Sebagai anak rantau atau mahasiswa yang tinggal di Jogja, istilah bubur kacang ijo (hijau) atau burjo tak lagi asing. Selain karena mudah dijumpai dan buka 24 jam, burjo atau warung makan indomie (warmindo) adalah penyelamat saat kantong kering. Lambat laun, warung makan murah tersebut merambah ke kota-kota lain seperti Jakarta tapi vibes-nya berbeda.
***
Pada awalnya, burjo hanya menyediakan menu bubur kacang hijau–sesuai dengan kepanjangannya. Dalam sejarahnya, kuliner tersebut dibawa oleh perantau dari Kuningan, Jawa Barat. Tak heran, penjual burjo biasanya dipanggil “akang atau a” untuk laki-laki dan “teteh atau teh” untuk perempuan.
Seiring berjalannya waktu, burjo mulai menyediakan mi instan sehingga ada yang mengubah namanya menjadi warmindo. Tak hanya itu, beberapa di antaranya juga menjual menu masakan rumahan.
Baik mahasiswa maupun perantau di Jogja mengandalkan burjo sebagai penyelamat saat kantong kering. Selain karena murah dan jarang tutup atau libur, pedagangnya dikenal ramah dan baik hati.
Warung makan andalan mahasiswa
Salah satu pembeli burjo langganan adalah Qoory (28). Perempuan asal Purwokerto ini mengaku sudah 6 tahun kuliah di Jogja dan menjadikan burjo sebagai warung makan andalannya.
“Burjo tuh penyelamat banget kalau bingung mau makan apa. Seringnya sesimpel nasi orak-arik telur karena murah dan bikinnya cepat,” ujar Qoory saat dihubungi Mojok, Sabtu (14/3/2026).
Seperti yang dikatakan Qoory, menunya tak hanya mi atau bubur kacang hijau. Malah kadang, sebagian burjo sudah tidak menjual bubur kacang hijau lagi. Namun, hal itu justru tak mengurangi minat pembeli.
Setelah lulus kuliah dan mendapat kerja di Jakarta, Qoory pun sadar bahwa menu burjo di Jogja jauh lebih lengkap ketimbang burjo yang ia temui di Jakarta. Dulu dengan uang Rp5 ribu, ia sudah bisa mendapatkan nasi plus sayur.
“Aku biasa pesan kacang panjang atau menu lain seperti mi telor, orek tempe, nasi telor, nasi ayam opor, nasi ayam kecap, bahkan nasi ayam sambal matah pun mereka ada,” jelas Qoory.
Namun, saat mencoba memesan menu Magelangan yang ada di Jakarta, ia justru mendapat reaksi aneh dari pedagang.
Dikira aneh oleh pedagang burjo di Jakarta
Suatu hari sepulang bekerja, Qoory menemukan burjo di sekitar kosannya yang masih buka. Tak perlu waktu lama baginya untuk datang ke sana, mengingat perutnya yang sudah keroncongan.
Ia pun kerap kebingungan memilih menu makanan. Pertama, karena lidahnya sudah terbiasa dengan masakan Jogja yang manis atau menu Magelangan. Mau masak sendiri pun tak ada waktu karena ia sering pulang malam.
Baca Halaman Selanjutnya
Senang temukan burjo di Jakarta tapi berujung kecewa














