Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
4 Februari 2026
A A
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Asriadi Cahyadi, pemilik Dcell Jogja Store di Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pemuda asal Bantul ini berhasil menyulap kediamannya menjadi toko musik analog yang kini jadi tempat langganan anak-anak mahasiswa di Jogja. Tempat itu bernama Dcell Jogja Store. Berlokasi di gang perkampungan Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Baginya, musik analog bukan sekadar media pemutar musik tapi pintu menuju kenangan masa lalu.

Sempat malu bawa walkman kemana-mana

Telepon Asriadi Cahyadi (41) bolak-balik berdering di tengah kesibukannya mengotak-atik radio milik salah satu pelanggan. Namun, sengaja tak ia angkat dan akan ia hubungi kembali selesai memperbaiki radio merk Sony milik pelanggan pertamanya. 

Menurut Asriadi, bisnis Dcell Jogja Store miliknya semakin berkembang sejak tahun 2021 walaupun sudah berdiri pada tahun 2018. Pemuda asal Bantul itu mengaku banyak yang mencari-cari dirinya untuk membeli maupun memperbaiki walkman.

Padahal, dulu ia sempat malu mengeluarkan walkman dalam tas karena pemutar media portabel tersebut belum beken seperti sekarang. Lebih dari itu, ia takut dianggap jadul karena zaman sekarang banyak yang lebih mendengarkan musik lewat streaming online.

“Aku lebih suka walkman karena ringkes, barangnya kecil, bisa dibawa kemana-mana. Dan enak buat mendengarkan musik tapi orang belum banyak yang punya. Jadi aku merasa beda sendiri,” ucapnya. 

Siapa sangka, peminat walkman kini semakin banyak. Belum lagi kemunculan kafe-kafe bergaya vintage yang membutuhkan musik analog sebagai dekorasi.

Bisnis musik analog di Jogja mulai diminati

Adi berujar kebanyakan pelanggannya adalah Gen Z atau mahasiswa khususnya di jurusan tertentu. Misalnya, mahasiswa perfilman atau Ilmu Komunikasi. Beberapa milenial juga datang untuk membeli walkman atau memperbaiki tape recorder.

“Ada juga yang sewa buat syuting atau mengerjakan tugas. Mulai dari anak Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), DOES University, banyak pokoknya,” ucapnya.

Selain menjadi “juru selamat” musik analog, Adi juga menjual kaset pita atau piringan hitam (vinyl). Beberapa lagu yang sering dibeli dan dicari berasal dari band Oasis, Radio Head, Pumpkin, Pink Floyd, hingga ABA.

“Harganya mulai dari Rp20 ribu tapi tergantung juga karena biasanya ada barang yang sulit dicari,” jelasnya.

Sedangkan untuk walkman ia jual dengan range harga Rp125 ribu hingga Rp200 ribu. Biasanya, walkman dengan harga Rp125 ribu kualitasnya sudah standar. Dan karena barangnya sudah lawas, biasanya harus ditunggu dulu hingga benar-benar menyala.

“Ibaratnya motor itu harus dipanasi dulu tapi kalau yang harganya Rp200 ribu, aku jamin kualitasnya sudah bagus,” kata dia.

Ada juga yang sengaja membeli musik analog sebagai bagian dari estetika, misalnya kafe bergaya vintage hingga studio podcast. Dari situ, Adi bahkan mendapat keuntungan hingga Rp8 juta lebih.

Penggemar musik analog punya kedekatan emosional

Sejatinya, Adi membuka bisnis Dcell Jogja Store bukan karena tren tapi dari hobinya mengoleksi musik analog. Saat kecil, Adi mengaku belum punya uang untuk membeli musik analog. Setelah dewasa, ia mulai bisa menabung sedikit demi sedikit dan membeli barang tersebut hingga terkumpul beberapa kaset, walkman, tape recorder, sampai gameboy.

Iklan

Tak hanya hobi mengoleksi, Adi juga suka mengotak-atik barang tersebut. Awalnya, ia mencoba memperbaiki barang milik temannya yang ternyata juga suka menjual musik analog. Dari temannya itu Adi mulai belajar bisnis alias jual beli musik analog.

Lambat laun, tokonya mulai tersebar dari mulut ke mulut. Beberapa pelanggan juga memberikan testimoni lewat media sosial. Sampai-sampai, Adi pun tak menyangka ada beberapa pelanggan yang memang sengaja datang dari luar negeri.

“Belum lama ini, ada cowok-cewek dari Belanda yang datang ke sini. Katanya selain untuk liburan, dia memang niat mau memperbaiki walkman di sini,” ucap Adi.

Selain tak menduga mendapati pelanggan dari Belanda, Adi juga merasa senang karena bisa membantu memperbaiki walkman tersebut. Sebab rupanya, walkman itu memiliki makna tersendiri bagi sang pemilik.

“Mereka sampai posting di Instagram dengan caption begini, ‘kamu menyelamatkan masa kecilku dengan memperbaiki walkman sony pertamaku, aku tidak akan pernah melupakannya. Ini layanan hebat!” kata Adi.

Punya koleksi 1.000 kaset pita di Jogja

Dari cerita si orang Belanda, Adi jadi paham bahwa beberapa orang mulai menganggap walkman atau tape recorder bukan hanya media pemutar musik, tapi pintu menuju kenangan untuk kembali ke masa lalu.

“Aku pun mulai mengenal musik analog dari paman dan ibuku saat SMP. Aku masih ingat, mereka suka play lagu-lagunya Westlife, Bryan Adams, sampai Michael Jackson. Dari situ referensi musik-musikku makin banyak, serta punya keinginan mengoleksi,” ucapnya.

Sebab jujur saja, dulu Adi adalah anak yang jarang main ke luar. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah dibandingkan main bersama teman-temannya. Dan dari hobi mendengarkan musik itulah, Adi seolah menemukan kepuasan hidup.

“Misalnya waktu dengerin musik dari tape sendirian, aku bisa lihat wujud fisiknya, pilih kasetnya, masukkin kasetnya. Di sana aku merasa lebih tenang dibandingkan dengan scroll-scroll musik di HP,” ujar Adi.

Kini, koleksi Adi mencapai 200 radio dan tape recorder, 1.000 lebih kaset pita dengan berbagai genre dan lintas tahun. Ia juga menyediakan musik analog seperti compact disc, piringan hitam, dan amplifier.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Digital Fatigue: Kembalinya Budaya Retro di Kalangan Gen Z, karena Jenuh dengan Teknologi Modern atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2026 oleh

Tags: BantulDcell Jogja Storeisi jogjaJogjaMahasiswamusik analogUGM
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)
Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO
Urban

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana Jurusan Agribisnis jualan keripik buah. MOJOK.CO

Sibuk Jualan Sambil Kuliah daripada Jadi Mahasiswa “Kura-kura”, Lulusan Agribisnis Ini Sukses Dagang Keripik sampai Luar Negeri

11 Maret 2026
Derita anak punya warisan utang dari orang tua MOJOK.CO

Derita Anak Punya Warisan Banyak dari Ortu tapi Warisan Utang, Hidup Berantakan buat Melunasi

11 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan pesawat

Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

11 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.