Ketika usia sudah hampir menyentuh kepala tiga, penyesalan menghampiri karena sudah terlalu lama bergelut dengan idealisme sebagai mahasiswa kiri anti kapitalisme. Kenaifan soal kapitalisme menjadi beban tersendiri kala menyadari masih belum bisa memberi kebahagiaan untuk orang tua.
***
Bangun tidur menjelang jam 10 pagi di kamar kos apeknya di Surabaya, Rajul (25) kini hanya bisa menatap nanar suasana kos yang mulai lengang. Beberapa penghuni sudah berangkat kerja sejak jam 7 pagi. Ada yang bekerja di sektor swasta, ada pula yang ASN.
Dengan wajah kusut, Rajul lantas menyalakan sebatang rokok, menyeduh kopi, lalu duduk bersandar di ruang tamu kosan untuk menggulirkan layar ponsel. Sialnya, sering kali ia menemukan konten-konten yang seolah menyindir keras dirinya: in this economy, jangan pelihara gengsi. Bisa dapat kerja meski tidak sesuai passion pun tidak masalah asal ada pemasukan, di tengah masifnya pemberitaan 1 juta lulusan S1-S3 menjadi pengangguran.
Rajul tidak mendeskripsikan dirinya sebagai pengangguran. Karena ia bekerja, meski musiman. Alasannya tidak bekerja sebagaimana anak-anak sekosnya bekerja pun bukan karena persoalan gengsi passion. Tapi lebih karena gengsi idealisme yang ia pegang teguh sejak masa menjadi mahasiswa, yang semakin ke sini justru semakin ia pertanyakan.
Kebanggaan menjadi mahasiswa kiri karena terpapar abang-abangan, haram jadi budak korporat
Sejak awal kuliah dan bergabung di organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek), Rajul sudah terpapar dengan isme-isme yang diperkenalkan oleh “abang-abangan kiri” ormek—begitu istilah yang ia gunakan.
Intinya, ia menolak keras sistem kapitalisme yang sudah mendarah daging dalam sistem global. Seiring waktu, pertentangannya terhadap kapitalisme semakin mengeras, sampai-sampai ia bersumpah kelak setelah lulus kuliah tidak akan mau bekerja korporat.
“Aku tidak mau melanggengkan perbudakan. Ada orang yang diikat jam kerja, dengan target tertentu, tapi gajinya jelas-jelas tidak bikin kaya. Yang kaya tetap para bos-bos di atasnya. Ibarat bekerja untuk memperkaya mereka,” beber Rajul bercerita, Rabu (19/8/2026).
Kebanggaan itu Rajul bawa hingga lulus kuliah. Sebab, saat banyak temannya mulai mengalah dengan kebutuhan hidup dan menjadi budak korporat, Rajul menjadi satu dari sedikit orang yang masih mempertahankan idealismenya dari masa sebagai mahasiswa kiri.
Sebagaimana mengutip Tan Malaka, katanya. Bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki seorang pemuda.
Bekerja secara merdeka, menertawakan teman-teman yang jadi budak korporat
Satu persatu teman Rajul memang masuk industri. Jam kerja, target, dan segala SOP kepatuhan pada atasan mengikat leher mereka. Beberapa yang lain bahkan akhirnya memilih menjadi “antek negara” (menjadi ASN).
“Sejak dulu, kami yang sama-sama mendaku sebagai mahasiswa kiri memang suka sinis, kok ada orang yang mau seperti kerbau dicocol hidungnya sama perusahaan. Kerja pagi-malam, rela dicaci-maki demi sejumput gaji,” papar Rajul.
“Kami dulu juga selalu dengan tegas, ogah jadi PNS (ASN), jadi antek negara bobrok, sama saja diam atas ketimpangan struktural yang pemerintah tumbulkan,” sambungnya.
