Dalam kehidupan perkuliahan, ada kelompok mahasiswa yang dianggap memiliki privilese sederhana tapi bikin iri mahasiswa lain: punya kos dekat kampus. Ini adalah pengetahuan umum yang rasanya disepakati oleh hampir semua mahasiswa di kota mana pun. Termasuk saya.
Dulu, saya selalu memandang mereka dengan tatapan iri. Di kepala saya, hidup mereka pasti sangat nyaman dan tanpa beban.
Bagaimana tidak, punya kos yang cuma “lima langkah dari kampus” bikin mereka bebas dari kemacetan, tidak perlu juga keluar uang bensin. Dan, yang paling enak: bisa bangun tidur 15 menit sebelum kelas dimulai tanpa takut terlambat.
Kos dekat kampus, jadi tempat numpang teman di jam nanggung
Namun, realitas kadang membuktikan sebaliknya. Dulu, saat masih kuliah di UNY, saya punya seorang teman perempuan yang kosnya sangat strategis, tepat di samping area kampus. Jaraknya hanya lima menit jalan kaki ke gedung fakultas.
Karena lokasinya yang sangat strategis itu, kamarnya otomatis menjadi jujugan atau tempat mampir bagi teman-teman satu sirkelnya, setiap kali menghadapi “jam nanggung”.
Momen jam nanggung adalah kondisi, misalnya, kelas pertama selesai jam 10 pagi, tapi kelas berikutnya baru mulai jam 1 siang. Mau pulang ke kos sendiri terasa kejauhan, tapi mau nongkrong di kampus juga gabut. Akhirnya, banyak mahasiswa memilih “transit” di kos dekat kampus milik temannya.
Awalnya, semua terasa biasa saja. Ia dengan senang hati mempersilakan teman-temannya untuk sekadar rebahan, buang air, atau menumpang mengisi daya HP. Namun, lama-kelamaan, ia mulai sering mengeluh dan mengaku risih setiap kali temannya datang.
Wajar saja, yang awalnya cuma “numpang transit sejam”, lama-lama kebiasaan ini malah jadi agenda menginap yang tidak direncanakan. Kamarnya yang kecil seringkali diisi banyak orang yang asyik mengobrol, sementara dia sendiri malah kehilangan waktu untuk beristirahat.
Bikin pengeluaran boncos
Waktu itu, ketika ia ngedumel, saya sejujurnya agak bingung. Saya sempat membatin, “Kenapa sih dia perhitungan dan risih banget? Padahal kan teman-temannya cuma numpang duduk sama rebahan sebentar.”
Kebingungan masa lalu itu akhirnya terjawab oleh cerita Dinda (21). Dinda adalah seorang mahasiswi PTN yang saat ini menyewa kamar kos persis di seberang jalan raya kampusnya.
Lewat ceritanya, saya menyadari adanya kerugian yang kadang tak terlihat yang harus ditanggung oleh para penghuni kos dekat kampus.
Meskipun tak terlihat bagi teman-temannya, kerugian ini sangat dirasakan bagi pemiliknya, terutama pada hal-hal yang sifatnya materiil.
“Awalnya sebelum kenal banyak teman, ya enak-enak aja. Malah kos dekat kampus itu ngirit. Tapi lama-lama sebel juga,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).
Dinda bercerita, sejak teman-temannya sering “mampir”, pengeluarannya membengkak untuk hal-hal yang sebenarnya bukan dikonsumsi olehnya sendiri. Ia menjabarkan, misalnya, stok air galonnya yang seharusnya bisa untuk dua minggu, seringkali habis dalam waktu lima hari.
Ia juga merasa token listrik kosnya pun jadi lebih cepat bunyi karena kipas angin menyala hampir sepanjang hari demi mendinginkan banyak orang di dalam kamar. Belum lagi urusan stok camilan yang mendadak ludes setiap kali ada teman yang numpang.
“Yang paling terasa kalau ada yang nginep sampai tiga harian, bahkan seminggu. Kadang ibu kos minta tambahan 50 ribu. Itu aku aku juga yang bayar.”
Punya kos dekat kampus, privasi terasi dikangkangi
Namun, bagi Dinda, kerugian materiil untuk beli galon atau token listrik tambahan sebenarnya belum seberapa. Hal yang paling menyiksa justru adalah hilangnya ruang privat di kamar kosnya sendiri.
Dinda menceritakan momen-momen ketika ia pulang kuliah dalam keadaan sangat lelah. Di saat seperti itu, hal yang paling ia inginkan hanyalah masuk ke kamar, melepas jilbab, lalu tidur dengan tenang tanpa gangguan.
“Pernah aku tuh capek banget, penginnya langsung tidur. Eh, pas buka pintu kamar, di dalem udah ada tiga temenku nunggu kelas sore. Mana kadang berantakan,” kata dia.
“Mau marah tapi nggak enak.”
Kamar kos yang seharusnya menjadi satu-satunya tempat paling aman dan pribadi, justru terasa seperti ruang publik yang bisa dimasuki siapa saja. Ia merasa, privasi bukan lagi, haknya. Malah sudah jadi barang mewah yang sulit didapatkan.
“Punya kos dekat kampus bukannya enak, malah enek.”
Perasaan nggak enakan yang menyiksa
Pertanyaannya kemudian, jika memang merugikan secara finansial dan menyiksa secara mental, mengapa Dinda tidak menegur atau mengusir saja teman-temannya saja?
Di sinilah letak dilemanya. Memiliki kos dekat kampus berarti harus siap berhadapan dengan belenggu rasa sungkan (atau ewuh pakewuh) yang luar biasa besar. Dinda mengaku sangat kesulitan untuk sekadar berkata “tidak” atau melarang temannya datang.
Ada ketakutan yang terus menghantuinya. Ia takut dicap sebagai teman yang pelit, sombong, atau teman yang “nggak asyik”. Di lingkungan pertemanan kampus yang serba komunal, label seperti itu bisa berujung pada pengucilan dari sirkel pertemanan.
“Gila aja kalau aku menolak. Bisa-bisa jadi bahan omongan besok,” kata dia.
Perasaan tertekan yang dialami Dinda ini, ternyata juga oleh teman kantor saya yang kini tengah melanjutkan studi S2-nya. Meski letak kosnya sebenarnya tidak dekat-dekat amat dengan kampus, kamarnya seringkali diinapi oleh teman-temannya kulihanya. Bahkan, hingga berhari-hari.
Keluhan dia, persis seperti Dinda: privasinya sangat terganggu dan ia merasa tidak punya waktu untuk diri sendiri. Namun, sama halnya dengan Dinda, teman kantor saya ini tidak berkutik dan tak berani menegur.
Ia terbelenggu rasa sungkan karena yang datang adalah orang-orang yang sudah ia anggap sebagai teman dekat. Ketakutan akan rusaknya hubungan pertemanan ternyata jauh lebih besar daripada keinginan untuk mendapatkan kembali waktu istirahat yang tenang.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
