Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

ilustrasi - Kedai Kopi Dinasty yang digandrungi anak muda Surabaya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Saat kafe-kafe di Jalan Tunjungan, Surabaya menawarkan kopi di atas harga Rp20 ribu, terdapat kedai kopi yang nggak kalah estetik dengan harga ramah di kantong. Tempat nongkrong itu bernama Kedai Kopi Dinasty. Selain harganya yang masih merakyat, pemilik kedai kopi yang merupakan alumnus dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini turut memberdayakan para ibu untuk jual kopi keliling.

Dari staf barista hingga punya kedai kopi sendiri di Surabaya

Bermula dari pengalamannya kerja di gerai Chatime setelah lulus SMA, Farhan Al Tsany (25) berkeinginan untuk memiliki bisnis Food and Beverage (FnB) sendiri. Oleh karena itu, dia mendirikan kedai kecil di depan rumah yang dia beri nama Milk Mix pada tahun 2019.

Setahun berikutnya, kedai Milk Mix terpaksa tutup karena Farhan mulai sibuk menjalani aktivitas kuliah di Jurusan Manajemen Unesa. Namun, bukan berarti usaha itu berhenti total. Di waktu senggangnya, Farhan masih semangat membuat perencanaan bisnis FnB miliknya.

suasana kedai kopi dinasty. MOJOK.CO
Dekorasi Kedai Kopi Dinasty. (dok.istimewa)

“Aku selalu punya keinginan melanjutkan usaha sendiri dan kebetulan aku sangat suka kopi. Tren nongkrong di kedai kopi pun makin meningkat di Surabaya. Lalu, aku melihat potensi bisnis itu sehingga aku memutuskan beralih dari Milk Mix ke kedai kopi sampai terwujudlah Kedai Dinasty ini,” tutur Farhan saat dihubungi Mojok, Senin (29/6/2026).

Kuliah di Unesa sambil kembangkan bisnis kedai kopi

Jujur saja, Farhan mengaku dulunya bukan tipe anak yang ambisius di dalam kelas. Namun, ketika dirinya sudah tertarik dengan sesuatu, Farhan bakal getol mewujudkannya. Oleh karena itu, di tengah kesibukannya kuliah sebagai mahasiswa Unesa, Farhan perlahan-lahan mulai mengembangkan bisnisnya.

“Selain berusaha membagi waktu, aku juga harus mencari rekan kerja yang tepat, memperhatikan manajemen keuangan, sumber daya manusia, hingga marketing-nya agar fondasi bisnis dapat berjalan dengan kuat,” jelas Farhan.

Para pengunjung menikmati suasana cozy di Kedai Kopi Dinasty. (dok. istimewa)

Guna mengumpulkan modal, Farhan juga menyambi pekerjaan lain semasa kuliah di Unesa. Salah satunya, kerja di bidang Sportainment atau acara bola. Setelah modal terkumpul dan berhasil menyelesaikan kuliahnya, Kedai Kopi Dinasty kini makin berkembang pesat.

Kedai kopi murah di Surabaya yang punya visi beda

Berjarak 9 kilometer dari pusat kota, tepatnya di Jalan Jambangan Kebon Agung, Kedai Dinasty kini digandrungi semua kalangan. Mulai dari remaja hingga orang dewasa. Wajar saja, karena harga menunya murah meriah. Rasanya pun nggak kalah dengan kafe-kafe estetik di Jalan Tunjungan, Surabaya.

Misalnya, kamu tak sampai mengeluarkan uang Rp20 ribu untuk membeli satu paket matcha latte panas dan mi kari ayam. Sementara untuk harga minuman non-coffee (ice), rata-rata dipatok harga Rp15 ribu. Lebih murah dari harga-harga minuman di Jalan Tunjungan, Surabaya.

Kedai Kopi Dinasty buka pukul 09.00-00.00 WIB. (dok.istimewa)

Begitu juga dengan suasananya yang tak kalah estetik dan cozy. Sebagai pemilik Kedai Kopi Dinasty, Farhan bahkan sering mengadakan acara seperti nonton bareng (nobar) bola, karaoke bersama, hingga menyediakan playstation untuk pelanggan.

“Visi dari Kedai Kopi Dinasty ini adalah ‘Semua Bisa Minum Enak’, maka dari itu aku tidak terlalu tinggi dalam menentukan harga jual seperti kafe lain, agar semua kalangan bisa berkumpul dan menikmati hidangan yang disajikan,” jelas Farhan.

Berdayakan ibu-ibu untuk jual kopi keliling

Sukses dengan Kedai Kopi Dinasty miliknya, Farhan tak langsung puas diri. Alumnus Unesa itu turut mengajak ibu-ibu untuk berjualan kopi keliling. Ide ini muncul saat platform penggalangan donasi, KitaBisa hendak mengajak kerja sama untuk mengadakan program pemberdayaan, khususnya bagi para ibu yang sudah tidak bisa mengandalkan gaji suami mereka. 

Berkat program yang kemudian diberi nama ‘Senyum Mama Berdaya’ ini, para ibu pun bisa meningkatkan ekonomi mereka guna mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Salah satunya, Ika Rosita Setianingsih.
“Saya memilih pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidup anak saya yang istimewa (berkebutuhan khusus) dan memerlukan banyak biaya,” kata Ika dikutip dari Instagram Kitabisa.

Ika sendiri merupakan satu dari tiga ibu yang mengikuti program tersebut. Selain berjualan kopi keliling, para ibu juga diberi modal usaha serta pelatihan kerja. Setiap kopi yang mereka jual nantinya, sebagian akan didonasikan untuk pemberdayaan ibu-ibu lain agar bisa hidup mandiri.

Lewat program ini, Farhan percaya bahwa perempuan bahkan ibu-ibu sekalipun punya kesempatan yang sama dan layak mendapatkan hak mereka dalam memperjuangkan rezekinya, tak hanya laki-laki yang mampu bekerja sebagai barista kopi keliling.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kafe Bukuku Lawas: Surganya Para Pecinta Kopi dan Buku Klasik di Solo  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version