Lebaran ini, film anak berjudul Na Willa meramaikan bioskop Indonesia. Mengisi ruang-ruang bioskop bersama film Lebaran yang kerap didominasi film horor, Na Willa menjadi angin segar sekaligus sebenar-benarnya pilihan film keluarga—bisa membawa anggota keluarga segala usia untuk menyaksikannya bersama, untuk menghidupkan suasana hangat bersama anak-anak dan inner child para dewasa yang mati suri.
***
Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler
Film Na Willa (2026) mengisahkan petualangan Na Willa. Gadis berusia enam tahun yang dipanggil Willa ini percaya dunia kecilnya di sebuah gang di Surabaya adalah tempat paling sempurna dan magis.
Bukan satu kali saja, Willa bilang, kira-kira begini, “Aku ingin begini saja selamanya.”
Sebab, dunia Willa penuh keajaiban dari kacamatanya. Ada Erres—radio yang memutar nyanyian Lilis Suryani—kios Ciek Mien tempatnya dititipkan Mak saat berbelanja di pasar—Willa selalu mendapat minuman gratis menyegarkan di sana—dan tentunya tidak ketinggalan ketiga teman baik Willa, yaitu Farida, Dul, dan Bud.
Namun perlahan, kehidupan Willa tidak lagi sama. Perubahan-perubahan kecil terjadi pada kehidupan Willa, mengajarkan sesuatu yang besar untuknya yang masih belajar mengenal dunia.
Pintu masuk ke dunia anak-anak yang sederhana
Sebelum itu, jangan bayangkan perubahan di kehidupan Willa akan mengejutkan dan memutarbalikkan dunia. Ia jelas tidak bombastis. Tidak juga membuat penonton melompat di kursi saking keheranan
Justru, film Na Willa akan membuatmu berpikir: oh, begitu ya?

Seperti ketika film ini dibuka dengan narasi perkenalan Willa. Ia ingin setinggi Pak, suka pisang, berusaha mengambilnya dengan kursi sebab masih terlalu kecil untuk menjangkau langsung, dan ingin punya rambut gelombang seperti Mak.
Kalau dipikir-pikir, lompatan pikir Willa tidak begitu runut. Akan tetapi, tidak juga terlalu jauh. Semua berada di sekeliling Willa, keinginan tumbuh seperti Mak ketika dewasa juga muncul dari kedekatannya dengan sang ibu sebagai figur yang menemaninya setiap hari.
Danah Boyd, dalam bukunya yang berjudul It’s Complicated: The Social Lives of Networked Teens (2014), menyinggung hal ini. Tidak secara langsung, tapi pikiran anak-anak bisa dikatakan tidak sama dengan pikiran dewasa.
Dalam tulisannya, Boyd menyebut pikiran remaja tidaklah kompleks. Pikiran anak-anak, tentu lebih sederhana lagi.
Boyd memberikan contoh yang berkaitan dengan keterhubungan anak kepada teknologi, tetapi dalam kehidupan sehari-hari sejatinya ini bisa dipahami dengan mudah: kita telah salah mengartikan anak-anak, sebab tidak mencoba melihat dari kacamata mereka.
Film Na Willa, sederhana, tetapi cukup magis
Begitu Willa mengatakan ingin punya rambut gelombang seperti Mak, misal, ia bereaksi terhadap ketidaksetujuan dari Mbok. Bahwa rambutnya tidak bisa seperti Mak.
“Mbok, kalau besar nanti rambutku bisa seperti Mak?”
“Ya, ndak bisa…”
Willa menangis. Reaksi sederhana, yang kalau dewasa ini akan lebih mudah diwujudkan dalam bentuk kata-kata tajam atau amarah.
“Tapi, aku seperti Mak!”
“Willa, hei. Ada apa, kenapa kamu?”
“Mbok…”
“Kamu apakan dia?”
“Non bilang kalau sudah besar, mau ikut Nyonya rambutnya keriting. Biasanya yang mirip ibunya itu kan anak lanang (laki-laki) toh.”
Lalu untuk menenangkannya, Mak yang datang ke dapur—ruang percakapan Willa dan Mbok terjadi ditemani pisang di genggaman Willa—tidak harus melakukan banyak.
Tangis Willa bisa dihentikan dengan keyakinan, bahwa bagaimanapun dirinya nanti bertumbuh tidak mengubah faktanya sebagai anak Mak dan Pak.
“Kamu anak Mak dan Pak. Nanti kamu akan tumbuh tinggi seperti Pak dan rambutmu bisa seperti Mak.”
“Kalau rambut Willa tetap seperti ini?”
“Tidak, Willa tidak akan begini terus. Pasti nanti ada yang berubah. Kalaupun nanti rambutmu tetap jadinya lurus, kamu tetap anak Mak dan Pak.”
“Betul, Mak?”
“Betul.”
Sebab yang terlewat dari kehidupan dewasa ini, bahkan anak-anak yang merengek meminta perhatian, adalah diberikannya cukup keyakinan bahwa mereka akan selalu dikasihi.
View this post on Instagram
Merangkul inner child dengan film anak
Dari scene pembuka itu, begitulah film garapan sutradara Jumbo (2025), Ryan Adriandhy, ini berjalan. Penuh kesederhanaan, tetapi tidak akan bisa dikatakan “sederhana” untuk menggambarkannya.
Pilihan warna yang terang menyorot bagaimana Willa memandang dunia dengan penuh harap dan antusias sebagai anak-anak, sampai pengambilan gambar eye-level Willa mengantarkan kita pada cara melihat dunia dewasa dari sudut pandangnya.
