Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
15 Februari 2026
A A
Cerita perintis bukan bocil pewaris yang lulus SMK langsung bayar utang keluarga, pecel lele di jogja, omzet pecel lele. MOJOK.CO

ilustrasi - jatuh bangun seorang perintis (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Anak muda asal Lamongan sering dicibir teman dan tetangga karena “cuma” kerja jualan pecel lele di Jogja. Padahal, omzet pecel lele jualannya bisa mencapai Rp30 juta per bulan. Berkali-kali lipat gaji mereka yang sering mencibirnya.

***

Suasana di kawasan Condongcatur, Sleman, kalau sudah masuk waktu malam memang tidak pernah sepi. Di salah satu sudut pinggir jalannya, Aris (29) sedang sibuk, seperti malam-malam sebelumnya. 

Pemuda asal Lamongan, Jawa Timur, itu tampak cekatan membolak-balikkan lele di dalam wajan besar yang minyaknya sedang mendidih. Asap mengepul, aroma sambal terasi yang sedang digoreng menusuk hidung, dan sesekali percikan minyak panas mengenai celemeknya yang sudah dekil.

Bagi orang yang lewat, atau pelanggan yang baru pertama kali datang, Aris mungkin hanya dianggap sebagai mas-mas penjual pecel di warung tenda biasa. Penampilannya memang jauh dari kata rapi. Ia hanya memakai kaos oblong, celana pendek, dan sandalan.

Saya mengenal Aris sejak 2020 lalu ketika saya baru pindah ke sebuah kos di Condongcatur. Kebetulan kos kami berdekatan, hanya terpisah beberapa blok. Warung tenda pecel lele Aris menjadi tempat makan favorit saya karena sambel di sini lain dari yang lain. Cabainya mentah, diulek dadakan, bersama tomat dan terasi goreng. Sejak 2020, saya langganan bahkan akrab dengan Aris.

Sering dicibir tetangga di kampung karena cuma jualan pecel lele

Di usianya yang hampir menyentuh kepala tiga, Aris mengaku sering menjadi bahan pembicaraan, terutama oleh para tetangga ketika dirinya pulang kampung. Banyak yang merasa kasihan, atau bahkan sedikit meremehkan. 

“Sayang ya, sudah hampir tiga puluh tahun kok kerjanya masih kasar begitu,” begitu kira-kira ucapan yang sering mampir ke telinganya. 

Ada juga yang membanding-bandingkan Aris dengan teman sekolahnya dulu yang sekarang sudah jadi pegawai pabrik dengan seragam keren, atau yang sudah punya posisi nyaman di kantoran.

Memang, di tempat asalnya, Lamongan, pecel lele jadi semacam makanan khas. Banyak penjualnya dari sana. Namun, makin ke sini, generasi anak muda yang mau ikut berjualan kian sedikit. Stigma bahwa jualan pecel lele adalah “pekerjaan kampungan” justru malah melekat kuat.

“Banyak orang seusia saya ini kalau ngerantau milihnya kerja pabrik. Ya yang beruntung, yang kuliah-kuliah bisa kantoran bahkan jadi PNS,” ujarnya saat ditemui Mojok, Jumat (13/2/2026).

Tinggal di kos “bedeng”

Belum lagi kalau melihat tempat tinggal Aris sekarang di Jogja. Ia tinggal di sebuah kontrakan sederhana yang oleh orang sekitar sering disebut “kos bedeng” karena kondisinya yang tampak kumuh. 

Aris tidak tinggal sendiri, ia berbagi tempat dengan kakak tertuanya yang sudah berkeluarga dan memiliki satu anak kecil. 

Rumah kontrakan itu sebenarnya hanya memiliki dua kamar tidur. Namun, karena mereka harus berbagi ruang, salah satu kamar terpaksa disekat menggunakan lembaran triplek agar Aris punya privasi sendiri. 

Iklan

Kondisi dapurnya pun jauh dari kata layak. Letaknya di area luar yang hanya ditutup atap seadanya. Kalau hujan deras melanda Jogja, air seringkali masuk dan membuat lantai dapur becek tidak keruan. 

Bagi tetangga kos atau warga sekitar yang sering lewat, melihat jemuran yang berdesakan dan dapur yang sering kemasukan air itu sudah cukup untuk melabeli hidup Aris sebagai hidup yang susah.

Padahal, jualan pecel lele di Jogja omzetnya sangat besar

Namun, di balik sekat triplek itu, ada kenyataan yang bakal membuat siapa pun melongo kalau tahu berapa penghasilan Aris. Warung pecel lele yang ia jalankan di Condongcatur itu, setiap bulannya mampu mencatatkan omzet hingga Rp30 juta. 

Sebuah angka yang, menurut keyakinan saya, bahkan sulit dicapai oleh mereka yang bekerja kantoran sekalipun.

Aris bercerita, ia memulai harinya sejak pagi buta. Saat teman-temannya mungkin masih terlelap, ia sudah berada di pasar untuk memilih lele segar. Setiap hari, puluhan kilogram lele, ayam, hingga sate-satean usus dan kulit ludes terjual. 

Dari sore sampai lewat tengah malam, pelanggan datang silih berganti. Ada mahasiswa yang mencari makan murah, ada juga orang kantoran yang baru pulang kerja, atau anak muda yang sedang ingin kulineran.

“Rata-rata sih 50 porsi habis sehari. Kalau emang lagi sepi ya bisa kurang, tapi kadang kalau malam minggu nyetok lebih sampai 70-80 porsi dan pasti habis,” jelas anak muda yang berjualan pecel lele di Jogja ini.

