Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Mahasiswa Asal Papua Cerita Beratnya Jalani Puasa 16 Jam di Amerika Serikat sebagai Minoritas

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
1 Maret 2025
A A
Puasa Ramadan di Amerika Serikat. MOJOK.CO

ilustrasi-bule ikut berpuasa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai seorang muslim yang tinggal di Amerika Serikat (AS), Wulida Wahidatul Masruria (26) mengaku memiliki tantangan tersendiri saat tinggal di Boston, AS. Kehidupan di sana, kata dia, berbanding terbalik dengan kehidupan di Indonesia. Apalagi, suasana saat puasa Ramadan. 

***

Wulida baru menyelesaikan kuliah S2-nya di Boston University, Amerika Serikat pada Mei 2024 lalu. Namun, ia belum bisa pulang ke Indonesia. Perempuan asal Sorong, Papua Barat itu harus menyelesaikan academic training-nya di negara Paman Sam tersebut selama dua tahun.

Mojok pernah menuliskan perjuangan Wulida mendapatkan beasiswa dan kuliah S2 di Boston University. Berita selengkapnya bisa dibaca di sini.

Meskipun sudah tiga kali menjalankan puasa Ramadan di Amerika Serikat, Wulida mengaku masih merindukan suasana puasa di Indonesia. Suara azan yang berkumandang bersahut-sahutan dari corong masjid, masyarakat yang membagikan takjil di jalan, hingga buka puasa bersama keluarga. Budaya-budaya yang sulit ia jumpai di AS.

Tidak ada suara azan melalui toa masjid di Amerika Serikat

Di Indonesia, suara azan selalu menggema melalui pengeras suara. Bahkan suaranya bisa bersahut-sahutan dan terjadi lima kali dalam sehari, sesuai jadwal salat. Sampai-sampai, Kementerian Agama membuat peraturan tentang penggunaan pengeras suara tersebut agar tidak mengganggu kenyamanan masyarakat, terutama bagi yang tidak berpuasa dan beragama non-muslim.

Suara yang dikeluarkan harus memperhatikan lingkungan sekitar, setidaknya volume yang dihasilkan tidak menimbulkan bising dan berdengung. Begitu juga syarat muazin atau orang yang mengumandangkan azan, salah satu syaratnya harus bersuara merdu. Suara-suara itu yang kini jarang dijumpai oleh Wulida di Amerika Serikat.

Wulida ke Amerika Serikat. MOJOK.CO
Wulida berfoto di depan papan Boston University, Amerika Serikat. (Sumber: Wulida W Ria/Mojok.co)

“Mereka ada azan sih, tapi nggak pakai pengeras suara yang sampai keluar. Jadi kalau misal mau salat ya kita harus pasang aplikasi salat sendiri di gawai,” ucapnya, Sabtu (1/3/2/2025).

Saat itu pula keimanan Wulida diuji. Ia harus punya inisiatif dan kemandirian untuk melaksanakan salat lima waktu. Belum lagi, Amerika Serikat memiliki puasa selama 16 jam saat Ramadan.

Meski menjadi minoritas di negara Paman Sam, Wulida mengaku tidak pernah diskriminasi sebagai muslim. Amerika Serikat memang terkenal dengan sistem demokrasi liberalnya. Di mana, masyarakatnya mendapatkan kebebasan yang luas.

“Alhamdulillah sejauh ini saya aman, tidak ada kesulitan,” kata dia.

Teliti membeli makanan halal

Satu hal yang ia pelajari saat tinggal di Amerika Serikat adalah memilah dan memilih makanan di pasar. Ia harus jeli melihat bahan makanan tersebut, karena beberapa makanan tak tersedia label halal.

“Kalau di Indonesia kan kebanyakan makanan halal. Di sini, banyak yang nggak halal jadi harus hati-hati dan membaca bahannya,” ucap Wulida.

Selain mempertimbangkan bahan makanan, ia juga harus mampu berhemat karena barang-barang yang dijual di Amerika Serikat terbilang mahal jika dibandingkan di Indonesia.

Iklan

“Pokoknya kalau mau beli apa-apa jangan dikurskan ke Indonesia deh. Bakal nggak rela jadinya kalau beli sesuatu,” kata dia.

Idul Fitri di Boston. MOJOK.CO
Idul fitri di Amerika Serikat tahun 2024. (Dok. Pribadi)

Semasa kuliah S2, Wulida mengenal komunitas Boston Islamic Seminary, sebuah komunitas di Amerika yang membina generasi pemimpin muslim. Dari sana, Wulida merasa mendapatkan keluarga baru.

Ia menyadari bahwa ada banyak keberagaman yang unik karena anggotanya terdiri dari orang muslim yang tinggal di berbagai negara, seperti Afrika, Somalia, Maroko, India, Pakistan, dan lain-lain. Tak hanya itu, Wulida juga sering berbagi cerita dengan mereka.

“Mereka biasa ngasih tahu, ada tempat makanan halal yang lebih murah, dan sebagainya. Kami juga sering mengadakan iftar gratis,” ucap Wulida.

Selain bulan Ramadan, komunitas tersebut sering mengadakan pertemuan sebulan sekali. Kadang-kadang, mereka mengadakan acara makan-makan sembari mengaji bersama. Wulida paling suka kegiatan tersebut, karena dapat melepas rindu dengan makanan Indonesia.

Tahun ini, Wulida belum bisa pulang ke Indonesia selama puasa. Beasiswa LPDP memberikannya kesempatan untuk mencari pengalaman dan menambah networking, maksimal dua tahun setelah masa studi sehingga ia harus menjalankan ibadah puasanya di sana.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tip Tap Toe: Restoran di Jogja yang Sajikan Perpaduan Masakan Nusantara-Mancanegara, Bisa Masuk List Tempat Buka Puasa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 4 Maret 2025 oleh

Tags: amerika serikatbudaya puasapuasa di luar negeripuasa ramadantakjil gratistinggal di luar negeri
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO
Edumojok

Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO
Edumojok

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
penerima beasiswa LPDP menderita. MOJOK.CO
Kampus

Sulitnya Jadi Mahasiswa Penerima Beasiswa LPDP, Dituntut Banyak Ekspektasi padahal Nggak Bahagia di Luar Negeri

25 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi MOJOK.CO

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

26 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.