Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
26 Februari 2026
A A
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Ilustrasi - Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Banyak mahasiswa Kalimantan yang mengalami culture shock ketika merantau di Jawa, padahal mereka tak terbiasa bersosialisasi dan punya kesibukan masing-masing. Akibatnya, ada yang menahan diri untuk keluar kos-kosan sampai pindah dari kontrakan demi kenyamanan dan terhindar dari kewajiban guyub.

***

Budaya setiap tempat di Indonesia itu berbeda-beda. Namun, siapa sangka, budaya di Kalimantan dan Jawa akan berbeda 180 derajat. Lalu, diputar lagi. Hal ini tidak disadari oleh kebanyakan mahasiswa yang pergi merantau meninggalkan asalnya, termasuk saya dan beberapa perantau Kalimantan lainnya untuk berkuliah di Jogja.

Dalam bayangan, embel-embel Jogja sebagai “Kota Pelajar” mungkin memberikan keringanan dalam menyesuaikan diri dengan budaya Jawa yang kontras dengan Kalimantan. Nyatanya, tidak juga. 

Bisa jadi, sebab Jogja masih bagian dari Jawa.

Namun itu juga yang membuat saya mempunyai pengalaman ekstrem saat baru menjadi mahasiswa di Jogja. Demi tidak menyapa ibu kos (bukan sebenarnya, tetapi yang bertugas untuk sesekali datang bebersih) saya memilih menahan lapar dari pagi sampai pukul 16.00 sore.

Bukan tanpa alasan, masalahnya adalah ibu kos ini sudah terlalu sering mengunjungi kos dalam satu pekan. Kali itu adalah ketiga, padahal katanya hanya akan memeriksa sesekali saja dengan maksimal dua kali seminggu. Belum lagi, menyapanya berarti bersedia duduk setidaknya setengah jam untuk mendengarkan beliau bercerita.

Budaya berbaur di Jawa yang mengejutkan mahasiswa perantau Kalimantan

Setelah mengalami itu, barulah saya mengetahui bahwa ada perbedaan budaya Jawa yang jauh sekali dengan budaya di tempat asal saya, Kalimantan. 

Namanya, budaya srawung. Artinya, kegiatan berkumpul, bersosialisasi, dan berinteraksi antarsesama untuk mempererat silaturahmi, gotong royong, dan berbagi rasa. 

Dibandingkan dengan budaya di Kalimantan, kami jelas tidak punya yang seperti ini. Atau setidaknya, itulah yang saya ketahui sebagai seseorang yang lebih banyak menikmati waktunya sendiri. Tidak perlu merisaukan keharusan bersosialisasi—atau sekadar menyapa—kalau merasa tidak ingin.

Lain hal dengan di Jogja, budaya Jawa yang kental mengharuskan adaptasi. Hal inilah yang menyebabkan Lili (23) juga mengalami pengalaman yang sama. 

Di kos yang seharusnya menjadi ruang nyaman dan tenang, Lili merasa terganggu dengan keakraban yang sering ditemuinya. Alasannya, jalinan keakraban ini dilakukan hampir setiap hari dengan intensitas yang juga sering, serta suara yang lantang dalam bercakap-cakap “akrab” itu.

Alhasil, Lili sering mengurungkan niatnya untuk keluar dari kos. Ia merasa kurang nyaman untuk menyapa tetangga sekitar kos yang sedang berkegiatan atau menemui ibu kos yang mengobrol ria dengan tetangga, lalu mau tidak mau harus bergabung. 

Karena itu, dia menahan diri melakukan aktivitas di luar ruangan, sampai membuang sampah sekalipun.

Iklan

“Di kos juga, tetangga ibu kos kan kalau sore sering keluar, menyapu, atau cuman duduk-duduk di pinggir jalan itu bikin aku nggak mau keluar sekadar buang sampah,” katanya, Kamis (26/2/2026).

Tidak biasa dengan keakraban yang menjadi keharusan

Lili juga menceritakan pengalaman temannya yang tidak membaur dengan tetangga sekitarnya. Katanya, temannya tidak pernah hadir dalam acara arisan RT kediamannya.

Bisa jadi, karena satu dan lain hal. Bisa jadi juga, karena usianya yang masih muda seumuran Lili. Jadi, pikirnya, tidak apa-apa untuk tidak ikut kegiatan arisan kompleks yang lumrahnya diasosiasikan dengan orang-orang yang berusia di atasnya.

Namun, itu adalah pemikiran Lili sebagai mahasiswa yang berasal dari Kalimantan. Menurut budaya Jawa, di Jogja, lain cerita.

Ceritanya di sini adalah temannya tersebut berakhir dimusuhi satu rukun tetangga.

“Sama ada temanku punya cerita, dia dimusuhin 1 RT karena nggak pernah hadir dalam arisan RT,” katanya.

