Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

side hustle sebagai perajin lembah plastik. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Side hustle kini bukan lagi alasan utama Gen Z untuk menambah pendapatan. Lebih dari itu, side hustle bisa menjadi solusi alternatif bagi Gen Z untuk bertahan hidup. Seperti kisah Yosep Kevin Dwiputra, alumnus Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) yang mendapat kebermaknaan dari mengubah limbah tutup botol plastik menjadi produk dengan nilai jual tinggi.

***

Bermula dari keresahannya melihat timbunan tutup botol plastik di rumah, Yosep (26) pun merasa sayang jika harus membuang limbah tersebut. Padahal, benda kecil yang kerap dinilai tak berharga itu sebenarnya punya potensi ekonomi yang cukup besar asalkan dikelola dengan baik.

“Awalnya karena kebiasaan mengumpulkan limbah plastik tapi bingung mau diapain, kalau hanya dijual sampahnya, nilai jualnya juga rendah,” kata Yosep saat dihubungi Mojok, Senin (13/7/2026).

Setelah berselancar di dunia maya, Yosep pun menemukan ide untuk mencacah botol plastik menjadi papan yang bisa dibentuk. 

Lewat pengalamannya sebagai alumnus Unika Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), Yosep mencoba mengembangkan papan plastik tersebut menjadi produk menarik.

Side hustle jadi perajin limbah botol plastik

Proses pengolahan limbah tutup botol plastik menjadi kerajinan ternyata tidak semudah bayangan Yosep. Apalagi, saat dia harus mencacah botol plastik dengan gunting manual, karena belum punya modal untuk membeli mesin pencacah.

Alhasil, proses pengerjaannya pun lumayan lama sehingga dia harus pintar-pintar membagi waktu. Dengan begitu, pekerjaan utamanya sebagai freelance graphic designer tidak terganggu karena side hustle.

“Sejauh ini pekerjaan utama dan pekerjaan sampingan bisa saya lakukan di saat yang bersamaan, walaupun jam kerja jadi berantakan,” ucap lulusan Unika itu.

Di sisi lain, Yosep justru menjadikan kegiatan tersebut sebagai pelarian dari pekerjaan utamanya yang terus menatap layar. Seiring berjalannya waktu, Yosep pun mendirikan usaha kecil-kecilan seperti Circle Upcycle dan berhasil menjual produk buatannya.

Produk yang dijual antara lain gantungan kunci, cover buku, body jam tangan, nampan, coaster, aksesori, dan kancing. Meski untung yang dihasilkan tidak banyak, dia tetap bersyukur karena uang tersebut bisa dia putar lagi untuk kebutuhan membeli alat. 

“Saya coba beli alat alternatif yang lebih murah, seperti hotpress sablon sederhana. Dan ternyata bisa. Sampai sekarang, alat ini masih terus saya pakai untuk membuat produk-produk yang menarik,” kata Yosep.

Side hustle untuk menemukan kebermaknaan

Bagi Yosep, side hustle ini tidak berorientasi penuh pada uang, tapi sebagai langkah konkret dirinya untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Sebab dia sadar, limbah tutup botol plastik dapat menjadi sumber mikroplastik yang mencemari lingkungan.

Melansir dari laman resmi Universitas Airlangga (Unair), mikroplastik dapat menyebabkan gangguan metabolisme, neurotoksisitas dan peningkatan risiko kanker pada manusia. Oleh karena itu, Yosep ingin turut berkontribusi menjaga lingkungan walaupun masih dengan upaya yang kecil.

“Kita tidak dapat memproses 100 persen mikroplastik, tapi kita akan berusaha sebaik mungkin. Makanya, fokus saya sebenarnya bukan untuk menjual produk, tapi sebagai bentuk kampanye dan ajakan untuk orang awam agar mereka bisa ikut terlibat dalam pengolahan limbah plastik, serta meningkatkan nilai jual dari sampah itu sendiri,” tutur Yosep. 

Yosep juga berharap, Circle Upcycle kedepannya mampu berkembang sebagai komunitas peduli lingkungan khususnya limbah plastik dengan melibatkan ibu rumah tangga, anak muda, sampai bank sampah.

Kebahagiaan tak melulu soal uang

Cerita Yosep sekaligus membuktikan bahwa orientasi anak muda dalam melakukan side hustle tidak hanya untuk menambah pendapatan, melainkan juga sebagai pilihan bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mencari kebermaknaan.

Hal itu sejalan dengan survei Deloitte yang menunjukkan bahwa 25 persen Gen Z mengambil side hustle untuk meningkatkan kemampuan mereka. Chief People and Purpose, Michele Parmelee berujar side hustle juga bisa jadi cara anak muda untuk monetisasi hobi.

Bagi Yosep, biaya hidup memang menjadi salah satu kekhawatiran utamanya. Apalagi di tengah situasi inflasi yang semakin naik dan harga kebutuhan sehari-hari yang makin mahal. Namun dia percaya, dalam hidup, yang dicari tidak melulu soal materi melainkan manfaat kita hidup di dunia. 

“Sebagai freelance yang menghabiskan banyak waktu bekerja di rumah, mengolah limbah plastik jadi hobi baru yang lumayan menjanjikan dari segi non-materi,” kata Yosep. 

Semangat Yosep ini juga tidak terlepas dari dukungan keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Beberapa orang mungkin menganggap apa yang dilakukan Yosep sia-sia karena selama ini untung yang didapatkan tidak pasti. 

“Saya pun bisa bertahan sampai sekarang berkat dukungan dari keluarga dan teman-teman, bahkan merekalah yang membantu saya untuk promosi. Kelak, jika bisnis ini lancar, saya berencana untuk merekrut karyawan,” ujar alumnus Unika tersebut.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version