Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
19 Maret 2026
A A
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Ilustrasi - Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada potensi anomali ketika Jogja—dan sekian destinasi wisata di dalamnya—diserbu 8,2 juta wisatawan selama libur lebaran (Idulfitri 2026) Ini. Sebab, kata pakar, daya beli wisatawan bisa saja rendah. Tapi di saat bersamaan keberadaan mereka akan memicu masalah. 

Mobilitas wisatawan ke Jogja lebih tinggi dari warlok

Hingga saat ini Jogja memang masih menjadi destinasi wisata favorit bagi wisatawan luar daerah. 

Merujuk hasil survei Kementerian Perhubungan, ada 8,2 juta orang wisatawan diprediksi akan melakukan perjalanan wisata di Jogja selama periode libur Idulfitri 2026. 

Angka ini mencerminkan mobilitas yang tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk DIY yang hanya 3,7-3,8 juta orang. Begitu kata peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM, Destha Titi Raharjana. 

“Tahun ini ada lonjakan yang diduga akibat akses jalan tol yang semakin mendekati pusat kota, jalur utara via Tempel dan jalur timur via Prambanan,” ucap Destha dalam keterangan tertulisnya di laman resmi UGM, Selasa (17/3/2026).

Destha memperkirakan, puncak arus kedatangan H-5 sampai H-3 lebaran. Sedangkan puncak kunjungan wisata diprediksi sekitar 22 Maret 2026.

Wisata Jogja memang menggoda dan terus bersolek

Bukan tanpa alasan kenapa wisata Jogja selalu menjadi tujuan wisatawan di momen-momen libur nasional. Di mata Destha, Jogja memang menawarkan wisata alternatif yang dapat dijangkau wisatawan. 

Belum lagi dengan konektivitas transportasi yang semakin baik. Utamanya keberadaan Tol Trans Jawa yang mempermudah akses mereka yang menggunakan mobilitas darat. 

Beberapa wilayah di Jogja pun, nilai Destha, juga menawarkan kuliner dengan harga jual makanan dan minuman relatif masih terjangkau. 

“Jogja ini dikenal sebagai destinasi wisata murah.  Jogja juga memiliki sejuta kenangan bagi mereka yang pernah menempuh pendidikan atau bekerja di kota ini. Libur Lebaran tentu menjadi salah satu momen untuk bernostalgia,” beber Destha. 

Selain tentu saja keberadaan daya tarik konvensional seperti Malioboro, Titik Nol, Tugu dan sekitarnya, Kraton, dan Tamansari. 

Kalau mau wisata alam seperti pantai, wisatawan bisa memilih beberapa wilayah pantai di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul. Apalagi belakangan ini Gunungkidul tengah bersolek sampai dimirip-miripkan dengan Bali. 

“Begitu pula dengan keberadaan kampung wisata dengan homestay, termasuk juga desa-desa di wilayah Bantul, Sleman, dan Kulon Progo. Ini tentu berpeluang menerima kunjungan wisatawan, baik yang di daya tarik ataupun paket berkegiatan di desa wisata,” paparnya.

Tapi tahun ini tidak mesti berdampak tinggi pada ekonomi?

Hanya saja meski mengalami lonjakan wisata yang cukup tinggi, Destha menduga tidak akan berdampak pada belanja wisatawan yang tinggi. Dari sisi perilaku ekonomi, Destha bahkan menilai jika para wisatawan akan selektif dalam merogoh kantong. 

Iklan

Melihat situasi saat ini, ia berpandangan wisatawan nampaknya memiliki daya beli rendah. Dimungkinkan tidak sedikit dari para wisatawan akan memilih aktivitas wisata yang gratis, seperti memilih ruang publik dan menggunakan akomodasi seperti hotel budget atau homestay, serta melakukan kunjungan one-day trip.

 “Intinya, wisatawan tahun ini nampaknya akan lebih selektif dalam berbelanja, meski ada juga beberapa yang tetap royal untuk belanja makan dan minum (kuliner), serta membeli oleh-oleh,” jelas Destha.

Sementara dibayangi ancaman nyata

Anomalinya, meski daya beli rendah, tapi lonjakan wisatawan di Jogja tetap memberi ancaman nyata. 

Menurut Destha, lonjakan 8,2 juta orang tersebuti akan membawa konsekuensi beban lingkungan yang besar. Oleh karena itu, ia mengimbau pengelola destinasi dan wisatawan untuk memperkuat komitmen pariwisata yang bertanggung jawab.

“Jangan sampai euforia nostalgia di Jogja justru meninggalkan masalah sampah yang mencemari citra estetik Jogja,” imbau Destha. 

“Penting untuk diperhatikan terkait dampak lingkungan dari ledakan jumlah pengunjung ini. Kita sama-sama menjaga agar lonjakan kunjungan tidak meninggalkan lonjakan volume sampah di titik-titik keramaian,” tegasnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

Sumber: UGM

BACA JUGA: Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Maret 2026 oleh

Tags: Jogjalibur lebaranliburanliburan ke jogjawisata jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO
Sosial

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.