Katanya, saat mudik Lebaran, setengah dari penduduk Indonesia akan berpindah ke Jogja. Itulah yang membuat saya (Dhanty) dongkol. Sebagai warga lokal Jogja, kedatangan wisatawan menguntungkan, tapi kalau kebanyakan itu batas keuntungannya tipis dengan kerugian.
8,2 juta orang akan ke Jogja
Survei yang dilakukan Kementerian Perhubungan mengatakan sekitar 8,2 juta orang diprediksi akan melakukan perjalanan di wilayah Jogja selama masa libur Lebaran tahun ini. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, yang berharap Pemerintah Provinsi Jogja bisa memfasilitasi.
“Kami berharap Pemprov Yogyakarta dapat memberikan dukungan dalam hal menyediakan akses yang mudah bagi para pemudik untuk menuju simpul-simpul transportasi seperti terminal, stasiun, hingga bandara, serta layanan angkutan feeder pada lokasi-lokasi mudik gratis,” kata Dudy dalam siaran resmi, dikutip Senin (9/3/2026).
Namun masalahnya, lebih dari 8 juta orang yang akan mampir ke Jogja itu sendiri sudah dua kali lipat jumlah penduduk Jogja yang totalnya 4.179.333 juta jiwa.
Di sinilah letak masalahnya, setidaknya bagi warga Jogja yang akan menjadi minoritas. Dikalahkan oleh wisatawan yang berjumlah lebih banyak, memadati setiap titik Jogja.
@halojogjakartaTahun ini, Daerah Istimewa Yogyakarta masuk empat besar destinasi favorit nasional saat Lebaran 2026. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, memprediksi sekitar 8,6 juta orang bakal meramalkan Jogja pas momen libur nanti. Lonjakan penumpang diprediksi paling terasa di Stasiun Tugu Yogyakarta yang bisa tembus 867 ribu orang, disusul Stasiun Lempuyangan dengan 551 ribu penumpang. Sementara itu, Yogyakarta International Airport juga diperkirakan melayani 513 ribu orang selama periode Lebaran. Buat antisipasi ledakan mobilitas ini, Kemenhub sudah menyiapkan 401 bus untuk 15.834 penumpang dan 8 truk untuk mengangkut 240 motor. Kereta api pun menyediakan 28.182 kursi serta kuota 11.900 motor. Arus balik diprediksi ramai di Terminal Giwangan, sementara pengamanan difokuskan di pasar tumpah dan destinasi favorit seperti Malioboro, Kaliurang, Pantai Parangtritis, hingga Pantai Baron. Dari total 46 perlintasan sebidang, delapan titik juga sudah ditambah penjaga untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan. Sumber: indozone.id♬ suara asli – 🅼🅸🅽🅰🅽🅶 🆂🆃🅾🆁🆈 🅵🆈🅿
Tidak bisa keluar rumah
Bagi Dhanty (27), momentum ini menyebalkan. Ia ingin mangkir ke kota lain, tetapi tidak bisa mudik seperti kebanyakan orang yang punya kampung halaman berbeda dengan domisilinya.
Namun bukan itu yang membuatnya kesal, justru Dhanty merasa tidak apa-apa soal tak bisa mudik. Terkecuali, tidak bisa pergi ke mana-mana karena jalanan yang padat merayap.
“Jadi lebih malas sih, semua orang mudiknya liburan, dan itu ke Jogja,” katanya kepada Mojok, Senin (9/3/2026).
Satu-satunya waktu Dhanty tidak terlalu terganggu hanyalah saat salat ied. Sebab, ia pergi ke masjid yang tidak berjarak jauh dari rumah. “Kalau pas mau salat sih aman ya aku karena rumahku dekat banget,” katanya.
Selain itu, dirinya memilih untuk tidak keluar saat hari libur besar seperti ini. Khususnya, pada malam hari ketika orang-orang memutuskan untuk berjalan-jalan bersama keluarga. Alasannya, tanpa harus mencari tahu pun, Dhanty bisa tahu kalau area-area populer akan ramai dan diminati.
“Nah, kalau ke luar jalan-jalan gitu pas Lebaran cukup padat di area-area populer,” ujarnya.
Ambil contoh tahun lalu, Museum Benteng Vredeburg Jogja yang menjadi salah satu destinasi favorit selama libur Lebaran berhasil mencapai 21.785 orang selama 2 sampai 7 April 2025.
Pada 4 April 2025, pengunjung bisa mencapai 4.626 orang. Padahal, pengunjung biasanya sebelum Lebaran hanya sebanyak 290 orang. Jadilah kira-kira, 16 kali lipat wisatawan datang ke Jogja dan ikut meramaikan destinasi ini, menyingkirkan orang-orang Jogja yang hanya segelintir saja.
Macetnya Jogja akan lebih parah dari Jakarta
Dengan banyaknya manusia yang memadati Jogja, orang-orang Jogja bukan hanya tersingkirkan dari jalanan utama. Mereka yang posisinya dirugikan, dari lokasi rumah, bisa jadi juga tidak bisa keluar dari rumahnya masing-masing.
Seperti Dhanty yang kediamannya berada tidak jauh dari destinasi wisata. Jadilah, dirinya tidak bisa menghindar dari kemacetan Jogja ini.
“Kalau kudu lewat Jalan Mataram yang arah Kotabaru itu biasanya macet,” katanya
“Nah iya, [rumahku] lumayan dekat. Jalan ke arah Kraton itu agak kecil-kecil, jadi ya macet ke arah Kraton dan Alkid (Alun-alun Kidul),” tambah dia.
Akibatnya, Dhanty tidak akan bisa keluar rumah seperti biasanya. Arus jalanan sudah pasti macet, orang-orang memenuhi area sekitar rumahnya, kendaraan tidak bisa bergerak dengan kecepatan normal, dan keluar rumah hanya akan menjadi sebuah kesalahan.
“Aku sudah jarang keluar kalau lagi liburan gede gitu, tapi ya macetnya tuh lama. Bukan kayak macet orang pulang atau berangkat kerja,” katanya.
Dibandingkan dengan arus lalu lintas biasanya, jelas jadinya Jogja akan mengadopsi jalanan Jakarta saat hari libur besar, seperti Lebaran. Memilih untuk melipir ke area yang tidak berada di perkotaan pun tidak menjadi jalan keluar, menuju ke sana Dhanty masih harus bertarung di jalanan.
“Biasanya tuh plesir ya sama keluarga biar nggak macet, malah keluar kota sekalian. Tapi kadang ya, semuanya macet, bingung,” akunya sebal.
Maka dari itu, Dhanty menjadi serbasalah. Ia ingin keluar rumah ke perkotaan, tetapi tidak bisa. Mencoba untuk keluar kota, tetap harus melewati jalanan yang dipenuhi wisatawan. Jadilah, sebagai orang Jogja, Dhanty hanya bisa merutuki nasibnya.
“Ah, Jogja ki kecil. Nyebai og [Jogja ini kecil, nyebelin],” pungkasnya,
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
