitas. Justru, dua faktor utama tersebut adalah work-life balance dan makna dari pekerjaan—yang dari kasus Naura, telah hilang secara perlahan.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 30 Maret 2026 oleh

Tags: alasan resigngaji pekerja jakartapekerja jakartaresign kerjaresign kerja di jakartaresign pekerjaanresign setelah lebaranresign setelah thrstres kerja di jakartatekanan bekerja di jakartaTunjangan hari raya
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Pekerja Jakarta WFH demi hemat BBM
Urban

Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah

25 Maret 2026
Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Mending, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati Mojok.co
Pojokan

Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Tinggi, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati

25 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran
Urban

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026
5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

27 Maret 2026
4 Oleh-Oleh “Red Flag” Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Ulang sebagai Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli

29 Maret 2026
Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

26 Maret 2026
Nurul Fajriatussaadah, perempuan asal desa yang menjadi lulusan terbaik S2 di UIN Semarang

Dihina karena Hanya Anak Petani dari Pelosok Desa, Kini Berhasil Jadi Lulusan Terbaik S2 UIN Semarang berkat Doa Ayah

30 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.