Hidup di tengah keluarga tamak dan suka pamer memang menguras emosi. Tahunya cuma adu pencapaian tentang karier mentereng, gaji besar, aset materiil, dan capaian-capaian yang kasat mata. Sementara usaha dan kerja keras mati-matian tidak dihargai.
***
Film Tunggu Aku Sukses Nanti dengan tokoh utama Arga yang diperankan Ardit Erwandha memang belum tayang serentak di bioskop. Namun, ada cuplikan dari film tersebut—yang menjadi materi promosi di media sosial—yang terasa begitu dekat dengan realitas.
Salah satunya yakni ketika Arga—yang masih struggle mencari pekerjaan—dicecar dengan pertanyaan, “Emangnya kamu nggak malu gini-gini terus?”.
Saat cuplikan tersebut melintas di beranda Instagram Zayn (27), ia sontak berseru kecil, “Bajingan!”. Pertama, karena pertanyaan itu memang terdengar bajingan bagi Zayn. Kedua, model anggota keluarga seperti itu ternyata juga merecoki hidup Zayn: anggota keluarga yang suka adu pencapaian dengan standar sukses ala mereka sendiri.
Diperlakukan seperti aib keluarga gara-gara budaya adu pencapaian
Zayn mungkin lebih beruntung dari karakter Arga. Pasalnya, secara ekonomi, orang tua Zayn yang pegawai cenderung lebih stabil ketimbang orang tua Arga yang digambarkan mengalami kesulitan finansial. Ya walaupun sebenarnya hanya pegawai rendahan.
Namun, persoalannya, keluarga besar Zayn hidup dengan standar sukses yang harus dikejar oleh siapapun di dalam anggota keluarga tersebut.
“Sukses artinya ya kerja mentereng, karier mentereng, gaji besar, dan punya aset sendiri dari gaji itu,” ucap pemuda asal Tangerang itu bercerita, Jumat (13/3/2026).
Sayangnya, perjalanan Zayn tidak mudah. Selepas lulus kuliah, Zayn agak kesulitan mencari pekerjaan formal. Alhasil ya dibanding-bandingkan.
Pasalnya, beberapa saudara Zayn terpantau bisa langsung kerja begus selepas lulus kuliah S1. Kalau tidak di perkantoran swasta ya instansi negeri.
“Walaupun aku tahu, sebenarnya ada dari mereka yang pakai relasi ordal (orang dalam). Sementara bapakku kan pegawai rendahan, jadi ya nggak mungkin lah aku bisa ngakses kerjaan dengan gampang,” ucap Zayn.
Zayn mengaku kerap mendapat cibiran pedas:
“Sudah dikuliahkan mahal-mahal masa nggak jadi apa-apa.”
“Nggak serius sih cari kerjanya.”
“Kalau kelamaan nganggur, kasian bapakmu, nanti ikut malu.”
“Saudara-saudaramu aja bisa langsung kerja, masa kamu nggak bisa.” Tak pelak jika Zayn merasa dirinya sebagai aib keluarga.
Pasti kalah kalau adu pencapaian
Setelah mendapat pekerjaan, apakah cibiran itu selesai? Ternyata tidak. Sebab, dalam lingkungan keluarga dengan standar sukses materiil yang hobi adu pencapaian, kamu tidak boleh jadi biasa-biasa saja atau lebih rendah dari pencapaian orang lain.
Zayn pada akhirnya memang bisa bekerja di sektor swasta. Gajinya di angka Rp4 jutaan. Tapi itu tidak cukup.
“Selalu ada momen saling adu pencapaian. Pasti aku kalah di situ. Karena standar sukses itu terus bertambah,” gerutu Zayn.
Gambarannya begini: awalnya tuntutan pada Zayn adalah agar lekas kerja. Setelah Zayn kerja, yang menjadi sorotan adalah karier mentereng atau tidak? Kalau tidak pada karier, maka pertanyaannya ada pada gaji (besar atau berapa?). Tapi kemudian gaji menjadi tidak penting lagi. Sebab, yang paling penting bagi keluarga besar Zayn adalah: bisa apa kamu dengan gaji itu?
