Jalan-jalan ke 6 Negara di Eropa dengan Beasiswa Erasmus, Mahasiswa Unair Ini Dapat Pembelajaran Berharga dari Sekadar Belajar Musik

ilustrasi - Kenny Simorangkir kuliah di Krakow University of Economics (UEK), Polandia, Eropa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Sudah berkali-kali Kenny Simorangkir mendaftar beasiswa lewat berbagai aplikasi tapi tak kunjung membuahkan hasil. Namun, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair) itu tidak menyerah hingga akhirnya mendapat kesempatan belajar di Krakow University of Economics (UEK), Polandia, Eropa lewat program Erasmus+ Student Mobility.

Dari penolakan beruntun menuju Eropa

Ditolak beasiswa berkali-kali bukan berarti Kenny tak mampu kuliah di luar negeri. Sebelum lolos program Erasmus+ Student Mobility, Kenny sempat diterima di New York University (UNY) untuk menempuh program sarjana Music Business. 

Hanya saja, mahasiswa FEB Unair itu tidak mengambil kesempatan tersebut karena keterbatasan finansial. Kenny pun mencari informasi lainnya di laman Airlangga Global Engagement, hingga menemukan program Erasmus+ Student Mobility.

Setelah melewati seleksi yang panjang, Kenny akhirnya diterima di Krakow University of Economics (UEK), Polandia, Eropa untuk mendalami minat lamanya di industri musik global. 

“Program mobilitas ini memberi saya kesempatan untuk belajar di luar negeri dan membangun koneksi dengan para profesional di industri musik Eropa,” tutur Kenny dikutip dari laman resmi Unair, Rabu (24/6/2026).

Lebih dari sekadar musik: Belajar perilaku orang Eropa

Selama kuliah di UEK, Polandia, Eropa pada Februari hingga Juni 2026, Kenny mengaku ada banyak perspektif baru yang dia dapat. Misalnya, bagaimana budaya dan pengalaman dari tiap orang berbeda dapat mempengaruhi perilaku konsumen. 

“Seseorang bisa saja memberikan rating lima dari lima untuk sebuah restoran, meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya puas, sementara orang lain mungkin memberi nilai empat meskipun mereka menikmati pengalaman tersebut,” ujarnya.

Bahkan dalam mata kuliah Creativity Techniques in Project Management, Kenny belajar bagaimana kreativitas dapat diintegrasikan secara sistematis ke dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek pada seorang musisi.

“Mata kuliah ini membantu saya menjembatani kreativitas dengan eksekusi yang lebih teknis,” katanya.

Lebih-lebih, pembelajaran yang dia dapatkan di UEK, Eropa tak hanya soal materi atau workshop, melainkan juga praktik. Tugas-tugas berbasis proyek pun mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi topik yang benar-benar mereka minati.

Dalam salah satu mata kuliah, Kenny bahkan menulis policy paper mengenai Indonesia International Student Mobility Awards (IISMA) dengan dukungan dosen yang menurutnya sangat kolaboratif dan responsif.

“Mereka sangat terbuka untuk berdiskusi dan selalu siap membantu,” kenangnya.

Temukan esensi belajar di luar ruangan kelas

Lebih dari itu, pelajaran paling berharga justru Kenny peroleh dari luar ruang kelas. Seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya kuliah di luar negeri, Kenny juga menyempatkan diri untuk mengunjungi 6 negara di Eropa selain Polandia. 

Salah satu negara yang menurutnya paling berkesan adalah Aarhus, Denmark ketika dirinya menjadi relawan dalam sebuah konferensi musik. Selain bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat sama, dia juga terkesan atas keterbukaan mereka.

Kenny sempat gagal beasiswa beruntun hingga lolos Erasmus untuk kuliah di Eropa. MOJOK.CO
Kenny sempat gagal beasiswa beruntun hingga lolos Erasmus untuk kuliah di Eropa. (Sumber: Unair)

“Yang paling berkesan bagi saya adalah betapa kolaboratif dan terbukanya lingkungan tersebut, meskipun semua orang berasal dari negara dan latar belakang profesional yang berbeda,” ucap mahasiswa Unair tersebut.

Sebabnya, dia mengaku sempat kesulitan untuk membangun hubungan lebih dekat dengan orang-orang di Eropa, mengingat budaya mereka lebih pendiam dan tertutup dibandingkan Indonesia yang menjunjung budaya ramah tamah.

Alih-alih takut untuk menyapa, Kenny justru memberanikan diri untuk bertanya guna memenuhi rasa penasarannya. Jika ada sesuatu yang tidak jelas, Kenny akan langsung bertanya, mengonfirmasi, atau mencoba sendiri daripada hanya ragu-ragu.

“Pengalaman ini semakin menguatkan minat saya untuk bekerja di lingkungan global, tempat saya dapat menghubungkan berbagai audiens melalui storytelling dan strategi pemasaran,” ucapnya.

Menembus dinginnya warga eropa dengan tidak takut bertanya

Lewat cara di atas, tak perlu waktu lama bagi Kenny untuk beradaptasi di Eropa. Pada hari ketiga, dia langsung merasa nyaman, bahkan menganggap Kraków seperti rumahnya sendiri. 

“Saya belajar untuk tidak mengartikan sikap netral sebagai sesuatu yang dingin atau tidak ramah. Itu hanyalah bentuk ekspresi sosial yang berbeda,” ucapnya.

Barangkali, kata dia, ada karakter orang yang lebih menyukai komunikasi secara langsung karena menganggap lebih efisien. Namun, ada pula yang lebih nyaman dengan diskusi panjang.

“Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa apa yang selama ini kita anggap ‘normal’ sebenarnya sering kali merupakan konstruksi budaya, bukan sesuatu yang universal,” refleksinya.

Pulang ke Indonesia dengan pola pikir yang terbuka

Pada akhirnya, kuliah di UEK, Polandia, Eropa tak hanya meningkatkan kemampuan Kenny secara akademik tapi sebagai bentuk pengembangan diri. 

Lewat perjalanannya seorang diri, bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara di Eropa, bahkan membawakan lagu ciptaannya sendiri dalam sebuah acara Erasmus, turut mendorongnya keluar dari zona nyaman.

“Saya belajar bahwa saya mampu menghadapi tantangan secara mandiri, bahkan ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana,” ujarnya.

Sekembalinya ke Indonesia, Kenny berharap dapat membawa pola pikir yang lebih terbuka dan kolaboratif, terutama dalam menghadapi perbedaan budaya. Sebagai mahasiswa asal Batak yang menempuh pendidikan di Unair, Surabaya, dia percaya pentingnya skill mendengarkan dan beradaptasi.

Oleh karena itu, dia berpesan bagi mahasiswa yang tertarik mengikuti program Erasmus+ di masa depan, terbukalah terhadap ketidaknyamanan dan ketidakpastian, karena di situlah sebagian besar proses belajar terjadi.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version