Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Subhan dan Rina Marlina: 2 Anak Kampung yang Mendunia, Tapi Tiap Naik Pesawat Masih Nggak Nyangka

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 November 2025
A A
Subhan dan Rina Marlina: 2 anak kampung yang mendunia berkat bulu tangkis difabel (para-badminton) MOJOK.CO

Ilustrasi - Subhan dan Rina Marlina: 2 anak kampung yang mendunia berkat bulu tangkis difabel (para-badminton). (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Subhan (31) dan Rina Marlina (31). Dua nama ini sudah kelewat masyhur di jagat para-badminton (bulu tangkis difabel).

Bermain di kategori SH6 (perawakan pendek), keduanya memang langganan juara. Khususnya di nomor ganda campuran.

Paling baru, Subhan dan Rina Marlina menyabet medali emas di nomor ganda campuran Polytron Indonesia Para Badminton 2025 Solo by Polytron, Bakti Olahraga Djarum Foundation, NPC Indonesia, dan BWF.

Di laga final pada Minggu (2/11/2025), keduanya menang mudah atas lawannya, pasangan Krishna Nagar dan Nithya Sre Sumathy Sivan dari India dengan skor akhir: 21:13, 21:9.

Kendati begitu, keduanya masih kerap tak menyangka: Ternyata mereka telah berjalan amat jauh. Beranjak dari kepahitan-kepahitan masa lalu lantaran keterbatasan perawakan dan ekonomi.

Subhan (kanan) dan Rina (kiri) sabet medali emas di Polytron Indonesia Para Badminton 2025 Solo MOJOK.CO
Subhan (kanan) dan Rina (kiri) sabet medali emas di Polytron Indonesia Para Badminton 2025 Solo. (Eko Susanto/Mojok.co)

Menjadi ART hingga tukang ojek

Kala masih SD, bapak Rina meninggal dunia. Itu membuat ibunya harus bekerja sendiri untuk mencukupi hidup sehari-hari di sebuah kampung di Tasikmlaya, Jawa Barat.

Karena tak cukup uang, Rina pun akhirnya mencukupkan pendidikan hanya di jenjang SD. Lalu setelah lulus SD, Rina ikut ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Bandung.

“Ibu jadi ART-nya, saya jadi pengasuh anak majikan,” ungkap Rina.

Aksi pasangan Subhan dan Rina Marlina di bulu tangkis difabel Polytron Indoensia Para Badminton 2025 Solo MOJOK.CO
Aksi pasangan Subhan dan Rina Marlina di bulu tangkis difabel Polytron Indoensia Para Badminton 2025 Solo. (Eko Susanto/Mojok.co)

Setelah ibunya sakit-sakitan, ibunya pun memilih pulang ke Tasikmalaya. Rina kemudian menggantikan posisi sang ibu menjadi ART.

“Tapi karena ibu sakit-sakitan dan nggak ada yang merawat (karena Rina anak tunggal), saya lalu pulang. Nah, untuk kebutuhan makan, saya waktu itu narik ojek,” kata Rina.

Raket hasil ibu jualan cilok demi ikut bulu tangkis tarkam

Antara 2009/2010-an, bulu tangkis memang tengah digandrungi banyak orang di lingkungan Rina. GOR dekat rumah Rina selalu ramai.

Awalnya, Rina melihatnya hanya sebatas sebagai peluang untuk tambah-tambah pemasukan. Waktu itu ia menjadi wasit dalam setiap pertandingan tarkam di GOR. Walaupun bayarannya cuma Rp2 ribu, tapi tetap ia jalani.

“Setiap orang-orang break, saya pinjem raket, main tepok-tepokan, minta koknya buat saya bawa pulang di rumah. Di rumah saya main sendiri, raketnya waktu itu pakai piring seng,” beber Rina.

“Tapi di pikiran saya udah gini: Suatu saat nanti saya kok yakin bisa main di depan orang banyak,” sambungnya.

Iklan

Memang begitu yang terjadi. Setelah makin mahir memainkan raket, Rina mencoba ikut bulu tangkis tarkam. Raket pertamanya dibelikan ibu dari hasil jualam cilok. Karena memang sang ibu selalu mendukung penuh yang ingin Rina kejar.

Suara-suara sumbang

“Setelah main-main badminton tarkam, saya terus diajak teman pertandingan se-Jawa Barat. Tapi itu buat yang fisiknya normal. Saya didaftarin sama teman saya untuk ikut turnamen itu,” kata Rina.

Awalnya Rina menolak karena tak punya modal. Akan tetapi, teman yang mendaftarkan Rina meyakinkan agar Rina tak khawatir soal itu. Pokoknya Rina hanya perlu berangkat.

Dan untung Rina berangkat. Karena di situ lah bakat Rina tersorot oleh pihak NPC Jawa Barat. Ia didorong untuk ikut seleksi pelatnas para-badminton.