“Arisan aja?” tambah Lili keheranan.

Terpaksa pindah karena dimusuhi tetangga yang menganggap tidak “rukun”

Cerita Nawalre (25) lebih tragis lagi. Ia sampai harus pindah dari rumah kontrakan karena dianggap tidak ikut guyub, artinya tidak “rukun” oleh tetangga.

Saat itu, Nawalre memilih satu kontrakan di daerah Mlati, Sleman, Jogja, karena harganya yang terbilang murah, meskipun harus masuk gang dan berada di antara rumah-rumah yang saling berdempetan satu sama lain.

“Aku ngontrak dia murah karena rumahnya masuk gang dan ada di antara semua rumah. Jadi, benar-benar di tengah-tengah jalan, kanan kiri depan belakang ada rumah, dan rumahku nggak berpagar,” katanya.

Namun hal semacam itu, umum bagi rumah yang berada dalam gang. Oleh karena itu, Nawalre tidak risau pada awalnya.

Perasaan yang berubah seiring Nawalre berdiam lama di rumah kontrakannya. Sebab, ada faktor tambahan yang mengusiknya secara perlahan, yaitu tetangga sekitar yang memaksanya untuk guyub.

Baginya, ia bukan orang yang terlalu menyukai kegiatan guyub. Karena itulah, Nawalre tidak terlalu mengikuti paguyuban yang ada di kompleksnya. Namun karena itu juga, dia menerima perlakuan tidak baik dari orang-orang di sekelilingnya.

“Aku orangnya kan gak mau guyub–guyub banget kalau gak ada perlu,” kata Nawalre.

“Alhasil mereka tuh kayak ngegosipin aku, terus dijahili mulu kayak meteran listrik dimatiin sama mereka karena emang nggak berpagar dan deket banget sama rumah lain,” bebernya.

Bukan hanya itu, buntut dari kejahilan tetangga yang mencapnya itu juga berlanjut pada dirinya yang diacuhkan. Padahal, Nawalre mengaku sudah mencoba untuk bersiap baik.

“Titiknya ada tuh satu ibu-ibu yang kalau kusapa, dia buang muka,” katanya.

Kejadian ini menjadi puncak dari kekesalannya. Pada akhirnya, ia memilih ke lingkungan yang lebih privat dan tenang agar menghindari kewajiban melebur untuk bisa dianggap baik.

Padahal, makna “rukun” sebagai baik yang dipahami Nawalre tidak jauh berbeda. Menurutnya, sikap tidak mengganggu dan ramah adalah bagian dari itu. Namun pada beberapa kesempatan ketika sedang mempunyai kesibukan dan keinginan sendiri, memang memenuhi undangan bersosialisasi menjadi kesulitan tersendiri.

“Akhirnya, aku capek dan memutuskan pindah ke rumah yang berpagar dan punya privasi gede,” katanya.

“Padahal, aku berusaha jadi orang diam biar mereka nggak terganggu. Tapi selama ini aku salah, diam di Jawa artinya nggak rukun,” tutupnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Februari 2026 oleh

Tags: budaya guyubbudaya jawamahasiswa perantau di jawamahasiswa rantaumahasiswa rantau jogjamahasiswa rantau kalimantantradisi srawung jawa
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

pendatang di jogja.MOJOK.CO
Urban

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
Cerita Kebiasaan Orang Jawa yang Bikin Kaget Calon Pendeta MOJOK.CO
Esai

Cerita Calon Pendeta yang Kaget Diminta Mendoakan Motor Baru: Antara Heran dan Berusaha Memahami Kebiasaan Orang Jawa

21 November 2025
Gaya Bercinta yang Sakral Menurut Kitab Susila Sanggama MOJOK.CO
Esai

Gaya Sex dalam Budaya Jawa untuk Menghasilkan Keturunan Unggul Menurut Serat Susila Sanggama

18 April 2024
Waktu Ideal untuk Bercinta ala Jawa dari Kitab Susila Sanggama MOJOK.CO
Esai

Waktu yang Ideal untuk Bercinta ala Jawa Menurut Serat Susila Sanggama yang “Lebih Vulgar” dari Kamasutra

18 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
iphone 11, jasa sewa iphone jogja.MOJOK.CO

User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol

14 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Dihina dan dijauhi tongkrongan hanya karena naik motor Honda BeAT. Tidak memenuhi standar sinematik ala Yamaha Aerox, NMax, dan Vario MOJOK.CO

Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik

12 Maret 2026
Orang Jombang iri dengan Tuban, daerah tetangga sesama plat S yang semakin gemerlap dan banyak wisata alam buat healing MOJOK.CO

Sebagai Orang Jombang Saya Iri sama Kehidupan di Tuban, Padahal Tetangga tapi Terasa Jomplang

12 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.