ADVERTISEMENT

Magisnya Festival Musik di Jogja sekaligus Ujian bagi Penyelenggara

Magisnya Festival Musik di Jogja sekaligus Jadi Ujian bagi penyelenggara. MOJOK.CO

Sebagian anak gigs percaya, festival musik di Jogja memberikan pengalaman magis yang tidak didapatkan di kota-kota lain. Sayangnya, mempertahankan kemagisan konser tersebut jadi ujian berat bagi penyelenggara mengingat banyaknya venue ikonik di Jogja yang beralih fungsi.

***

Waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB saat Pramudana Gian (35) terjebak kemacetan di Flyover Janti. Padahal pemuda asal Bantul itu sudah bersiap sejak pukul 16.30 WIB demi mengejar waktu konser di Prambanan. 

Ia sempat memaki-maki dalam hati setelah 2,5 jam tertahan di jalan, karena takut tak bisa menonton band kesukaannya. Dan benar saja, band yang dia sukai sudah menyanyikan lagu terakhir saat Gian akhirnya tiba di venue pukul 19.00 WIB.

Alhasil, Gian memilih untuk menikmati penampilan band lain daripada langsung pulang dan menghadapi kemacetan selanjutnya. Belum berhenti sampai di situ, Gian harus berdiri di atas tanah becek akibat hujan yang masih mengguyur sejak sore. 

Yang lebih menyebalkannya lagi, Gian tak bisa menikmati konser dari belakang, karena banyak penonton di depan panggung yang membuka payung. Tak pelak, pengalaman di konser PLN Mobile Gelegar Musik Prambanan 2024 itu menyisakan trauma bagi Gian. 

Patah hati pertama saat menonton festival musik Jogja

Gian yang sejatinya hobi menonton konser sejak tahun 2005, baru kali ini ragu membeli tiket, bahkan untuk acara sebesar Prambanan Jazz yang punya banyak line-up menarik. Keraguan ini, kata Gian, muncul karena beberapa faktor. 

Pertama, biaya tiket yang harus dibayar dobel yakni tiket konser di Jogja dan tiket masuk candi. Kedua, pengalamannya konser PLN Mobile Gelegar Musik Prambanan 2024 yang memberikan kenangan pahit. Ketiga, ulasan dari teman-temannya yang bikin dia berpotensi kecewa untuk kedua kalinya.

Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026.MOJOK.CO
Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026 (dok. Prambanan Jazz)

“Tapi aku merasa beruntung sih, karena waktu mendengar pengalaman dari teman-temanku yang ikut Prambanan Jazz 2025, mereka banyak yang mengeluh karena over capacity, terus flow antar tiket VIP dan festival kacau, toilet sampai air mineral juga harus antre,” tutur Gian.

“Mungkin bagi gen milenial seperti aku kondisi konser semacam itu terlalu ramai dan capek, bikin sumpek,” lanjutnya.

Padahal, pengalamannya konser Soundrenaline pada tahun 2008 di Prambanan cukup mengesankan. Festival musik yang menjadi puncak dari A Mild Live Soundrenaline di Jogja itu, kata Gian, punya tata panggung yang megah, line-up solid, dan sistem tiket yang aman.

Namun belakangan, ia merasa Alun-alun Utara (Altar) Yogyakarta, Stadion Maguwoharjo, dan Lapangan Kenari adalah tiga venue alternatif yang paling nyaman. Sayangnya, rekomendasi itu kini tinggal kenangan.

Menyusutnya pilihan venue di Jogja

Gian berujar 3 top tier tempat yang dia sebutkan tadi sudah beralih fungsi. Misalnya, Alun-Alun Utara Yogyakarta (Altar) yang mengalami revitalisasi sebagai kawasan sakral sehingga tidak bisa lagi digunakan untuk menggelar konser musik maupun acara hiburan massal.

Begitu pula nasib lapangan utara Maguwoharjo. Area itu dulunya terkenal sebagai venue andalan untuk penyelenggaraan festival musik nasional maupun di Jogja. Bahkan, promotor bisa mendirikan 3 panggung besar sekaligus dalam satu acara. 

Namun, seluruh area lapangan utara tersebut kini telah disulap menjadi Waterboom Jogja (dulu Jogja Bay Waterpark). Tak terkecuali Lapangan Kenari yang lebih dari setengahnya berubah menjadi gedung baru DPRD DIY.

Menutup CherryPop 2024 dengan Seringai dan Ingatan Masa-Masa Gemar Tawuran.MOJOK.CO
Lagu “Puritan” membuka aksi Seringai di CherryPop 2024, Minggu (11/8/2024) malam. (dok. CherryPop)

“Walaupun sisanya masih bisa dipakai konser, kemungkinan bakal jadi bottleneck karena lapangannya jadi sempit,” prediksi Gian.

