Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental

Bekerja di Jakarta vs Jogja

Ilustrasi - Bekerja di Jakarta vs Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Fatimah (23) meninggalkan Jogja untuk bekerja di Jakarta selama lebih dari satu tahun. Kini, ia memang mendapatkan gaji yang lebih besar di Jakarta, tetapi harus mengorbankan kesehatan mental sebagai penggantinya.

***

Agustus 2024 lalu, Fatimah dinyatakan lulus dari perkuliahan di salah satu PTN di Jogja. Ia yang sebelumnya bekerja secara work from anywhere (WFA) ditawarkan untuk bekerja di Jakarta dengan sistem work from office (WFO).

Bukan kali pertama ke Jakarta, Fatimah menyetujui penawaran itu. Ia berpindah dari Jogja ke Jakarta. 

Dalam bayangannya, Jakarta mungkin akan mengerikan seperti yang dikatakan sebagian orang. Namun di lain sisi, ia tahu, Jakarta juga mempunyai penawaran yang lebih baik daripada bekerja di perusahaan yang sama dengan lokasi Jogja. 

Gaji bekerja dari dua tempat berbeda itu juga jauh berbeda.

Memilih Jakarta daripada Jogja untuk mencapai financial freedom

Pertimbangan pertama menyangkut gaji langsung dirasakan Fatimah ketika pindah ke Jakarta. Ia mendapatkan kenaikan gaji mengikuti tempatnya bekerja, setidaknya melebihi Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta yang mencapai Rp5 juta pada tahun 2024,

Nominal ini dua kali lipat dari UMP Jogja pada 2024 yang hanya sebesar Rp2,1 juta.

“Gaji sih, lagi lagi tergantung tempat, lebih menjanjikan aja. Gaji dan benefit,” kata dia kepada Mojok, Rabu (8/4/2026).

Survei Jakpat pada tahun 2024 menemukan bahwa gaji menjadi prioritas generasi Z (gen Z) dalam mencari pekerjaan. Survei yang dilakukan terhadap 1.155 responden ini menunjukkan mayoritas gen Z dengan persentase 69 persen menjadikan upah atau gaji dalam tolok ukur utama mencari kerja.

Keputusan ini didasarkan pada harga berbagai kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Menurut Fatimah, hal ini ada benarnya. Hal lainnya, kenaikan gaji juga menyangkut rencana dirinya untuk mengumpulkan pundi-pundi dalam mencapai financial freedom.

Jenjang karier di Jakarta lebih baik

Selain gaji, Fatimah bilang, jenjang karier pekerjaan di Jakarta jauh lebih baik daripada menjadi remote worker di Jogja. Dibandingkan dengan pekerjaan yang dijalaninya secara WFA sebelumnya, Fatimah mengatakan dirinya lebih “bekerja” dalam artian sebenarnya karena pulang-pergi kantor sebagaimana pekerja kantoran.

Hal ini tidak dapat ia lakukan sebelumnya mengingat pusat kantornya yang berlokasi di Jakarta. Alih-alih pergi ke kantor, Fatimah justru akan duduk sendirian dan mengerjakan tugas-tugas secara online.

“Jenjang karier pasti ya, kayak kalau di sini tuh berasa lebih kerja aja,” kata dia.

Menurut dia, bekerja di Jakarta menawarkan peluang membangun karier dan nilai diri. Peluang ini dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan mendapatkan pekerjaan yang sesuai passion atau bahkan lebih baik pada kemudian hari.

“Kayak di sini tuh bisa semacam bangun karier dan value dulu kalau di tempat yang tepat,” kata dia.

“Kalau udah kebentuk, bisa bebas cari kerja di mana,” tambahnya.

Berdasarkan survei yang sama, alasan ini juga menjadi pertimbangan gen Z lain sepantaran Fatimah dalam menentukan pekerjaan. Sebanyak 59 persen gen Z mengatakan bahwa peluang karier jangka panjang dinilai penting, sebab membangun karier yang kokoh akan memakan waktu lama. 

Peluang luas dalam bekerja, tapi harus rela mengorbankan ketenangan mental

Banyaknya pekerjaan yang tersedia di Jakarta menjadi alasan lain. Fatimah mengatakan, penawaran kerja di Jakarta yang bervariasi menjadi salah satu keunggulan, sekalipun kota tersebut menimbulkan tekanan tersendiri.

Bekerja di Jakarta yang hampir tidak pernah tidur, perempuan ini mengatakan dirinya memiliki kesempatan untuk mendapatkan lebih dari satu tawaran pekerjaan dalam satu waktu untuk memaksimalkan potensinya, juga penghasilan.

Side job, kata dia, menjadi mudah didapatkan asalkan memiliki kemampuan dasar sebagai pekerja.

“Lebih luas juga, dalam artian kalau kamu mau cari side job tuh sangat bisa kalau di sini apalagi kalau kamu punya skill basic,” kata dia.

Namun di balik keunggulan tersebut, Fatimah mengaku tidak serta-merta memilih Jakarta untuk menetap dalam waktu lama. Menurut dia, Jakarta hanya tepat dijadikan sebagai kota untuk bekerja.

Selain itu, Fatimah lebih memilih Jogja.

“Kalau kerja sih mungkin iya ya [Jakarta lebih baik], tapi kalau tinggal sih no,” kata dia.

Pasalnya, Jakarta juga memiliki kekurangan yang membuatnya harus menggadaikan kesehatan mental dalam berbagai kesempatan. Ambil contoh, kata dia, pekerja Jakarta yang serba sat set, ramah-tamah seakan-akan tidak tinggal bersama orang-orang di sana. Jauh berbeda dengan Jogja yang dikenal dengan keramahannya.

“Orang-orangnya,” kata Fatimah.

Dengan satu contoh itu saja, ia dapat mengatakan, kesempatan untuk berkarier ditukar dengan ketenangan dirinya yang lebih baik di Jogja. “Dan ketenangannya,” tutup dia.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version