Untuk tiap porsi berisi nasi, lauk, sambal+lalapan, dan minuman, dihargai Rp15-25 ribu. Jika rata-rata sehari menjual 50 porsi, artinya Aris mendapatkan omzet Rp1 hingga Rp1,5 juta per malam atau Rp30-an juta sebulan.

“Tapi kan omzet itu kotor ya. 30-40 persennya itu dipotong belanja bahan baku. Ya Alhamdulillah kalau 12 sampai 15 juta sebulan sering lah ngantongin.”

Mengapa masih mau tidur di “kos bedeng”?

Kalau dihitung secara kasar, keuntungan bersih yang masuk ke kantong Aris setiap bulan jauh melampaui standar gaji di Jogja. Namun, mengapa dia masih mau tinggal di kontrakan yang dianggap kumuh itu?

Jawabannya sederhana: Aris mengaku punya prioritas yang lebih besar daripada sekadar urusan gengsi atau pamer kekayaan. Ia sadar betul bahwa ia adalah tumpuan keluarga. 

Salah satu motivasi terbesarnya menekuni usaha ini adalah sang adik yang masih menempuh pendidikan di bangku kuliah. Aris ingin adiknya punya masa depan yang lebih baik dan tidak perlu merasakan kerasnya hidup di jalanan seperti dirinya. 

Dari uang hasil jualan pecel lele, Aris rutin mengirimkan biaya kuliah dan uang kos yang layak untuk adiknya di Surabaya. 

“Kuliah hukum di (universitas) Airlangga,” jelas Aris, menceritakan tempat kuliah adiknya.

Bagi Aris, biarlah ia sendiri yang terlihat “susah” di mata orang lain. Biarlah ia dianggap sebagai tukang goreng lele yang tinggal di bedeng sempit. Selama ia bisa melihat adiknya lulus kuliah dan kakaknya punya tambahan penghasilan untuk menghidupi keluarga, Aris merasa sudah menang. 

Ia tidak merasa perlu menjelaskan kepada para tetangga atau teman-temannya bahwa tabungannya terus bertambah setiap bulan. Baginya, angka di buku tabungan lebih penting daripada pengakuan orang lain.

Biarkan anjing menggonggong

Aris mengaku hanya tersenyum kalau ada orang yang menyindir pekerjaannya. Pernah suatu kali ada teman lamanya yang sudah berkeluarga mampir makan di warungnya dan ngomong ngalor ngidul soal pencapaian. Aris cuma mendengarkan saja.

Temannya itu mungkin tidak tahu bahwa omzet Aris dari hasil jualan pecel lele di Jogja selama sebulan, bisa jadi setara dengan gajinya selama tiga atau empat bulan.

Gaya hidup hemat Aris ini memang disengaja. Ia tidak ingin terjebak dalam lingkaran gaya hidup yang konsumtif. Ia melihat banyak orang sebayanya yang gajinya lumayan, tapi setiap akhir bulan selalu bingung mencari pinjaman karena uangnya habis untuk cicilan motor gede atau sekadar nongkrong di kafe-kafe mahal demi konten media sosial. 

“Yang namanya temen, pasti ada saja yang minta pinjam uang ke saya. Ya saya kasih aja lah.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Meninggalkan Pekerjaan Gaji Rp150 Ribu per Hari di Desa Demi Ego Merantau, Berujung Sesal karena Kerja di Jakarta Tak Sesuai Ekspektasi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Februari 2026 oleh

Tags: condongcatur slemaninspirasi usaha anak mudaJogjaKuliner Jogjaomzet pecel lelepecel lelepecel lele di jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Nyaris dicurigai kumpul kebo di penginapan Jogja saat Valentine. MOJOK.CO
Lipsus

Sisi Gelap Penginapan “Murah” di Jogja, Ramai dan Untung Saat Valentine Berkat Anak Mudanya yang Hobi Kumpul Kebo

14 Februari 2026
Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau ke Ibu Kota Mojok.co
Pojokan

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau di Ibu Kota

14 Februari 2026
Mahashivaratri, festival tahunan yang dirayakan umat Hindu untuk menghormati Dewa Siwa di Candi Prambanan. MOJOK.CO
Kilas

Hari Suci Terpenting Umat Hindu, Mahashivaratri Perdana Digelar di Candi Prambanan dengan 1008 Dipa Menyala

14 Februari 2026
Gojek, gocar instant.CO
Urban

GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan

12 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat MOJOK.CO

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat

11 Februari 2026
Volunteer di festival dandangan kudus. MOJOK.CO

Pengalaman Sambut Ramadan di Kudus: Menyaksikan Bagaimana Merawat Bumi Ditradisikan Lewat Pembiasaan Sederhana

12 Februari 2026
Orang dengan kesulitan ekonomi (kurang mampu atau miskin) di desa, justru paling tulus dalam kehidupan sehari-hari MOJOK.CO

Orang Miskin dan Sulit Ekonomi di Desa Justru Paling Tulus Peduli, Tapi Tak Dihargai karena Tak Bisa Bantu Materi

12 Februari 2026
Festival Dandangan Kudus tak sekadar denyut perekonomian. MOJOK.CO

Menemukan Hal Baru di Festival Dandangan Kudus 2026 setelah Ratusan Tahun, Tak Sekadar Kulineran dan Perayaan Sambut Ramadan

11 Februari 2026
Malioboro, Jogja, aksi demo.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Luncurkan Program ‘Setu Sinau’ di Malioboro, Wisatawan Kini Bisa Belajar Budaya Sambil Jalan-Jalan

12 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.