Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kerja Jakarta Selatan (Ega Fansuri/Mojok.co)

Kawasan Setiabudi memang strategis. Akses ke mana-mana dekat. Namun, daerah ini bikin para Gen Z Jakarta menangis.

***

Kawasan “segitiga emas” Jakarta selalu menampilkan dua wajah yang bertolak belakang. Di bagian depan, deretan gedung pencakar langit megah berdiri kokoh di sepanjang Jalan Sudirman hingga HR Rasuna Said. 

Namun, cukup berjalan kaki beberapa ratus meter ke lorong-lorong di belakangnya, wajah itu berubah menjadi permukiman padat penduduk dengan jalan yang hanya muat dilewati satu sepeda motor.

Kawasan seperti Karet Kuningan dan Setiabudi di Jakarta Selatan ini menjadi magnet utama bagi para perantau muda, terutama Generasi Z yang baru merintis karier dengan gaji pas-pasan. Alasan mereka sederhana: tinggal di sini berarti bisa berjalan kaki menuju kantor dan terbebas dari siksaan kemacetan ibu kota.

Sekilas, keputusan ini terdengar seperti jalan keluar yang ideal. Namun, tinggal di permukiman padat yang menempel dengan pusat bisnis ternyata memiliki harga yang harus dibayar mahal. Alih-alih hidup nyaman, kawasan ini justru menghadirkan masalah besar yang perlahan menguras fisik, mental, dan isi dompet para perantau muda.

Kamar tanpa jendela dan terganggunya jam tidur

Demi mendapatkan harga sewa yang sesuai dengan standard gaji pegawai tingkat pemula, para perantau di Setiabudi harus menekan standard kelayakan tempat tinggal mereka hingga ke titik terendah. 

Banyak rumah warga yang dirombak total menjadi puluhan kamar berukuran sangat kecil. Hasilnya, mayoritas kamar kos murah di kawasan ini tidak memiliki sirkulasi udara yang baik dan tidak memiliki jendela yang menghadap ke luar ruangan.

Realitas ini, salah satunya dirasakan langsung oleh Arka (24), seorang karyawan swasta di kawasan Kuningan. Raka menceritakan bagaimana kamar kos berukuran dua kali tiga meter yang ia tempati selama setahun terakhir, mulai berdampak buruk pada kondisi psikologisnya.

“Kamar saya letaknya di tengah lorong. Tidak ada jendela, cuma ada ventilasi kecil yang menghadap ke lorong dalam,” ungkapnya, Senin (6/7/2026).

“Kalau lampu dimatikan, kamar akan gelap gulita meskipun di luar sedang matahari terik. Lama-lama saya merasa sumpek dan sering pusing karena tidak tahu ini sudah pagi atau masih malam,” imbuhnya..

Keluhan Raka bukanlah omon-omon. Dalam ilmu kesehatan, kondisi ini erat kaitannya dengan sick building syndrome (SBS). Banyak ahli kesehatan sepakat bahwa ruangan tanpa akses cahaya alami dapat mengacaukan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh manusia. 

Terputusnya paparan sinar matahari secara terus-menerus terbukti menurunkan kualitas tidur, memicu kelelahan kronis, hingga meningkatkan risiko depresi bagi penghuninya. Bagi pekerja muda yang setiap hari menghadapi tekanan pekerjaan tinggi, pulang ke kamar tanpa cahaya ibarat masuk ke dalam ruang isolasi.

“Kalau ada teman menginap, kadang mereka juga ngeluhin hal yang sama.”

Setiabudi kalau musim hujan, wassalam!

Masalah kedua yang harus dihadapi Gen Z di Setiabudi adalah kondisi lingkungan yang jauh dari kata ideal. Jarak antar bangunan di kawasan ini sangat rapat sehingga sinar matahari jarang menyentuh dasar jalan. 

Kondisi ini membuat gang-gang kos selalu terasa lembap sepanjang waktu.

Arka menambahkan, masalah ini semakin parah ketika musim hujan tiba. Sistem drainase atau selokan di pemukiman padat sering kali tidak mampu menampung debit air.

“Gang di depan kos saya itu sangat sempit. Selokannya kecil dan tertutup beton jalan. Kalau hujan deras lebih dari satu jam saja, air got pasti meluap ke jalanan gang, bahkan kadang masuk ke lorong kos bawah,” ungkapnya. 

Awal tahun ini, saya berkesempatan berkeliling kawasan Setiabudi untuk menemui seorang kawan. Saat itu, kebetulan daerah yang saya kunjungi baru saja diguyur hujan. Meskipun tak terlalu lebat, genangan air ada di mana-mana yang bikin driver ojol yang saya tumpangi berkali-kali mengumpat.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), kawasan Karet dan Setiabudi memiliki tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi, mencapai puluhan ribu jiwa per kilometer persegi. Padatnya hunian ini tidak sejalan dengan perbaikan fasilitas sanitasi publik. 

Akibatnya, perantau yang ngekos di kawasan ini harus hidup berdampingan dengan risiko penyakit menular, masalah pernapasan akibat udara yang lembap, dan ancaman genangan air kotor.

“Belum lagi masalah tikus yang sering lewat di plafon atau kabel listrik yang menjuntai rendah,” keluh Arka.

Harga-harga elite, bikin kantong tercekik

Jika Arka menyoroti masalah ruang dan lingkungan, Dita (25) membeberkan masalah yang tidak kalah menyiksa: biaya hidup harian. Bekerja sebagai staf administrasi di Jalan Sudirman, Dita awalnya mengira tinggal di Karet Kuningan akan membuatnya bisa menghemat banyak uang. 

Kenyataannya, kawasan ini menyimpan biaya hidup mencekik, yang kadang tak terlihat.

Status Setiabudi sebagai kawasan elite membuat harga kebutuhan pokok di sekitarnya ikut merangkak naik. Para pemilik warung makan, laundry, hingga pedagang kelontong menyadari bahwa pelanggan mereka adalah para pekerja kantoran.

“Makan di warteg daerah Setiabudi itu harganya beda jauh dengan warteg di pinggiran Jakarta. Pesan nasi, telur, dan sayur saja harganya bisa menyentuh dua puluh lima ribu,” ungkapnya. 

“Harga laundry kiloan juga jauh di atas rata-rata. Kita kira bisa hemat karena tidak keluar ongkos transportasi, tapi ternyata uangnya habis tersedot untuk biaya makan sehari-hari,” tutur Dita.

Melambungnya harga makanan ini merupakan dampak langsung dari mahalnya harga tanah dan nilai sewa lahan komersial di pusat kota. Pemilik warung atau lapak kaki lima di sekitar Segitiga Emas harus membebankan biaya operasional mereka yang tinggi ke dalam harga jual makanan. Pada akhirnya, para pekerja muda bergaji pas-pasan seperti Dita yang harus menanggung beban inflasi lokal tersebut.

Bagi para perantau Gen Z, bertahan di Setiabudi pada akhirnya adalah sebuah kompromi hidup yang keras. Kawasan ini memang menawarkan efisiensi waktu, tetapi menuntut pengorbanan di aspek lain yang tidak kalah berharga.

“Hidup di Jakarta udah kayak zero sum game. Kalau mau dapat ini, harus mengorbankan itu. Kalau mau enak, harus mengorbankan kenyamanan yang lain,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version