Konflik dalam film Na Willa juga tidak begitu dahsyat, tapi penting untuk Willa, untuk film anak ini. Masalah pertemanan dan pertumbuhan karakter menjadi dua isu yang disoroti. Keduanya menyatu dalam payung besar: bagaimana Willa akan bertumbuh?
Bisa jadi dengan ayam kuning kecil sekali sebagai bentuk belajar tanggung jawab, bisa juga dengan berkata jujur setelah lari dari sekolah agar tidak perlu merasa ada kerikil di kakinya.
Menariknya, Willa menunjukkan solusi kedua permasalahan ini dengan gamblang dan mudah. Soal tanggung jawab memberi makan ayam kuning kecil sekali, ia mengambil sepiring nasi dan lauk untuk ditaruh di dalam kandang. Pikirnya, mungkin, cukuplah untuk mengenyangkan si ayam yang harus diberi makan sehari sekali.
Lalu, Willa diajari untuk berkata benar oleh Mak. Jadi, ketika ibu guru tidak setuju dengan anak-anak yang belum bersekolah, tetapi sudah bisa baca-tulis, Willa berkata jujur soal kemampuannya.
Willa juga berani melawan ketika keyakinannya dipertanyakan, ditertawakan.
Sederhana, tapi saya berani bertaruh kalau sikap ini tidak dipupuk sedari dini sungguh generasi nrimo ing pandum yang akan tumbuh di kemudian hari. Menyaksikan Willa yang ditanamkan keberanian ini, secara tidak langsung mengobati inner child—sisi kanak-kanak yang lebih sering diminta diam oleh orang dewasa.
Sebuah survei yang dilakukan American Pyschological Association menemukan, 82 persen orang dewasa yang menonton film anak nyatanya mendapatkan pengalaman hidup yang berharga. Pengalaman ini berhubungan dengan inner child, yang didefinisikan sebagai bagian dari dalam diri yang mewakili sisi anak-anak yang mencerminkan pandangan individu kepada dunia sedari kecil.
Tumbuh dewasa, konsep yang menggambarkan aspek psikologis ini kekal berpengaruh. Inner child membentuk cara berpikir, merasa, serta berperilaku di kemudian hari. Ketika ia mengalami luka, maka barang tentu dampak menganga selama tidak diobati
Di sinilah, film animasi Jumbo (2025) sebagai misal, yang menyoroti persahabatan dan keberanian, menjadi contoh dalam mengingatkan akan kebenaran mendasar yang sering dilupakan di kehidupan dewasa yang cepat, melelahkan, serta cenderung mengerikan.
Memberi ruang bernapas dari komodifikasi ketakutan tiap Lebaran
Sebab yang mengerikan dari film Na Willa hanyalah saat Willa menunggu respons Mak terhadap kejujurannya. Willa menduga-duga, Mak akan memukul atau mencubitnya.
Menyenangkan mendengar isi hati Willa yang sekiranya berbunyi: dipukul atau dicubit ya aku kan sudah buat Mak marah. Aduh, cepat Mak, apa hukumannya?
Sama halnya saat Willa bertanya-tanya bagaimana Mak bisa tahu kalau Cik Mien memberinya Oranyekruz, padahal minuman itu menyisakan jejak keorenan di sekitar bibirnya.
Pemikiran Willa sebagai anak-anak dicerminkan lugu. Kesimpulan yang dibuatnya juga lugu, seperti saat Willa heran melihat Mbak Tin—kakak Farida—yang menangis saat akan menikah.
“Kalau jadi pengantin memang musti begitu, nangis,” Farida memberitahunya.
Lalu, Mak memberi tahu Willa kalau menikah (Willa ingin karena melihat Mbak Tin) tidak seindah yang dibayangkan, Willa harus berhenti bermain dan mengurus rumah setelah menikah.
Pemikiran enam tahun Willa sontak menyahut, “Pantas Mbak Tin menangis.”
“Kalau begitu, Willa tidak mau menikah.”
Melihat situasi tragis dalam film Na Willa dikemas sebaliknya, magis, memantik perasaan untuk lebih menikmati kehidupan sebagaimana mestinya. Sebagaimana Dul dan Willa justru bernyanyi dengan kaki palsu Dul setelah kecelakaan kereta alih-alih berduka. Sikil Dul iso muni [Kaki Dul bisa bunyi] dielu-elukan sebagai penawaran cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan, dari kacamata anak-anak yang polos.
View this post on Instagram
Namun sejatinya, kengerian dari film yang diadaptasi dari karya Reda Gaudiamo ini berhenti sampai di sana. Tidak mengganggu, masih bisa dinikmati.
Berbeda dengan pilihan film yang didominasi genre horor, seperti tercatat bahwa 40,16 persen film Indonesia didominasi genre horor pada tahun 2023. Lebaran kali ini, film horor juga tidak ketinggalan dari layar melalui Suzzana: Santet Dosa di Atas Dosa dan Danur The Last Chapter.
Seakan-akan mengkomodifikasi rasa takut, kini ketakutan terhadap hantu tidak lagi menjadi satu-satunya yang diperdagangkan. Ketakutan terhadap kehidupan, seperti dalam Tunggu Aku Sukses Nanti yang mengangkat betapa menakutkannya tuntutan hidup dewasa, sudah juga masuk dalam daftar nilai emosi yang bernilai jual.
Maka, film anak seperti ini sungguhlah menyegarkan. Sebab, barangkali seperti Willa yang berani, meski naif, sesekali kita perlu bersikap mengalir dan tenang saja dalam menjalani kehidupan ini.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: “Tunggu Aku Sukses Nanti”: Ketika Sandwich Generation Bermimpi, Orang Lain Tak Kehabisan Cara Buat Mencaci dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














