Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Tuban Memang Makin Metropolitan tapi Tetap Tak Bisa Dibanggakan, Gara-Gara Jalan Rusak, Lapangan Kerja Sulit dan Nggak Punya Kampus Elite

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 April 2024
A A
Tuban Tak Bisa Dibanggakan MOJOK.CO

Ilustrasi - Tuban makin metropolitan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Harus diakui Tuban, Jawa Timur mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Tidak berlebihan jika kemudian di media sosial banyak yang menyebut Tuban semakin metropolitan. Terutama di Tuban Kota-nya.

Hanya saja, di tengah ingar-bingar dan gemerlap Kota Tuban tersebut, nyatanya masih ada saja orang-orang yang merasa tak puas: menganggap bahwa meskipun makin metropolitan, tapi Tuban masih tak bisa dibanggakan.

***

Memasuki hari ketiga Lebaran, seorang teman mengajak saya untuk meluncur ke Tuban. Pertama, ia ada urusan halal bihalal dengan rekan bisnis jual beli rumah kuno. Kedua, sekalian ia ingin mengusir rasa suntuk, mengajak saya berenang di Bektiharjo, sebuah pemandian alam yang ada di Tuban.

Singkat cerita, kami baru hendak pulang selepas Magrib. Teman saya lalu mengarahkan mobilnya ke jalur dalam (Tuban Kota). Mengingat, Tuban Kota adalah pusat kuliner dan jajanan kaki lima. Kami mengincar itu untuk berhenti mengganjal perut.

“Coba lewat Taman Hutan Kota, jadinya kayak apa ya?” ujar teman saya sembari menyisir jalan menuju titik yang ia maksud.

Gemerlap Tuban di malam hari

Saat melintasi Tuban pada pertengahan Januari 2024 lalu, saya sempat berhenti di Taman Hutan Kota Tuban, menyelonjorkan kaki di sebuah area berumput sintetis. Hanya saja, saat itu Taman Hutan Kota masih dalam masa revitalisasi dan belum selesai. Jadi masih belum kelihatan bagaimana hasil finalnya.

Nah, di hari ketika saya dan teman saya melintas itu, Taman Hutan Kota Tuban sudah banjir pengunjung. Deretan mobil dan motor memenuhi area parkir taman. Areanya luas dan hijau. Ada semacam play ground untuk anak-anak.

Dulu suasana di sepanjang jalan Taman Hutan Kota Tuban cukup gelap dan lengang, tapi sekarang sudah dipenuhi lampu-lampu yang berpijar. Suasananya pun cukup riuh.

“Alun-Alun Lasem (Rembang) yang dulu katanya desainnya keren, kalah jauh lah sama ini,” celetuk teman saya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by #MelihatTubanDariDekat (@tubanbanget)

Kejutan masih berlanjut ketika memasuki jalanan dalam kota. Saya seperti tak mengenali Tuban Kota lagi. Padahal selama enam tahun selalu saya lewati tiap perjalanan Rembang-Surabaya (dan sebaliknya).

Iklan

Tuban begitu gemerlap. Outlet FnB bertebaran. Coffee shop menjamur. Pokoknya outlet-oulet penunjang life style berderet di sana-sini. Mayoritas baru. Karena dulu saya tak pernah melihatnya.

Jalanan Tuban rusak bikin malu

Saya lalu mengontak seorang teman yang asli Tuban, Imran (26). Ia sependapat dengan saya dan banyak orang lain bahwa Tuban makin gemerlap dan metropolitan. Yang mana itu memudahkan orang Tuban sendiri dalam mengakses banyak hal.

“Misal, dulu nggak ada bioskop sekarang ada. Kan enak. Dulu nggak ada outlet fashion brand ternama, sekarang ada.” tutur Imran, Sabtu, (13/4/2024).

Namun, entah kenapa Imran masih belum menganggapnya sebagai pencapaian yang bisa dibanggakan. Pasalnya, setiap kali ia berbincang dengan orang luar Tuban dan pernah melintas di Tuban, kesannya mesti buruk.

Hal pertama yang pasti di-notice oleh orang luar Tuban, kata Imran, tidak lain tidak bukan adalah perihal jalanan Tuban yang masih banyak yang rusak dan bergelombang.

“Nggak cuma jalan nasional ya, jalan-jalan di beberapa titik di Tuban masih bergelombang. Menyebalkan sekali buat pengendara,” ucap Imran.

Bagi Imran, gemerlapnya Tuban Kota dan revitalisasi fasilitas publik di sana justru semakin menunjukkan ketimpangan pembangunan di Tuban. Sebab, jika sudah keluar dari Tuban Kota, baik ke arah barat maupun timur, akan terlihat pemandangan yang berlawanan: daerah-daerah di Tuban dengan kondisi memprihatinkan.

Lapangan kerja minim

Imran sendiri bukannya tak menerima perkembangan Tuban seandainya kelak benar-benar menjadi semetropolis Surabaya (misalnya). Namun, gelar kota metropolitan untuk saat ini agaknya tidak pas Tuban sandang.

“Kalau metropolitan, harusnya cari kerja dengan gaji UMR Tuban (Rp2,9 juta) gampang di sini. Tapi nyatanya, orang Tuban apalagi yang dari desa seperti saya tetap merantau juga ke Surabaya,” keluh Imran.

Tuban memang memiliki dua pabrik semen besar, Dynamix dan Semen Gresik. Tapi tentu tak menyerap tenaga kerja dari orang Tuban sendiri secara merata. Selebihnya kalau tidak jadi pedagang, karyawan outlet, atau malah jadi honorer bergaji kecil.

Untuk menjadi karyawan outlet pun bahkan terasa sulit karena tentu persaingannya tinggi sekali.

“Kalau untuk sektor-sektor vital misalnya pegawai pemerintahan di Tuban, ya apalagi. Malah makin sulit,” sambung Imran.

Baca halaman selanjutnya…

Nggak punya kampus elite

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 17 April 2024 oleh

Tags: Jawa Timurlapangan kerja tubanlowongan kerja tubanpabrik semen tubanpilihan redaksitaman hutan kota tubanTubanunirowwisata di tuban
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kos di Jogja
Catatan

Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari

19 Februari 2026
Motor Vespa Matic Primavera 150 warna hijau toska
Sehari-hari

Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu

19 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Catatan

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
PGPAUD, Guru PAUD.MOJOK.CO
Edumojok

Nekat Kuliah di Jurusan PGPAUD UNY demi Wujudkan Mimpi Ibu, Setelah Lulus Harus ‘Kubur Mimpi’ karena Prospek Kerja Suram

19 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cara Gen Z memulihkan hati dengan lari dan menanam bibit pohon lewat program OAOT. MOJOK.CO

Obati Patah Hati dengan Lari 176 km: Cara Gen Z Menebus Dosa Lingkungan Sambil Jadi Pelari Kalcer

14 Februari 2026
Layung Senja: meditasi melepas kepenatan di kawasan wisata Candi Borobudur, Magelang MOJOK.CO

Layung Senja: Meditasi Lepas Penat di Kawasan Candi Borobudur, Mendengar Suara Alam yang Kerap Terabaikan

15 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Masjid Menara Kudus yang dibangun Sunan Kudus. MOJOK.CO

Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus

19 Februari 2026
Pekerja Jakarta merenung di hutan kota GBK.MOJOK.CO

Hutan Kota GBK Tempat Merenung Terbaik Para Pekerja SCBD Jakarta, Obat Stres Termanjur Meski Kadang Kesal dengan Kelakuan Pengunjungnya

18 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.