Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Sampai Nanti, Hanna!: Ketika Perempuan “Dipaksa” Memilih Hubungan Toksik

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
5 Desember 2024
A A
Sampai Nanti, Hanna!: Ketika Perempuan “Dipaksa” Memilih Hubungan Toksik.MOJOK.CO

Sampai Nanti, Hanna!: Ketika Perempuan “Dipaksa” Memilih Hubungan Toksik (dok. IMDB)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sampai Nanti, Hanna! (2024) melakukan pemutaran spesial di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2024. Film ini menjadi gambaran bagaimana banyak perempuan di luar sana yang terpaksa dan dipaksa hidup dalam hubungan toksik.

***

Puluhan pasang mata yang memenuhi Studio 2 Empire XXI Jogja bergemuruh setelah film Sampai Nanti, Hanna! selesai diputar. Suara tepuk tangan bersahutan. Ada yang berteriak penuh antusias, tapi tak sedikit juga yang menyeka air mata.

Dari beberapa penonton yang menangis tersedu-sedu, salah satu yang berhasil Mojok wawancarai adalah Nuri. Perempuan asal Jakarta ini mengaku, banyak bagian dalam film yang relate dengan kehidupannya.

“Ada adegan di mana Hanna (tokoh utama) terpaksa menerima pernikahan karena ingin keluar sesegera mungkin dari rumah. Ada bagian di mana dia mengalami baby blues, tapi tak ada yang memahami. Semua ini, relate sama kehidupan aku,” terang Nuri, Selasa (3/12/2024).

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Official Account Sampai Nanti Hanna Film (@sampainantihanna)


Nuri mengaku, film yang dia tonton malam hari itu memang di luar ekspektasinya. Menurutnya, dia datang hanya bermodal sinopsis. Berbeda dengan film JAFF lainnya yang dia tonton bermodal review kritis dan rekomendasi para sinefil.

“Tapi di luar ekspektasi. Memang sebagus itu. Aku melihat nggak cuma aku atau satu dua orang yang nangis. Banyak penonton di sampingku yang juga tersedu,” ungkapnya.

Ketika perempuan independen “dipaksa” kalah oleh pilihannya

Sampai Nanti, Hanna! mengikuti kisah Hanna (Febby Rastanty), aktivis pers kampus yang terpaksa bertahan dari kekangan ibunya. Hanna punya hubungan rumit dengan Gani (Juan Bio One); mereka sama-sama menyimpan rasa, tapi tak pernah terungkap.

Di tengah dinamika kehidupannya, Hanna yang terkenal ulet dan kritis terpaksa menikah dengan Arya (Ibrahim Risyad). Hanna memilih jalan hidup ini agar segera terbebas dari kungkungan ibunya. Sebab, setelah menikah, Arya menjanjikannya untuk tinggal di Belanda dan melanjutkan kuliah S2.

Sampai Nanti, Hanna!: Ketika Perempuan “Dipaksa” Memilih Hubungan Toksik.MOJOK.CO
Hanna terpaksa kalah dengan pernikahan (Mojok.co/dok. Sampai Nanti, Hanna – IMDB)

Alhasil, Hanna harus meninggalkan Gani di Bandung dengan semua perasaan yang belum pernah terungkapkan. Perpisahan pedih dan penuh tangis pun harus mereka jalani.

Sayangnya, selepas menikah Hanna tak mendapatkan kebebasan sebagaimana yang dia bayangkan. Hidup sebagai seorang istri, dia terpaksa bertahan dengan sifat asli Arya yang ternyata sangat toksik. Kekerasan verbal kerap dia terima.

Iklan

Apalagi, selepas punya anak, beban Hanna bertambah. Selain harus melayani Arya dengan sikap acuhnya pada keluarga, Hanna juga harus mengurus sang bayi. Sampai di titik dia mengalami baby blues, tapi tak punya tempat untuk bercerita maupun meminta bantuan.

Kisah dala Sampai Nanti, Hanna! dialami banyak orang

Sepanjang pemutaran film, tokoh memang menjadi pusat perhatian. Sang sutradara, Agung Sentausa, mengaku tokoh Hanna memang representasi banyak orang.

“Kisah ini berangkat dari kenyataan, yang banyak dialami orang-orang di luar sana,” kata Agung, dalam sesi QnA yang dihelat setelah pemutaran film.

“Salah memilih pasangan, seperti yang Hanna alami, adalah hal yang berat. Tetapi keberanian untuk keluar dari hubungan yang salah adalah pesan utama yang ingin kami sampaikan,” imbuhnya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Official Account Sampai Nanti Hanna Film (@sampainantihanna)


Selain Agung Sentausa, para pemeran film Sampai Nanti, Hanna! juga membagikan cerita mereka di sesi QnA. Febby Rastanty, misalnya, yang bercerita bagaimana tak mudah memerankan tokoh Hanna. Apalagi, dia harus menjadi karakter yang hidup dalam rasa sakit.

Namun, dia lega karena penonton puas dengan pembawaannya sebagai Hanna. Dengan demikian, pesan dalam film pun tersampaikan dengan baik. 

“Membawa rasa sakit Hanna ke layar lebar bukan hal mudah, tapi itu penting. Banyak orang seperti Hanna yang butuh diingatkan bahwa mereka berhak keluar dari hubungan yang menyakiti mereka,” ungkapnya.

Sementara Bio One, juga memberikan pandangannya tentang perannya sebagai Gani–laki-laki yang mengalami “kasih tak sampai” dengan Hanna.

“Film ini ngajarin kita soal pilihan. Kita bisa memilih jadi orang yang menyakiti, atau memilih jadi orang yang membantu orang lain untuk memulai lagi. Gani adalah contoh bahwa mencintai itu nggak harus buru-buru, tapi harus tulus, bahkan kalau itu berarti menunggu kesempatan kedua,” jelasnya.

Selain Agung, Febby, dan Bio One, sesi tanya jawab juga dihadiri Ary Zulfikar (Produser Eksekutif), Dewi Umaya (Produser), dan Swastika Nohara (Penulis Skenario). Sampai Nanti, Hanna! juga diumumkan akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 5 Desember.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Netflix dan JAFF Membibit Talenta Perfilman Indonesia Melalui REEL LIFE Film Camp

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 5 Desember 2024 oleh

Tags: film jaffjaffjaff 2024sampai nanti hanna
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Netflix dan JAFF Membibit Talenta Perfilman Indonesia Melalui REEL LIFE Film Camp.MOJOK.CO
Seni

Netflix dan JAFF Membibit Talenta Perfilman Indonesia Melalui REEL LIFE Film Camp

3 Desember 2024
Ngobrol Perkembangan Dunia Sinema Indonesia dan Film 'Dirty Vote' Bersama Presiden JAFF
Video

Membicarakan Dunia Sinema Indonesia dan Popularitas Film ‘Dirty Vote’ Bersama Presiden JAFF

14 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.