Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

Ilustrasi - Brain rot (Mojok.co/Ega Fansuri)

Membaca menjadi kemampuan paling mendasar yang dibutuhkan mahasiswa untuk bisa bertahan, bahkan lulus dari bangku kuliah. Namun, sebagian orang mengatakan, terjadi penurunan pada mahasiswa gen Z yang mengalami brain rot sehingga tak bisa melakukan kegiatan literasi dengan baik.

***

Laporan Fortune meriliskan fenomena mahasiswa gen Z dengan kemampuan literasi yang buruk. Profesor Sastra, Jessica Hooten Wilson, mengatakan dirinya menemukan mahasiswa gen Z yang bahkan tidak dapat membaca satu kalimat utuh.

“Bukan cuma tidak mampu berpikir kritis, ini juga ketidakmampuan untuk membaca kalimat,” kata dia, dikutip Kamis (23/4/2026).

Pengajar di Pepperdine University ini mengatakan, dia berujung harus membacakan semuanya seakan-akan menyuapi materi perkuliahan kepada para mahasiswa. Sebab, mereka tidak membaca materi pada malam sebelumnya.

Ditambah, mereka bahkan tidak dapat memahami kata-kata yang tertulis dalam materi kuliah.

Meski ada kesalahan masing-masing dalam hal ini, ketidakmampuan gen Z tidak serta-merta muncul. Setidaknya mereka mencapai titik brain rot ini karena terlalu sering disuapi dalam belajar-mengajar, serta adanya AI yang mempermudah segalanya. Ibarat kata, kalau ada yang mudah, ngapain repot?

Terlalu sering disuapi, mahasiswa gen Z tidak bisa mandiri ketika kuliah

Katakan selama kegiatan belajar-mengajar di sekolah, siswa terbiasa dijejali materi oleh guru secara langsung. Selama itu, mereka merasa tidak perlu belajar mandiri dan memahami materi pembelajaran terlebih dahulu.

Kebiasaan inilah yang secara tidak langsung membentuk kepribadian pelajar yang terbiasa disuapi alih-alih belajar sendiri. Mereka juga diperparah dengan konsumsi berbagai hal yang cepat dan singkat, seperti video pendek atau pemberitaan. Alhasil, tidak ada kebutuhan konsentrasi dan pemahaman mendalam dalam kebiasaan sehari-harinya.

Akibat jangka panjangnya, mereka yang tergolong sebagai generasi Z berdasarkan usia ini kehilangan kemampuan mendasar yang dibutuhkan dalam belajar.

Salah seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Bunga (24), menyetujui hal ini. Ia mengatakan, mahasiswa saat ini bukan tak bisa membaca. Melainkan, mereka kesulitan dalam memahami bacaan karena perubahan kebiasaan yang menghilangkan kemampuan itu.

“Mungkin bukan nggak bisa baca, tapi lebih ke memahami bacaan. Mungkin ada hubungannya juga sama digitalisasi sekarang karena kebanyakan pada konsumsi media cepat, kayak terlalu sering terpapar video pendek,” kata dia kepada Mojok, Rabu (22/4/2026).

Perempuan ini mengatakan, konten semacam itu memperparah kebiasaan generasi Z yang tidak akrab dengan kegiatan membaca dalam belajar. Mereka menjadi semakin kesulitan untuk berkonsentrasi secara mendalam karena proses penyerapan informasi terjadi secara cepat. 

“Jadinya malah susah konsentrasi atau fokus panjang, jadinya otak lebih sering scanning cepat daripada memahami secara mendalam,” kata dia.

Hasil PISA 2022 yang diterbitkan pada Desember 2023 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat terendah ketiga. Skor membaca siswa Indonesia hanya mencapai 359, menunjukkan kesulitan mereka dalam memahami teks yang kompleks. 

Sudah ada teknologi canggih, gen Z tidak mau repot

Tidak cukup sampai dengan kebiasaan yang membentuk ketidakmampuan, perkembangan teknologi membuat ketidakmampuan gen Z menjadi lebih parah. 

Survei Chegg pada tahun 2025 menunjukkan mayoritas mahasiswa di seluruh dunia menggunakan AI dalam mendukung perkuliahan mereka. Empat dari lima mahasiswa sarjana (S1) melaporkan bahwa mereka menggunakan AI, menghasilkan persentase hingga 80 persen.

