ADVERTISEMENT

Dosen Muda: Tempat Curhat Dadakan Mahasiswa Tua dan Penyelamat Mahasiswa Abadi

dosen muda

Menjadi dosen muda ternyata tidak selalu soal berdiri di depan kelas. Bagi Laga Adhi Dharma S.S., M.A. (38), menjadi dosen di Jurusan Sastra Indonesia FSBK UAD juga berarti menjadi tempat mahasiswa bercerita tentang hidup mereka. Terutama mahasiswa yang sudah cukup lama kuliah, sudah bekerja, dan perlahan kehilangan teman seperjuangan karena kawan-kawannya lebih dulu lulus.

***

Saya mengenal Laga sebagai dosen saya sendiri. Ketika saya bertanya bagaimana rasanya menjadi dosen muda dan menghadapi mahasiswa yang sudah berumur, ia justru mengoreksi satu kata yang saya gunakan.

“Bukan beban, tapi tantangan menjadi dosen muda,” katanya melalui sebuah pesan suara WhatsApp, Jumat (18/09/2026).

Mahasiswa yang datang tidak hanya membawa persoalan akademik

Menurut Laga, mahasiswa senior memiliki persoalan yang berbeda dibanding mahasiswa yang baru masuk kuliah. Banyak dari mereka sudah bekerja dan mempunyai kehidupan sendiri di luar kampus.

Masalahnya, pekerjaan tersebut kadang membuat kuliah mereka tercecer.

“Bekerja ini bagus sebenarnya untuk pengalaman dan lain sebagainya. Tapi menjadi masalah ketika akhirnya kuliahnya menjadi tercecer,” ujarnya.

Persoalan akademik itu, menurut Laga, sering kali berawal dari masalah nonakademik. Kesibukan bekerja, persoalan ekonomi, hubungan dengan orang tua, sampai kehidupan sehari-hari dapat membuat mahasiswa kehilangan fokus menyelesaikan kuliah.

Di titik tersebut, dosen akhirnya tidak hanya berhadapan dengan tugas, KRS, skripsi, atau nilai. Ada kehidupan mahasiswa yang ikut masuk ke ruang percakapan.

Laga bahkan beberapa kali mendatangi tempat kerja mahasiswa karena sulit ditemui di kampus. Pernah ia datang, tetapi mahasiswa yang dicari tidak ada.

Ketika akhirnya bisa bertemu, ia baru mengetahui tangan mahasiswa tersebut melepuh karena bekerja sebagai koki di sebuah warung atau restoran.

Cerita seperti itu membuat persoalan kuliah menjadi tidak sesederhana mahasiswa malas mengerjakan tugas.

Ketika Dosen Ikut Mencari Mahasiswa ke Tempat Kerja

Saya pernah menjadi mahasiswa yang dicari Laga. Bukan karena mendapat nilai jelek atau membuat masalah di kelas. Waktu itu saya sedang sibuk bekerja. 

Kesibukan tersebut membuat perhatian saya terhadap kuliah di UAD sedikit berantakan. Saya mulai jarang mengikuti perkuliahan dan beberapa urusan akademik ikut tercecer.

Suatu ketika, Laga menanyakan kabar saya melalui komentar di Instagram. Saya cukup kaget. Kami memang pernah berinteraksi sebagai dosen dan mahasiswa, tetapi saya tidak menyangka beliau sampai mencari tahu keadaan saya lewat media sosial.

“Mas Janu ke mana? Gimana kabarnya?” kurang lebih begitu perhatian yang saya terima dari beliau.

Dari situ saya kemudian bercerita. Masalah saya ternyata tidak cuma soal kuliah. Ada pekerjaan yang harus saya jalani, ada urusan di luar kampus, dan ada kondisi pribadi yang membuat saya harus membagi perhatian.

Ia ternyata memang cukup sering melakukan hal serupa kepada mahasiswa yang kuliahnya mulai tercecer. 

Ada mahasiswa yang harus membagi waktunya antara kuliah dan pekerjaan. Ada pula yang sudah memperoleh penghasilan cukup baik, tetapi justru kehilangan semangat untuk menyelesaikan studi.

Laga pernah menemukan kondisi seperti itu.

“Sudah mendapatkan gaji yang cukup bagus, stabil dan lain sebagainya. Tetapi memang secara spirit untuk menyelesaikan studi akhirnya angot-angotan,” tuturnya.

Karena itu, pendekatan Laga tidak selalu formal. Ia memilih mengajak mahasiswa ngobrol santai. Kadang bertemu di kampus, kadang mendatangi tempat kerja, bahkan sekadar jagongan di tempat yang disepakati.

Bagi Laga, percakapan semacam itu bisa menjadi ruang bagi mahasiswa untuk kembali melihat persoalannya dari sudut pandang berbeda.

Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai ruang berdiskusi atau berdialektika. Mahasiswa yang sebelumnya tidak punya teman untuk bercerita akhirnya memilih dosen sebagai tempat mendapatkan sudut pandang lain.

