Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Suara Hati Mahasiswa UGM Asal Papua Ungkap Beratnya Kuliah di Jogja Meski Dianggap “Papua Kedua”

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
17 Oktober 2023
A A
Curahan Hati Mahasiswa Papua yang Kesulitan 'Mengetuk Pintu' Pemilik Kos di Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi Curahan Hati Mahasiswa Papua yang Kesulitan 'Mengetuk Pintu' Pemilik Kos di Jogja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pertanyaan yang membuat Papua terkesan bukan Indonesia

Selain tantangan tadi, terkadang mahasiswa asal Papua seperti Gege dan Alex merasa bingung, di tengah keterbukaan informasi seperti sekarang masih ada pertanyaan yang kadang menyakitkan buat mereka. Mereka kerap mendapat pertanyaan klise semacam “di Papua itu ada mal nggak ya?” atau “di sana itu udah ada mobil atau belum?”.

Gege merasa beruntung, sebab jurusan HI menurutnya berisi mahasiswa yang cukup terbuka dan punya pengetahuan luas terkait budaya. Namun, pertanyaan klise semacam itu kadang muncul dari teman jurusan lain atau bahkan orang yang ia temui di luar kuliah.

“Bahkan ada yang tanya ‘kalian di Papua itu uangnya pakai dolar ya?’,” kata Gege sambil geleng-geleng kepala.

“Jelas-jelas Papua merupakan bagian dari Indonesia. Mata uang apalagi kalau bukan rupiah,” sambungnya.

Pertanyaan semacam itu diulang-ulang hingga mereka merasa jenuh. Bahkan, ada pertanyaan soal apa bahasa yang mereka gunakan di Papua. Ini terkesan pertanyaan basa-basi yang polos namun seringkali membuat Gege, Alex, dan Apri merasa tak nyaman.

“Bicara bahasa, kami bahkan bisa jadi lebih fasih berbahasa Indonesia. Cuma ya memang cara bicara kami cepat,” sahut Alex.

Perjuangan panjang demi masa depan

Bisa menjadi mahasiswa UGM, bagi Gege dan Alex adalah kebahagiaan tak terkira. Namun, perjuangan mereka tidak mudah.

Mereka jauh dari kampung halaman dan tidak setiap tahun bisa pulang. Bahkan, harus menghadapi situasi krisis yang sulit terbayang bagi mahasiswa dari daerah lain.

Gege misalnya, baru beberapa bulan menjadi mahasiswa UGM, kasus rasialisme terhadap Papua pecah pada September 2019 silam. Kasus nasional yang bermula dari peristiwa di Surabaya itu membuatnya putus kontak dengan keluarga selama nyaris satu bulan. Sebab, koneksi internet dan jaringan seluler di Papua diputus.

“Manokwari saat itu jadi salah satu titik kerusuhan paling parah. Sa biasanya dikirim uang setiap tanggal 22 dan konflik pecah tanggal 20,” kenangnya.

Saat itu, semua bank di Manokwari tutup. Gege beruntung, ada senior mahasiswa UGM yang menampungnya di rumah kontrakan sehingga ia bisa bertahan meski uang saku sudah habis.

“Saat itu ada eksodus besar-besaran mahasiswa Papua pulang ke kampung halaman. Sebagian dari mereka nggak melanjutkan studi lagi. Seperti ada satu generasi yang terputus,” ujarnya.

Itu jadi salah satu momen berat yang tak pernah Gege lupakan. Demi menempuh pendidikan, ada harga dan perjuangan berat yang harus ia bayar.

Senada, Alex juga berujar bahwa mahasiswa Papua yang berhasil lulus studi di perantauan, berarti tekadnya untuk belajar begitu kuat. Kesenjangan membuat mereka harus belajar ekstra keras. Sistem dukungan dari lingkungan pun jauh dari kata ideal.

Iklan

“Sa pikir harus melihat kendala ini sebagai tantangan. Harus memaksa diri agar bisa beradaptasi dan mengejar ketertinggalan. Gas terus,” pungkasnya.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Kalau Orang Indonesia Omong Soal Papua, Mereka Omong Apa?

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2023 oleh

Tags: Kuliah Jogjamahasiswa papuamahasiswa ugmrasialisme
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah
Edumojok

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026
Honda Supra X 125
Sehari-hari

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Ketika Dosen UGM Mengajar di Cina saat Natal dan Tahun Baru: Libur Bukan Hadiah, tetapi Utang yang Harus Dibayar Lunas MOJOK.CO
Esai

Ketika Dosen UGM Mengajar di Cina saat Natal dan Tahun Baru: Libur Bukan Hadiah, tetapi Utang yang Harus Dibayar Lunas

2 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
iphone 11, jasa sewa iphone jogja.MOJOK.CO

User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol

14 Maret 2026
Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.