Ingatan-ingatan itu pun Rajul gunakan sebagai senjata untuk mengejek teman-temannya yang setelah lulus kuliah telah melepaskan jubah kebesaran “mahasiswa kiri anti kapitalisme” demi menjadi budak korporat dan antek negara.
Setiap ada kesempatan bertemu untuk ngopi, Rajul pasti menertawakan mereka yang bagi Rajul telah menggadaikan idealismenya. Kata Rajul, teman-temannya itu mentok hanya bisa membela diri dengan ungkapan-ungkapan:
“Kehidupan setelah lulus kuliah ternyata keras, mau nggak mau harus jadi budak korporat.”
“Namanya juga terbentur kebutuhan.”
“Hidup butuh duit, buat dapat duit harus kerja, meskipun ke mereka-mereka.”
Di titik itu, Rajul sempat merasa membanggakan dirinya sendiri karena merasa bisa bekerja secara merdeka. Rajul bekerja freelance sebagai tim riset untuk sejumlah dosen yang ia kenal dekat semasa kuliah. Selain juga mengambil proyek-proyek freelance lain seperti survei dari sebuah lembaga hingga LSM. Freelance lainnya adalah menjadi pengajar ekstrakurikuler karya tulis ilmiah di sebuah SMA.
Sadar orang tua semakin renta, tapi susah cari kerja dan gengsi dengan ucapan sendiri
Hingga suatu malam belum lama ini ia ngopi berdua dengan seorang teman—yang ia sebut budak korporat. Di sebuah warung kopi giras di Surabaya, obrolan berlangsung sangat dalam dan personal.
“Awalnya kami nostalgia soal masa lalu. Ya meromantisasi bagaimana kami dulu suka menyebut diri sendiri sebagai mahasiswa kiri anti kapitalisme. Lalu temanku bilang kalau kondisi ekonomi semakin susah. Ia merasa gagal menjadi anak karena nggak bisa bantu ekonomi orang tua di kampung,” tutur Rajul mengilustrasikan malam itu.
Rajul langsung merasa makdeg. Ia baru sadar bahwa ia pun sebenarnya sama: punya orang tua di kampung yang semakin renta, tapi masih harus bekerja. Sementara Rajul belum bisa memberi apa-apa.
Memberi apa-apa dari mana, Rajul sendiri saja mengamini kalau pekerjaan freelance tidak melulu lancar. Uangnya tipis. Untuk diri sendiri saja kadang ia sampai harus berhutang ke orang tuanya.
Sepulang ngopi, Rajul merenungi betal kenyataan hidupnya: bahwa alih-alih memberi untuk orang tua, ia malah masih kerap meminta bantuan. “Malam itu aku secara nggak langsung merasa ditampar temanku. Dia sebenarnya bilang untuk dirinya sendiri kalau ia nggak bisa naif kalau dia butuh duit, dan yang memungkinkan ya jadi budak korporat,” beber Rajul. “Tapi itu sekaligus menamparku, karena selama ini aku juga naif.”
Pada akhirnya Rajul pun berpikir untuk mengikuti jejak teman-temannya: mencari pekerjaan korporat. Hanya saja, ia pun menyadari fakta bahwa mencari pekerjaan kantoran sekarang susahnya bukan main.
Sempat terpikir menjadi driver ojek online. Tapi ia terbentur gengsi: Masa iya jadi ojol, sementara di matanya sistem kapitalisme ojol menjadi salah satu yang harus dikutuk dengan keras.
Di ruang tengah kosannya yang lengang—usai para penghuninya berangkat kerja—-Rajul termenung. Hasil pertarungan di kepalanya semakin jelas: embel-embel mahasiswa kiri anti kapitalisme mulai terdorong menjauh, kalah dominan dengan kelebat bayangan orang tua di kampung yang sudah seharusnya ia pedulikan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Anak Betah Jadi Mahasiswa Abadi karena Sibuk Organisasi dan Ogah Garap Skripsi, Ortu di Rumah Pura-pura Memahami padahal Terbebani atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