“Kalau rumah tetep nggak kebeli, mobil baru nggak kebeli, hp masih merek lama, ya tetap akan dianggap gitu-gitu aja, belum memenuhi standar sukses,” ucap Zayn. “Jelas aku kalah terus kalau adu pencapaian.”
Orang tua tidak menenangkan, justru menambah beban
Beban lain yang Zayn pendam: ia belum bisa memastikan, apa yang sebenarnya ada di benak orang tuanya sendiri? Apakah mereka juga berpikiran sama seperti keluarga besar?
Orang tua Zayn memang tidak pernah menuntut Zayn macam-macam. Kalau mendapat pertanyaan soal perkembangan karier Zayn, orang tua Zayn sering kali menjawab, “Masih usaha. Sambil didoakan lah semoga bisa sukses.”
Sementara ibu Zayn selalu berpesan kepada Zayn, “Pelan-pelan aja, Zayn. Nanti juga ada jalannya.”
Zayn bingung menangkap isyarat-isyarat tersebut. Bisa saja memang orang tua Zayn tidak pernah memasang standar sukses sebagaimana keluarga besar lainnya. Tapi bisa juga mereka diam-diam memendam malu karena langkah Zayn yang tertinggal dan terbilang lamban.
“Aku pernah iseng tanya, apakah aku mengecewakan mereka? Mereka jawabnya diplomatis sih, bilang kalau semua ada waktunya. Usaha nggak mengkhianati hasil. Jadi aku nangkepnya, mereka sebenarnya juga berharap suatu saat aku bakal sampai ke pencapaian yang bisa mereka pamerkan,” beber Zayn.
Jadi, alih-alih merasa ditenangkan, Zayn justru merasa orang tuanya juga memberi beban agar Zayn tetap mengejar pencapaian berdasarkan standar sukses yang dipasang keluarga besar.
Usaha dan kerja keras terasa sia-sia
Seingat Zayn, tidak ada saudaranya yang secara eksplisit menyebut nominal gaji masing-masing. Hanya saja, aset mereka kelihatan. Misalnya pilihan merek hp, aset kendaraan pribadi, dan cerita perburuan rumah bagus yang bagi Zayn sebenarnya terdengar seperti bualan belaka.
Zayn curiga, jangan-jangan, ada kepalsuan di balik apa yang kasat mata. Akan tetapi, realitasnya, Zayn dianggap masih tertinggal dari banyak sisi: gaji dianggap tidak seberapa besar, karier pun tidak mentereng amat.
“Aku akhirnya memahami, usaha keras, kerja mati-matian, itu nggak ada artinya. Itu nggak penting. Yang paling penting, kalau mau menang dalam momen adu pencapaian, adalah siapa yang paling gede aspek materiilnya. Kalau kerja kerasnya aja yang gede, nggak dianggep,” tutur Zayn.
“Belum nanti soal nikah. Ada standarnya loh di mereka. Ada batas minimum status sosial keluarga orang yang dinikahi,” imbuhnya.
Sebenarnya, setelah bekerja tetap dan mengambil beberapa pekerjaan freelance, Zayn bisa menyisihkan uang untuk mengejar list-list pencapaian. Namun, hasrat itu selalu tertahan dengan kalkulasi rasional: bukankah menyiapkan tabungan atau investasi jauh lebih penting untuk masa mendatang ketimbang memberi makan ego konsumtif?
“Kerja segitu kerasnya tapi nggak kelihatan hasilnya. Uangnya dikemanain, sih?.” Ah, paling-paling kalimat seperti itu yang akan diberondongkan ke wajah Zayn. Bajingan memang, kalau kata Zayn.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