Di Indonesia, angka ini meningkat pesat. Indonesia bahkan menempati posisi pertama dengan mahasiswa paling banyak yang menggunakan AI dengan besaran 95 persen berdasarkan survei.

Survei penggunaan AI pada mahasiswa (Sumber: Chegg Survey 2025)
Survei penggunaan AI pada mahasiswa (Sumber: Chegg Survey 2025)

Menurut Bunga, penggunaan AI memang menawarkan kemudahan dalam mendukung perkuliahan. Hal ini membuat sebagian mahasiswa menyalahgunakannya untuk menghindari keharusan membaca dan memahami sendiri.

Ia bercerita, kerap menyaksikan mahasiswa langsung melemparkan materi perkuliahannya ke AI tanpa membaca terlebih dulu. Malah, mereka baru akan membaca rangkuman yang telah diberikan AI dalam bentuk yang lebih singkat, serta bahasa yang diminta lebih mudah—bahasa bayi, istilahnya.

“Orang-orang jadi ketergantungan sama ringkasan, kayak kalau dikasih bacaan panjang langsung drop file dan tolong ringkas dan jelaskan materi ini dengan bahasa bayi. Jadi, kurang mau buat baca keseluruhan dan cari sendiri maksud dari bacaan panjang tersebut,” kata dia. 

Lita (bukan nama sebenarnya) (24) yang juga merupakan seorang mahasiswa di salah satu PTN di Jogja mengaku hal ini. Ia mengatakan, tidak memiliki waktu dan tenaga yang cukup untuk membaca dan memahami seorang diri.

Maka dari itu, Lita sudah tidak asing dengan pemanfaatan teknologi AI dalam perkuliahan sehari-hari. Ia akan memberikan materi yang seharusnya dibaca kepada AI, kemudian membaca hasil ringkasannya.

“Kalau aku nggak ada waktu dan tenaga, jadi kadang ngasih ke AI bukunya dan minta diringkasin,” kata dia kepada Mojok, Rabu (22/4/2026).

Malas berujung brain rot 

Kebiasaan ini menunjukkan bahwa mahasiswa gen Z bukan tidak bisa membaca. Lebih parah, sebagian dari mereka tidak mau atau memang memilih untuk tidak membaca.

Itulah yang mengakibatkan kemampuan membaca mahasiswa gen Z menurun. Hanung (22) yang merupakan mahasiswa UGM, sekaligus tutor bagi mahasiswa lainnya, bercerita bahwa ia kerap menemui ketidakmampuan membaca ini berdampak pada kemampuan literasi secara keseluruhan.

Skill literasi kayak menulis, membaca gitu, apalagi tulisan itu udah AI itu benar-benar membuat anak-anak S1 sekarang ya itu kayak susah menulis yang baik,” kata dia.

Mengamati teman-teman sebayanya, Hanung mengatakan, mereka mengutamakan hasil yang cepat dalam segala prosesnya. Sementara itu, membaca membutuhkan proses yang panjang dan dilakukan secara perlahan.

Sebagai contoh, kata dia, mahasiswa gen Z kerap mengonsumsi video cepat dengan durasi yang singkat sehingga mereka cenderung memperoleh hasil dalam satu kedipan mata. Ini mengakibatkan dampak lebih lanjut, seperti brain rot yang merujuk pada penurunan kemampuan fokus dalam membaca.

“Ada juga gen Z yang kayak mereka ingin mudah dan cepat dan itu didorong oleh kebiasaan mereka dalam konsumsi media kayak konsumsi video cepat, durasi pendek singkat, informasinya langsung blung blung, sementara proses membaca itu kan perlu pelan-pelan,” kata dia.

Bahkan, sebagian dari mereka yang sudah menggunakan AI untuk mempercepat proses, tidak jarang juga melewatkan pembacaan itu secara menyeluruh. Hanung bilang, mereka bisa jadi juga tidak membaca hasil akhirnya.

“Daya baca itu lemah banget, jadi mereka oke bisa baca, tapi apakah mereka kuat untuk membaca tulisan yang panjang gitu tanpa sabar untuk segera menuju ke akhirnya?” kata dia.

“Nah itu yang menjadi pertanyaan bahkan untuk membaca hasil akhir tugas mereka sendiri aja mereka gak lakukan itu, kayak mereka mengecek tugas mereka, hasil tulisan mereka untuk dinilai, di-review apakah ini udah cocok, itu mereka gak lakukan, apalagi membaca sebuah buku dan lain sebagainya,” tambahnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag” dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version