Sebagai solusi, Gian menyarankan promotor di Jogja untuk mulai memanfaatkan fasilitas militer seperti di kota-kota lain. Misalnya, konser Hey… Slank x HS Berani Kita Beda Tour yang diselenggarakan di Adisutjipto Gravel Sport Centre.

Selalu ada sesuatu di festival musik Jogja

Kekhawatiran soal menyempitnya Lapangan Kenari juga dirasakan Ganesha (30). Penonton Cherrypop Festival 2025 ini mengaku waswas dengan membludaknya penonton di pintu masuk seiring pembangunan gedung DPRD DIY, mengingat kapasitas venue sudah penuh sesak.

“Kalau di dalamnya sih memang padat ya. Terlihat agak overload sih, tapi ngga yang sampai desak-desakan atau nggak bisa gerak banget. Cuma sedikit mengkhawatirkan saja sih misal ada kondisi darurat pasti akan chaos,” ujar Ganesha.

Beruntung, berkat pengalamannya nonton festival musik di Jogja sejak tahun 2020, Ganesha sudah mengantisipasinya dengan datang lebih cepat. Sementara, pengalaman tersebut tak terlalu dia perhatikan saat konser di Jakarta.

“Jakarta tentunya jauh lebih proper soal ini. Mulai dari venue outdoor ataupun indoor di Jakarta semuanya kayanya memang sudah ‘tinggal pakai’, bahkan setelah konser larut malam masih bisa tenang untuk pulang,” kata Ganesha.

teenage death star di cherrypop mojok.co
Suasana konser Teenage Death Star usai tampil di Cherrypop 2022, Jogja (Dok. Cherrypop)

Meski begitu, Ganesha bisa memaklumi perbedaan infrastruktur tersebut. Baginya, daya tarik konser di Jogja bukan pada kemegahan venue, melainkan konsep acara yang lebih dari sekadar panggung hiburan.

“Jogja itu selalu punya wacana menarik. Tidak hanya musik, di banyak acara yang saya kunjungi, konsepnya selalu kontekstual dengan apa yang terjadi hari ini. Ada hal lain yang bisa ‘disimak’,” tutur Ganesha.

Festival musik di Jogja punya daya tawar magis

Antusiasme penonton dari luar daerah seperti Ganesha juga menjadi perhatian pihak penyelenggara musik. Oleh karena itu, selain fasilitas panggung yang bagus, pihak penyelenggara harus mempertimbangkan betul akomodasi dan akses transportasi ke venue.

Creative Director Cherrypop Festival, Arsita Pinandika berujar festivalnya rata-rata dikunjungi 20-30 ribu orang per tahun. Baru pada tahun 2026, penonton lokal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil menyentuh angka 50 persen. Padahal, di tahun-tahun sebelumnya selalu mentok di 30 persen. 

“Artinya, mayoritas pengunjung atau penonton Cherrypop adalah warga daerah atau penonton dari luar kota yang membutuhkan akomodasi, transportasi, serta akses rekreasi wisata,” kata Arsita.

Hal ini juga diamini oleh Gretta dan Talitha, penonton Cherrypop Festival 2026 yang datang jauh-jauh dari luar kota. Keduanya sepakat, kedatangannya di Jogja tak hanya untuk konser tapi juga berwisata.

“Untuk menghindari kemacetan, aku berangkat siang terus cari makan dulu di luar hotel dan lanjut ngopi di sekitaran candi,” kata Gretta yang menginap di ARTOTEL selaku official hotel partner acara tersebut.

Prambanan Jazz 2026. MOJOK.CO
Suasana Prambanan Jazz 2026 saat malam. (sumber: Talitha)

Sementara itu, Talitha memilih menginap di salah satu hotel kawasan Malioboro agar bisa jalan-jalan. Ia pun sengaja naik Trans Jogja seharga Rp3.500 dan lanjut menggunakan becak motor seharga Rp20 ribu menuju Prambanan agar lebih hemat.

“Ini jadi pengalaman baru buatku yang pertama kali nonton festival musik di Jogja dibandingkan saat nonton Jazz Traffic di Surabaya,” kata Talitha.

Perpaduan antara menonton musik, mencoba transportasi umum, hingga menyusuri setiap sudut Jogja nyatanya memberikan sensasi yang tak tergantikan.

Pengalaman autentik semacam itulah yang diharapkan penonton, baik lokal maupun dari luar daerah saat menikmati festival musik di Jogja yang tak bisa ditemukan di kota mana pun. 

Namun, di balik semaraknya festival musik Jogja dan besarnya harapan penonton, penyelenggara justru menghadapi tantangan berat. Salah satunya karena pilihan tempat acara yang semakin sedikit, serta realitas pelik yang jarang tersorot. Simak kelanjutannya di Suara Bawah Tanah bagian kedua.

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari Reportase Khusus Mojok.co Suara Bawah Tanah edisi “Belakang Panggung Festival Musik Jogja”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata atau reportase khusus Mojok lainnya di Suara Bawah Tanah

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.