“Ojo ngeluh, sing penting jujur,” kata salah satu pedagang Sate Kere Bu Misinem Merbung di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten.
***
Pedagang Sate Kere Bu Misinem Merbung itu bernama Purnomo Santoso (43), sedangkan Misinem adalah nama ibunya yang telah meninggal 3 tahun yang lalu. Kalimat ‘ojo ngeluh, sing penting jujur’ yang artinya, jangan mengeluh yang penting jujur, merupakan pesan ibunya yang bakal terus Purnomo kenang dan ia terapkan di kehidupan sehari-hari.
Purnomo adalah satu dari ratusan pelaku UMKM di Pasar Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. Berbeda dengan pedagang lainnya yang kebanyakan menjual jajanan Korea, Purnomo justru eksis dengan kuliner sate kere-nya.
Laki-laki asal Klaten ini mengaku, baru 3 tahun ini ikut meramaikan Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, padahal acara itu sendiri sudah digelar sejak tahun 2010 di sekitar jalan area masjid sepanjang 400 meter.
Sedangkan satu tahun sebelumnya, yakni 2009, Misinem baru berjualan sate kere di sekitar rumah. Sebuah kuliner khas Jawa Tengah yang terbuat dari tempe gembus (ampas tahu) dan jeroan sapi.
“Saya sama adik saya ini menggantikan ibu yang baru meninggal tahun 2022 kemarin,” kata Purnomo sembari membolak-balikkan sate di bakaran, sementara adik perempuannya sibuk membumbui.
“Sate Kere Bu Misinem Merbung” kesukaan warga Klaten
Sejak pukul 16.30 WIB, pelanggan Purnomo di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten tak pernah sepi. Beberapa pembeli tampak mengantre mulai dari yang tua hingga anak-anak. Bahkan ada yang pesan lebih dulu dan meninggalkan lapak Purnomo untuk melihat-lihat kuliner lainnya, sembari menunggu pesanannya jadi.
Purnomo mengaku tidak punya resep macam-macam agar sate kere-nya disukai banyak orang. Semua itu berasal dari resep bumbu yang diracik oleh almarhum ibunya. Perlahan-lahan, Purnomo pun mempelajari usaha tersebut bersama adik bungsunya.
“Saya sejak SMP itu sudah ikut ibu jualan jadi nggak terlalu susah buat meneruskan jualan ibu,” kata Purnomo.

Selain sate kere, Purnomo juga menambahkan aneka seafood frozen seperti dumpling cheese, chikuwa, maupun sosis, tahu, dan bakso.
“Biar variasi. Soalnya kan kadang ada yang nggak suka jeroan, terutama anak-anak,” jelas Purnomo.
Satu porsi satenya dia patok harga Rp10 ribu berisi 8 tusuk. Untuk sate kere per tusuknya ia beri harga Rp2.500. Purnomo mengaku angka ini tidak pernah berubah setelah ibunya meninggal maupun saat harga daging naik.
“Saya nggak tega sama pelanggan ibu kalau dinaikkan,” kata Purnomo.
Baca Halaman Selanjutnya
Motor warisan dan meninggalnya Misinem…