“Barangkali mungkin akan mendapatkan point of view yang berbeda kalau itu diceritakan atau dicurhatkan kepada dosennya,” katanya.

Dosen muda juga punya pekerjaan yang tidak terlihat orang

Cerita Laga tentang mendatangi mahasiswa sebenarnya menunjukkan satu sisi pekerjaan dosen yang sering tidak terlihat dari luar.

Di depan mahasiswa, dosen mungkin hanya tampak mengajar beberapa jam dalam seminggu. Namun pekerjaan akademik tidak berhenti ketika kelas selesai.

Pada 2025, Kompas melaporkan rata-rata jam kerja dosen PTN mencapai 69,64 jam per pekan berdasarkan survei terhadap 36 dosen PTN di 23 provinsi. Sebanyak 22 persen responden bekerja 81–100 jam per minggu, sedangkan 11 persen lainnya lebih dari 100 jam.

Persoalannya bukan hanya mengajar. Dosen juga memiliki tanggung jawab penelitian, pengabdian kepada masyarakat, administrasi, dan berbagai kewajiban institusional.

Detik juga pernah menyoroti bagaimana dosen muda menghadapi pekerjaan administrasi dan kepanitiaan yang dapat menyita waktu untuk melakukan penelitian.

Laga mengalami bentuk tantangan yang berbeda. Di satu sisi ada penelitian, pengabdian, dan tanggung jawab kepada perguruan tinggi. Di sisi lain, ada mahasiswa yang membutuhkan waktu untuk didengarkan.

“Memang akhirnya secara energi yang terkuras di situ juga,” katanya.

Namun Laga tidak menyebutnya sebagai beban.

Ada mahasiswa yang sudah di ujung tanduk, namun kembali semangat dan berhasil

Bagi Laga, percakapan dengan mahasiswa baru terasa hasilnya ketika mahasiswa tersebut kembali memiliki alasan untuk menyelesaikan kuliah.

Ada mahasiswa yang akhirnya berhasil lulus meski sudah berada di “pinggir jurang”. Ada pula yang tetap gagal karena persoalan hidup dan kesibukan yang tidak bisa dihindari.

“Tidak semua ijazah itu memang akhirnya membuat dia langsung sukses dan menjamin, ya enggak,” kata Laga.

Menurutnya, gelar bukan jaminan seseorang langsung sukses. Namun pendidikan dapat membuka peluang yang lebih luas untuk mendapatkan pekerjaan ataupun membuka lapangan pekerjaan.

Karena itu, ketika mahasiswa yang sebelumnya kehilangan semangat akhirnya kembali kuliah dan menyelesaikan studinya, Laga merasa mendapatkan kepuasan tersendiri.

Ia bahkan bercerita bahwa tidak hanya mahasiswa yang menghubunginya.

Orang tua mahasiswa pernah datang, menelepon, bahkan meminta bantuan agar anak mereka kembali bersemangat menyelesaikan studi.

Dalam kondisi seperti itu, peran dosen menjadi lebih panjang daripada sekadar mengajar di kelas.

Menjadi dosen muda artinya pintar membagi waktu

Laga tidak menganggap dirinya sebagai penyelamat mahasiswa.

Ia justru melihat perannya sebagai orang yang mencoba memantik kembali semangat mahasiswa ketika mereka sedang kehilangan arah.

“Kalau diajak berdiskusi dan mereka cenderung mau menerima ajakan itu. Cenderung mau dan akhirnya terpantik,” ujarnya.

Menurut Laga, termasuk mahasiswa yang dianggap “bengal” sekalipun masih bisa diajak berbicara. Ia percaya percakapan dapat mengubah cara pandang seseorang, setidaknya terhadap persoalan yang sedang dihadapinya.

Di tengah persoalan kesejahteraan dan beban kerja dosen yang juga menjadi pembicaraan publik, pengalaman Laga menunjukkan sisi lain profesi tersebut. 

Kompas pada 2025 mencatat rata-rata gaji pokok dosen sekitar 1,3 kali upah minimum provinsi. Data itu berasal dari 36 dosen PTN dan tidak dapat digunakan untuk menggambarkan seluruh dosen Indonesia, terutama dosen PTS.

Sementara itu, pemberitaan mengenai dosen muda juga kerap memperlihatkan persoalan beban administrasi dan tuntutan pekerjaan yang tidak sedikit.

Laga menghadapi persoalan itu dengan cara yang sederhana: membagi waktu.

Ada penelitian yang harus dikerjakan. Ada pengabdian kepada masyarakat. Ada tanggung jawab kepada kampus. Tetapi ada pula mahasiswa yang mungkin hanya membutuhkan seseorang untuk diajak bicara.

Pada akhirnya, bagi Laga, keberhasilan menjadi dosen bukan cuma ketika materi kuliah selesai disampaikan.

Ada kepuasan lain ketika mahasiswa yang sempat hampir menyerah akhirnya kembali duduk di bangku kuliah, menyelesaikan studinya, lalu lulus.

“Spirit itulah semangat untuk menyelesaikan dan akhirnya bisa survive dan lulus,” katanya.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.

Exit mobile version