Banyak orang salah paham dengan mengira bahwa setiap orang yang bekerja di Surabaya, pasti bergaji besar. Logika paling sederhana, Surabaya adalah kota besar, kota metropolitan, maka pastinya menjadi ladang cuan.
Apalagi jika merujuk Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/656/KPTS/013/2023 tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Jawa Timur Tahun 2024, Surabaya menjadi daerah dengan UMK tertinggi di Jatim.
UMK Surabaya yang berlaku per 1 Januari 2024 yakni sebesar Rp4,725,479,00, naik Rp200.000 dari UMK Surabaya tahun 2023 sebesar Rp4.525.479.
Namun kenyataannya, tidak sedikit pekerja-pekerja di Surabaya yang harus megap-megap, bertahap hidup dengan gaji hanya Rp2 juta saja. Bahkan, bisa dapat Rp2 juta sudah untung bagi Afila (25).
Sejak Februari 2023 lalu, Afila bekerja di sebuah percetakan (banner, striker, dan sejenisnya) di Surabaya. Artinya, sudah satu tahun ia bekerja di percetakan tersebut.
Dan ia baru saja merasakan mendapat gaji sebesar Rp2 juta baru-baru ini, setelah beberapa karyawan di kantornya melakukan sedikit “aksi”.
“Sebelumnya cuma Rp1,5 juta. Aku sebagai admin. Gaji segitu rata di semua posisi,” ungkapnya saat Mojok hubungi, Rabu, (21/2/2024).
Tinggal numpang dan ngajar les untuk tambahan
Saat pertama kali interview dengan user, Afila sempat menelan ludah.
“Rp1,5 juta? Njiiir bisa mati di Surabaya.” Begitu yang ada di benaknya.
Akan tetapi, saat itu Afila tak punya pilihan lain. Ia butuh pekerjaan. Setidaknya ada lah pemasukan dalam setiap bulan. Karena ia harus membantu orang tuanya untuk membiayai adiknya sekolah.
Afila menyadari kalau gajinya tersebut sangat-sangat tidak cukup. Maka, Afila pun mau tidak mau harus mencari sumber cuan lain. Yakni dengan ngajar les privat di dua tempat sekaligus.
“Tapi ya tetap, karena aku nyari bukan buatku sendiri, tapi juga buat adik, rasanya tetep ngepres banget,” tuturnya.
Hanya saja Afila masih merasa beruntung. Karena untuk tempat tinggal, ia mendapat tempat tinggal gratis di sekretariat organisasi kampus yang pernah ia ikuti. Label sebagai senior teladan membuatnya mendapat privilege tersebut.
Seandainya ia harus keluar biaya kos, tentu lah akan makin ngepres lagi. Mengingat, saat ini cukup sulit mencari kos murah di Surabaya. Apalagi untuk perempuan. Rata-rata paling murah di harga Rp400 ribu.
“Kalau untuk makan, aku ngasih jatah ke diri sendiri paling nggak sehari cuma Rp20 ribu, untuk dua kali makan, nyari yang paling murah. Jadi ya sudah, nggak ada beli-beli skincare. Buat makan aja empet-empetan,” ujar perempuan tangguh asal Jombang, Jawa Timur itu.
Desainer grafis ingin pegang uang sebesar UMR Surabaya
Keluh kesah serupa juga dituturkan oleh Ikhlas (24), seorang desainer grafis di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti di Surabaya.
Sama halnya dengan Afila, Ikhlas juga sudah satu tahun kerja di perusahaan tersebut.
Namun, alih-alih mendapat kenaikan gaji, saat ini Ikhlas justru dibayang-bayangi dengan pemotongan gaji.
“Pokoknya kalau dalam sebulan nggak mencapai target penjualan, maka potong!,” akunya.
“Uang makan aja sekarang sudah nggak ada,” sambungnya.
Gaji pertama Ikhlas ada di angka Rp1,7 juta+uang makan sebesar Rp15 ribu. Lalu setelah enam bulan berjalan, ia mendapat kenaikan gaji. Gaji yang ia terima kemudian sebesar Rp2 juta persis.
Namun, jika ada potongan-potongan karena target penjualan tak terpenuhi, maka sama saja, yang ia terima paling ya cuma Rp1,8 juta atau Rp1,7 juta lagi.
“Rp2 juta saja sulit (dapatnya), apalagi Rp4 juta (UMR Surabaya),” keluhnya.
“Kadang heran saja, yang kerja dapat UMR Surabaya itu kerja yang kayak gimana dan di mana sih?,” imbuhnya.
Akan tetapi, Ikhlas juga beruntung karena tak keluar biaya kos. Ia orang Surabaya asli. Sehingga setiap hari bisa pergi-pulang (pp) ke kantor. Meski jarak rumah dengan kantornya juga terbilang cukup jauh.
“Yang kemudian jadi tekanan adalah ekspektasi orang tua. Mereka ngiranya gajiku besar. Pas mereka ngutang ke aku dengan jumlah besar, aku nggak bisa ngasih, mereka kayak kecewa,” tuturnya.
Baca halaman selanjutnya…
Omong kosong UMR Surabaya gede