“Waktu itu ya ada saja orang yang meragukan. Bilang gini, ‘Kamu emang bisa jadi atlet? Bulu tangkis itu buat orang kaya, bukan orang yang nggak punya. Buat orang yang fisiknya tinggi-tinggi, bukan orang pendek.’ Tapi itu nggak bikin minder, malah bikin saya termotivasi,” tekan Rina.

Suara-suara sumbang model apa pun tak akan menggoyahkan tekad Rina. Sebab, ia menggenggam erat nasihat mendiang bapaknya: “Harus kuat, harus yakin, karena ke depannya kita nggak ada yang tahu, harus yakin, doa, dan sabar.”

Lapangan bulu tangkis beralas tanah-bergaris rafia di Jepara

Rekan Rina, Subhan (31), pun sama halnya.

Subhan asli Jepara, Jawa Tengah. Ia mulai tertarik bulu tangkis sudah sejak kelas 2 SD.

“Dulu hobinya anak-anak desa itu memang main bulu tangkis. Mainnya di pinggir rumah, ada lapangan. Tapi ya tanah, garisnya pakai tali rafia,” beber Subhan.

Jatuh bangun Subhan di bulu tangkis difabel Polytron Indonesia Para Badminton 2025 Solo MOJOK.CO
Jatuh bangun Subhan di bulu tangkis difabel Polytron Indonesia Para Badminton 2025 Solo. (Eko Susanto/Mojok.co)

Dengan perawakan pendek, tidak mudah bagi Subhan untuk mengimbangi teman-teman sebayanya. Alhasil, ia kerap tak diajak bermain lantaran dianggap tak bisa bermain bulu tangkis.

Sampai akhirnya, setelah mulai jago, pada 2019 Subhan mengikuti seleksi talent scouting NPC Jawa Tengah hingga dipanggil lah ia ke pelatnas.

2 anak kampung menjelajah dunia tapi masih tak menyangka

Subhan dan Rina Marlina kemudian dipertemukan dan dipasangkan sebagai dua atlet profesional.

Keduanya pun menjelajahi dunia—untuk mengikuti berbagai kejuaraan dunia. Prestasi demi prestasi pun mereka torehkan, baik bersama maupun perseorangan.

“Pertama kali saya naik pesawat itu waktu ke China pada 2019 dalam proses menuju pelatnas. Itu saya sudah tertegun, kok bisa saya naik pesawat ke luar negeri,” kata Rina.

Subhan dan Rina Marlina terus beprestasi di level dunia MOJOK.CO
Subhan dan Rina Marlina terus beprestasi di level dunia. (Eko Susanto/Mojok.co)

Sampai saat ini pun, tiap naik pesawat dan menginjakkan kaki di luar negeri, Rina masih sering tak menyangka: Bocah lulusan SD, tapi kok bisa berkiprah sejauh itu.

“Sampai sekarang ibu saya juga nggak nyangka, seorang Rina yang tadinya bukan siapa-siapa, pernah jadi ART, tukang ojek, eh bisa seperti sekarang ini,” tutur Rina dengan suara bergetar haru.

“Di kampung sekarang terinspirasi saya, sampai ada dua lapangan bulu tangkis di desa,” sementara begitu pengakuan Subhan. Ia pun tak menyangka, kini pergi-pergi ke luar negeri—di setiap mengikuti kejuaraan para-badminton—jadi hal biasa bagi anak kampung sepertinya.

Bulu tangkis—para-badminton—benar-benar memberi makna hidup mendalam bagi Subhan dan Rina. Bagi keduanya, bulu tangkis telah membuat mereka dan keluarga masing-masing menjadi lebih dihargai, mengubah perekonomian juga. Mengumrohkan ibu/orang tua kemudian menjadi puncak mimpi yang mereka upayakan terwujud.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ketangguhan dalam Nama “Qonitah Ikhtiar Syakuroh”, Dari Raket Rp40 Ribuan dan Ejekan Cara Berjalan Jadi Penderes Emas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 3 November 2025 oleh

Tags: Badmintonbulu tangkisbulu tangkis difabelpara badmintonpilihan redaksirina marlinasubhan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO
Catatan

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO
Edumojok

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Sehari-hari

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

14 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Sampit, Kota yang Dianggap Tertinggal tapi Nyatanya Jauh Lebih Maju dari Kebanyakan Kabupaten di Jawa.MOJOK.CO

Sampit, Kota yang Dianggap Tertinggal tapi Nyatanya Jauh Lebih Maju dari Kebanyakan Kabupaten di Jawa

13 April 2026
Gagal kerja di Jakarta sebagai musisi. MOJOK.CO

Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung

11 April 2026
Supra X 125, Motor Honda yang Menderita dan Nggak Masuk Akal MOJOK.CO

Supra X 125 Adalah Motor Honda Penuh Penderitaan dan Nggak Masuk Akal, tapi Menjadi Motor Paling Memahami Derita Keluarga Muda

14 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.